Medan, mediaperkebunan.id – Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan industri kelapa, baik dari sisi hulu hingga hilir. Namun, perhatian pelaku usaha dalam negeri terhadap komoditas ini dinilai masih perlu terus didorong agar mampu bersaing dengan negara produsen kelapa lainnya. Upaya tersebut menjadi salah satu alasan digelarnya 1st Indonesian International Coconut Conference & Exposition (IICCE) 2026 yang akan berlangsung pada 8–11 Juli 2026 di Medan, Sumatera Utara. Kegiatan IICCE 2026 ini hadir sebagai forum internasional untuk mempertemukan pelaku industri, investor, peneliti, hingga pemangku kepentingan dalam memperkuat rantai nilai kelapa Indonesia.
Sekjen P3PI, Hendra J. Purba, mengatakan antusiasme terhadap kegiatan ini justru banyak datang dari pelaku industri luar negeri. Sejumlah pihak internasional melihat Indonesia sebagai negara dengan potensi kelapa yang sangat besar untuk dikembangkan.
“Yang menarik, justru banyak dari luar negeri yang menunjukkan minat besar terhadap kelapa Indonesia. Mereka melihat peluangnya sangat luas, mulai dari produk turunan sampai teknologi pengolahan. Tetapi di dalam negeri sendiri, khususnya pengusaha yang fokus di sektor kelapa, jumlahnya masih belum sebanyak yang kita harapkan,” ujar Hendra, Selasa (9/6/26).
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia. Sebagai negara tropis dengan sumber daya kelapa melimpah, Indonesia tidak boleh hanya menjadi penyedia bahan baku, tetapi harus mampu memperkuat industri hilir yang menghasilkan nilai tambah lebih besar.
“Melalui IICCE 2026 kita ingin membangun kesadaran bahwa kelapa ini punya masa depan besar. Jangan sampai negara lain lebih cepat menangkap peluang, sementara kita sebagai pemilik sumber daya justru tertinggal,” tambahnya.
Menariknya, penyelenggaraan IICCE 2026 juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan 4th Technology Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) 2026. Kolaborasi tersebut menunjukkan dukungan ekosistem perkebunan yang lebih luas dalam mendorong kemajuan komoditas strategis nasional.
Hendra menjelaskan, industri kelapa sawit yang telah lebih dulu berkembang turut mengambil peran dalam mendukung penguatan industri kelapa melalui skema dukungan dan subsidi silang penyelenggaraan kegiatan.
“Bisa dikatakan kegiatan kelapa ini mendapat dukungan dari ekosistem sawit. Industri sawit sudah berkembang besar, dan sekarang ikut membantu agar kelapa Indonesia juga bisa naik kelas. Semangatnya bukan bersaing, tetapi bersama-sama membangun kekuatan komoditas perkebunan Indonesia,” jelas Hendra.
Ia berharap IICCE 2026 dapat menjadi momentum lahirnya lebih banyak investasi, inovasi teknologi, serta pengusaha baru di sektor kelapa, terutama untuk memperkuat industri pengolahan dalam negeri.
“Target akhirnya adalah bagaimana kelapa Indonesia tidak hanya dikenal sebagai komoditas tradisional, tetapi menjadi industri modern yang mampu menghasilkan produk bernilai tinggi dan bersaing di pasar global,” tutupnya.
Dengan mengangkat tema “Stepping Forward to Revitalize Indonesian Coconut Upstream and Downstream Industries”, IICCE 2026 diharapkan menjadi langkah awal revitalisasi industri kelapa nasional dari sektor hulu hingga hilir.