Jakarta, mediaperkebunan.id – Ketua Umum Himpunan Pengusaha Sabut Kelapa Indonesia (HIPSKI), Cepi Mangkubumi minta supaya peta jalan kelapa yang disusun Bappenas sebagai cetak biru pembangunan industri kelapa termasuk hilirisasi sabut kelapa tahun 2025-2045 bisa segera dieksekusi.
Hal ini dinyatakan Cepi pada webinar “Potensi Hilirisasi Kelapa : Menciptakan Nilai Tambah Melalui Produk Turunan Kelapa” sebagai persiapan ICCE (Indonesia Coconut Conference and Exposition) 2026 tanggal 10-11 Juli di Hotel Adimulia Medan.
“Kami berharap pada ICCE 2026 peta jalan ini kembali di tagih dan dllaksanakan oleh semua pemangku kepentingan. Kalau tidak maka akan jadi wacana terus padahal potensi hilirisasi sabut kelapa ini sangat besar dan berdampak ekonomi dan nilai tambah yang besar juga,” kata Cepi.
Contoh produk jadi yang bisa dioptimalkan dan bersifat padat karya adalah coir geotekstil (pengendali erosi tanah). Produk ramah lingkungan yang terbuat dari serabut kelapa. Secara luas digunakan untuk program bioengineering tanah dan stabilisasi lereng.
Sangat baik karena mempunyai kekuatan mekanik yang diperlukan untuk menyatukan tanah. Pada saat terdegredasi mengubah diri jadi humus yang memperkaya tanah. Masalahnya industri banyak di Jawa sedang pasar di luar Jawa sehingga biaya logistik tinggi.
Produk lainnya adalah coir shade, peneduh alami dan ramah lingkungan untuk luar ruangan, menawarkan manfaat fungsional dan daya Tarik estetika. Keutamannya adalah mampu memberikan 70-80% perlindungan dari sinar matahari tetapi dapat mempertahankan aliran udara dengan baik.
Digunakan untuk dekorasi perumahan (taman, tepi kolam), ruang komersial dan publik (café, restoran, hotel), taman dan tempat bermain, fasilitas olahraga, institusi Pendidikan, acara dan pameran. Ramah lingkungan dibanding paranet plastik yang selama ini banyak digunakan.
Cepi merupakan pengusaha dengan produk ini dan mengekspor ke Spanyol, Belgia, Perancis , Korea Selatan juga pasar dalam negeri. Produksi selain tenaga kerja di pabrik juga melbatkan warga binaan di Lapas Garut dan Cirebon.
Sabut kelapa juga bisa digunakan untuk industri matras dan otomotif. Pabrik mobil listrik yang dibangun di Indonesia harus didorong menggunakannya. Untuk itu perlu ada dukungan pemerintah.
Sabut kelapa juga bisa digunakan untuk hunian berkelanjutan dengan material berbasis biomassa. Produk green building ini permintaanya tumbuh 12,3 %/tahun dari tahun 2024-2029.
Kebijakan pendukung untuk menarik investor masuk ke industri sabut kelapa adalah : tax holiday atau tax allowance untuk investasi baru; pembebasan bea masuk impor mesin dan peralatan produksi; subsidi bunga atau kredit investasi jangka panjang; dukungan pembangunan infrastruktur di kawasan industri; hibah untuk riset, inovasi dan sertifikasi produk; insentif bagi perusahaan yang bermitra dengan petani; fasilitasi sertifikasi internasional dan promosi ekspor.
Indonesia adalah raksasa kelapa yang masih tertidur, terjadi kesenjangan antara kelimpahan bahan baku dan rendahnya utilisasi. Sabut kelapa mencapai 35% dari total berat buah kelapa. Dari 3,2 juta ha luas kelapa hanya 10-15% yang sabutnya dimanfaatkan.
Potensi ekonomi USD320 juta menanti diaktivasi. Produk turunan 1 yaitu coco fiber potensi volume 1,64 juta ton atau 91.500 kontainer 40 HS coco peat 24,7 juta ton atau 85.500 kontainer. Limbah yang terserap diatas 90% sehingga terjadi efisiensi maksimal. Potensi produk turunan 2 jadi USD713 juta dan produk turunan 3 USD1.300 juta.