Dari Ruang Kelas ke Kebun, Pekebun Aceh Singkil Praktik Langsung Budidaya Sawit yang Tepat dalam program SDM PKS BPDP

Dari Ruang Kelas ke Kebun, Pekebun Aceh Singkil Praktik Langsung Budidaya Sawit yang Tepat dalam program SDM PKS BPDP

Medan, mediaperkebunan.id – Memahami teori saja belum cukup untuk meningkatkan produktivitas kebun kelapa sawit. Atas dasar itu, Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDM PKS) tidak hanya menghadirkan pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga praktik lapangan agar peserta dapat melihat dan menerapkan secara langsung teknik budidaya yang benar.

Sebanyak 93 pekebun kelapa sawit swadaya asal Kabupaten Aceh Singkil mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh PT Koompasia Enviro Institute pada 6–11 Juli 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program SDM PKS yang didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).

Selama 48 jam pelajaran, peserta dibagi ke dalam tiga angkatan yang masing-masing terdiri atas 31 orang. Selain mengikuti pembelajaran di Hotel AIHO Medan, seluruh peserta juga menjalani praktik lapangan di Verdant Bioscience PT Timbang Deli Indonesia.

Pada sesi praktik lapangan, peserta tidak hanya mengamati, tetapi juga mempraktikkan berbagai teknik budidaya kelapa sawit yang selama ini dipelajari di kelas. Mulai dari identifikasi kondisi lahan, pengamatan pertumbuhan tanaman, teknik pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM), hingga pengenalan prinsip pemupukan dan pengelolaan kebun yang efektif.

Master Trainer PT Koompasia Enviro Institute, Ahmat Jani  Pasaribu, menjelaskan bahwa praktik lapangan menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran karena membantu peserta memahami penerapan materi secara nyata.

“Banyak peserta yang sebenarnya sudah bertahun-tahun berkebun sawit, tetapi belum pernah mendapatkan penjelasan secara sistematis mengenai alasan di balik setiap tindakan budidaya. Melalui praktik lapangan, mereka dapat melihat langsung bagaimana teknik yang benar diterapkan dan mengapa hal tersebut berpengaruh terhadap produktivitas tanaman,” jelas Jani.

Menurutnya, pendekatan belajar melalui praktik juga membuat peserta lebih mudah mengingat materi dibandingkan hanya menerima teori di dalam kelas.

Direktur PT Koompasia Enviro Institute, Henry Marpaung, mengatakan bahwa kombinasi antara teori dan praktik merupakan bagian dari desain pelatihan agar ilmu yang diberikan benar-benar dapat diterapkan setelah peserta kembali ke daerah masing-masing.

“Tujuan kami bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi memastikan peserta memahami cara menerapkannya di kebun. Karena itu, praktik lapangan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan proses pembelajaran,” ujar Henry.

Salah seorang peserta, Septu , mengaku praktik lapangan menjadi pengalaman yang paling berkesan selama mengikuti pelatihan.

“Saat berada di lapangan kami bisa langsung bertanya mengenai kondisi yang sering kami hadapi di kebun. Penjelasan dari para trainer sangat mudah dipahami karena langsung disertai contoh nyata. Ini membuat kami lebih percaya diri untuk menerapkannya setelah pulang,” katanya.

Program SDM PKS merupakan salah satu upaya pemerintah melalui BPDP dan Direktorat Jenderal Perkebunan dalam meningkatkan kapasitas pekebun kelapa sawit Indonesia. Melalui pelatihan yang memadukan teori, diskusi, dan praktik lapangan, diharapkan lahir semakin banyak pekebun yang mampu menerapkan teknik budidaya secara tepat sehingga produktivitas kebun meningkat tanpa harus melakukan perluasan lahan.

Pelatihan resmi ditutup pada 11 Juli 2026. Seluruh peserta diharapkan menjadi agen perubahan di daerah masing-masing dengan menerapkan sekaligus menyebarluaskan praktik budidaya kelapa sawit yang baik, efisien, dan berkelanjutan kepada sesama pekebun.