Purwokerto, mediaperkebunan.id – Harga kelapa di pasar global terus mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir ini. Dua tetangga Indonesia, yaitu Malaysia dan Filipina, pun merasakan dampaknya dan mengalami gangguan pasokan untuk kebutuhan dalam negeri.
Pihak Malaysia sendiri, menurut Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, seperti dikutip Media perkebunan.id dari laman berita Antara, Jumat (2/5/2025), mulai melakukan pengetatan terhadap ekspor kelapa ke berbagai negara agar pasokan dalam negeri tidak terganggu.
Hal itu diungkapkan oleh Bupati Sadewo Tri Lastiono saat mendampingi Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto, dan Wamendes PDT Ahmad Riza Patria.
Bupati Banyumas itu mendampingi dua menteri dan satu Wamen itu dalam acara pelepasan ekspor gula semut berbasis kelapa yang diproduksi oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kabul Ciptaku, Desa Langgongsari, Kecamatan Cilongok, Kamis (1/5/2025).
Turut hadir dalam acara itu Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono, Direktur Jendral (Dirjen) Pengembangan Ekspor Nasional Fajarini Puntodewi, anggota Komisi V DPR RI Yanuar Arif Wibowo, para pengurus BUMDes Kabul Ciptaku, serta manajemen CV Java Agro Mandiri yang menjadi mitra ekspor.
Menurut perwakilan BUMDes Kabul Ciptaku, seperti dikutip Mediaperkebunan.id dari laman Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jumat (2/5/2025), jumlah gula semut kelapa yang diekspor sebanyak 18,5 ton dan bernilai USD 35.000 atau setara Rp 586,4 juta.
Sebagai agregator dan mitra ekspor, CV Java Agro mandiri juga disebutkan bakal membantu proses ekspor gula semut kelapa yang diproduksi BUMDes Kabul Ciptaku ke negara lainnya yaitu Spanyol, Yunani, Australia, dan Afrika Selatan.
Agregator ini diketahui telah bekerja sama dengan Kemendag sejak tahun 2021 yang lalu melalui Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Budapest dalam mencari buyer atau pembeli setempat yang dinilai potensial.
Terkait ini, ITPC Budapest yang berada di bawah naungan Kemendag telah membantu mencari dan memvalidasi kredibilitas buyer sehingga BUMDes Kabul Ciptaku berhasil menembus pasar Hungaria.
Kembali ke Bupati Banyumas, disebutkan bahwa Malaysia juga mulai melarang ekspor gula semut atau gula putih berbasis kelapa beberapa waktu yang lalu.
Bupati Sadewo Tri Lastiono menilai dengan adanya larangan ekspor gula kristal kelapa tersebut menjadi sumber cuan atau keuntungan yang bisa diperoleh karena sebelumnya negara itu menjadi pesaing bagi Indonesia.
“Mereka (Malaysia) mengolah dan menjadikan kelapa dengan nilai yang tentunya lebih tinggi. Tetapi kalau di sini agak susah karena (kelapa) itu panennya enggak setiap hari,” kata Bupati.
“Kalau nira dari kelapa biasanya pada waktu pagi dan sore panen. Itu yang susah kita mengubah kebiasaan petani kelapa di Kabupaten Banyumas ini,” katanya menjelaskan.
Bupati Sadewo, seperti dimuat di laman resmi Pemkab Banyumas, juga menyampaikan bahwa Banyumas memiliki potensi besar di berbagai sektor, termasuk pertanian, dengan gula kelapa sebagai salah satu komoditas unggulan.
“Sepanjang tahun 2024, Banyumas berhasil mengekspor sebanyak 5.342,10 ton gula kelapa ke negara-negara seperti Amerika dan Eropa,” kata Bupati Sadewo Tri Lastiono.
Berdasarkan data, kata dia, 90 persen kebutuhan gula kelapa kristal dunia saat ini dipasok dari Indonesia.
“Dan 80 persen di dalam 90 persen itu adalah dari Kabupaten Banyumas dan sekitarnya, Purbalingga, Kebumen, Cilacap. Tetapi yang paling besar dari Kecamatan Cilongok,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa ekspor gula semut berbasis kelapa oleh BUMDes Kabul Ciptaku bukan hanya kegiatan ekonomi biasa, tetapi simbol kolaborasi nyata.
“Khususnya antara masyarakat desa, pemerintah, dan dunia usaha dalam membangun ekonomi desa yang mandiri dan berdaya saing global,” ucap Bupati Banyumas.
Menanggapi paparan Bupati Banyumas, Mendag Busan bilang apa yang dilakukan Malaysia membuat Indonesia menjadi satu-satunya sumber atau pemasok utama kelapa dan produk turunannya ke pasar global
“Oleh karena sumber utamanya dari Indonesia, maka Kemendag bersama jejaringnya di luar negeri bisa melakukan negosiasi untuk menaikkan harga produk turunan kelapa,” ucap Mendag Busan.
Sementara itu Mendes PDT, Yandri Susanto, bilang kalau Indonesia menghentikan ekspor kelapa, maka pihak asing enggak bisa minum kopi atau pun menikmati penganan yang membutuhkan gula semut kelapa.
“Kalau kita setop (ekspor produk turunan kelapa ) mereka enggak bisa ngopi. Kalau kita setop, mereka enggak bisa bikin kue dan sebagainya,” ucap Mendes PDT Yandri Susanto.
“Maka (situasi yang terjadi di pasar global saat) ini menjadi peluang bagi kita, ini usul dari Pak Wamendes tadi, bagus sekali, harga naik, insya Allah petani sejahtera,” tegas Mendes Yandri Susanto.