Jakarta, mediaperkebunan.id – Roemah Kelapa Indonesia (RoeKI) bersiap membawa gagasan besar dalam ajang internasional International Coconut Conference & Exhibition atau IICCE 2026 pada 8 – 11 Juli mendatang di Medan, Sumatera Utara. Melalui forum ini, RoeKI berkomitmen mendorong transformasi industri kelapa nasional yang berkelanjutan (sustainable) dan berkeadilan bagi petani.
Ketua Umum RoeKI, Galih Batara Muda, mengungkapkan bahwa isu keadilan (fairness) adalah kunci utama transformasi. RoeKI menyoroti empat tantangan kronis petani: tinggi tirani harga, ketergantungan tengkulak, minimnya nilai tambah produk hulu, dan absennya standar grading yang transparan.
“IICCE 2026 adalah momentum membangun komitmen global. Transparansi rantai pasok dan keadilan harga harus berjalan seiring dengan investasi,” ujar Galih. Sebagai solusi, RoeKI menerapkan sistem 7 kelas grading mutu dan edukasi via Coco Academy.
Di panggung dunia, RoeKI menawarkan kerangka keberlanjutan yang terukur dan dapat diaudit, bukan sekadar label pemasaran. Standar ini mencakup agronomis, ekonomi, lingkungan, dan kelembagaan.
Guna mempercepat swasembada, RoeKI mengintegrasikan 5 Pilar Strategis: RoeKI sebagai orchestrator, akademisi, kelembagaan tani, teknologi modern, dan impact investor.
Sinergi ini disiapkan untuk menyokong program hilirisasi Kementerian Pertanian. RoeKI mendorong penguatan teknologi kultur jaringan dan mendesak pembuatan sistem data benih nasional yang sinkron dengan karakteristik lahan serta proyeksi pasar industri lima tahun ke depan.
Melalui IICCE 2026, RoeKI membidik perluasan Indonesian Coconut Core Team, investasi offtake, serta alih teknologi untuk memperkokoh posisi Indonesia sebagai pusat industri kelapa dunia tanpa mengesampingkan kesejahteraan petani.
Selain forum diskusi bersama RoeKI, International Coconut Conference & Exhibition (IICCE) 2026 akan menyuguhkan pameran teknologi berskala internasional. Eksibisi ini mempertemukan korporasi lokal dan multinasional untuk memamerkan inovasi mesin pengolahan modern, alat perkebunan mutakhir, sistem pengemasan, produk turunan hilir, hingga solusi rantai pasok global.
Sinergi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, pebisnis, akademisi, dan investor dunia ini dirancang untuk menarik investasi baru, mempercepat transfer teknologi, serta memperluas jaringan pasar ekspor.
Dalam jangka panjang, IICCE 2026 mengemban misi strategis merevitalisasi sektor perkelapaan domestik. Melalui penguatan inovasi dan kemitraan global, industri kelapa Indonesia ditargetkan mampu mendongkrak produktivitas sekaligus meningkatkan daya saing di pasar internasional.