IICCE 2026, Kupas Strategi Pengembangan Kelapa Berbasis Rakyat

IICCE 2026, Kupas Strategi Pengembangan Kelapa Berbasis Rakyat

Jakarta, mediaperkebunan.id – Industri kelapa berbasis rakyat di Indonesia bersiap memasuki babak baru transformasi ekonomi. Strategi Pengembangan Kelapa Berbasis Rakyat yang berfokus pada peremajaan kebun-kebun tua, pembenahan kelembagaan kelompok tani, serta percepatan hilirisasi produk turunan kini menjadi prioritas utama. Langkah ini dinilai strategis untuk mendongkrak kesejahteraan petani sekaligus memperkuat fondasi ekonomi di wilayah perdesaan.

Pembahasan krusial tersebut bakal dikupas tuntas dalam ajang internasional Indonesian International Coconut Conference & Exhibition (IICCE) 2026. Gelaran bergengsi yang diinisiasi oleh Media Perkebunan ini dijadwalkan berlangsung pada 8 hingga 11 Juli 2026 mendatang di Medan, Sumatera Utara.

Salah satu pembicara yang akan hadir adalah Prof. Dr. Ir. H. Nelson Pomalingo, perwakilan dari Koalisi Pemerintah Kabupaten Penghasil Kelapa Indonesia.. Dalam menjalankan strategi pengembangan kelapa berbasis rakyat dibutuhkan sinergi nyata untuk menyelamatkan dan mengembangkan komoditas kelapa rakyat yang selama ini menjadi tumpuan jutaan jiwa.

Sejalan dengan itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, peremajaan kebun menjadi kunci dalam mengatasi stagnasi produktivitas kelapa nasional yang selama ini membebani petani, tanpa kebun yang produktif, hilirisasi tidak akan berjalan optimal. 

“Kelapa adalah komoditas rakyat yang melibatkan jutaan petani. Pondasinya harus dibenahi dulu, mulai dari kebunnya. Setelah itu, pengembangan harus dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir agar benar-benar memberi nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan petani.” Ujar Mentan Amran. (Dikutip dari pertanian.go.id 22/01/2026)

Langkah konkret seperti penanaman kembali (peremajaan) pohon kelapa yang sudah tidak produktif dan penguatan kapasitas kelembagaan petani tidak bisa ditunda lagi. Kita harus mendorong petani agar tidak hanya menjual kelapa butiran, melainkan mampu mengolahnya menjadi produk bernilai tambah tinggi seperti santan, Virgin Coconut Oil (VCO), hingga briket arang. Inilah kunci utama untuk memutus rantai kemiskinan di sentra perkebunan.

Selain forum diskusi dan seminar, IICCE 2026 juga akan menyuguhkan pameran skala besar. Berbagai perusahaan multinasional dan lokal terkemuka akan membuka booth untuk memamerkan inovasi terkini. Mulai dari teknologi manufaktur, mesin pengolahan modern, alat-alat perkebunan, produk siap konsumsi berbasis kelapa, sistem pengemasan canggih, hingga industri pendukung rantai pasok kelapa global.

Ajang ini diproyeksikan menjadi platform internasional yang mempertemukan jajaran pemerintahan, pelaku industri, peneliti, investor, serta pemangku kepentingan global. Melalui ruang kolaborasi ini, Indonesia membidik peluang investasi baru, transfer teknologi, serta perluasan akses pasar internasional.

Pada akhirnya, IICCE 2026 membawa misi besar untuk mendukung penuh revitalisasi industri kelapa domestik. Melalui inovasi dan kemitraan yang berkelanjutan, sektor kelapa nasional diharapkan mampu meningkatkan produktivitasnya, memiliki daya saing yang tinggi, serta sukses mendominasi pasar global.