Langkat, mediaperkebunan.id – Rangkaian 1st International Coconut Conference & Exposition (IICCE) 2026 yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (P3PI) bersama Media Perkebunan ditutup dengan kegiatan field trip ke Kebun Kelapa Genjah Pandan Manis milik Ramon Gromico di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, pada Sabtu (11/7/2026). Sebanyak 67 peserta dari Indonesia maupun mancanegara mengikuti kunjungan lapangan untuk melihat secara langsung budidaya varietas kelapa aromatik unggulan yang memiliki prospek besar sebagai sumber benih sekaligus komoditas bernilai ekonomi tinggi.
Mengawali kegiatan, Pemimpin Umum Media Perkebunan, Ir. Bambang, M.M., menyampaikan apresiasi kepada Ramon Gromico beserta keluarga dan jajarannya atas komitmen mereka dalam mengembangkan Kelapa Genjah Pandan Manis hingga akhirnya ditetapkan sebagai kebun sumber benih bersertifikat di Indonesia.
Bambang mengaku terkesan dengan sambutan yang diberikan kepada seluruh peserta field trip IICCE 2026 melalui suguhan air Kelapa Genjah Pandan Manis yang memiliki cita rasa manis dan aroma pandan yang khas. “Terima kasih atas penyambutan yang sangat manis dengan air kelapa. Semua peserta sudah mencicipinya dan tidak ada yang mengatakan kelapanya tidak manis,” ujarnya.
Menurut Bambang, keberhasilan pengembangan kebun benih tersebut tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui proses panjang yang dimulai jauh sebelum varietas tersebut memperoleh pengakuan resmi. Ia menyebut Ramon telah mempersiapkan kebun ini sejak sekitar tahun 2005, sehingga ketika kebutuhan benih kelapa mulai meningkat, kebun tersebut telah siap menjadi salah satu sumber benih unggul nasional. “Pak Ramon dan keluarga sudah jauh lebih dulu mempersiapkan kebun ini. Ketika sekarang Indonesia bahkan dunia sedang membutuhkan benih kelapa, kebun ini sudah siap memberikan kontribusi,” katanya.
Ia juga menyoroti besarnya antusiasme peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri, seperti India, Vietnam, Tiongkok, dan sejumlah wilayah di Pulau Jawa, yang datang khusus untuk memperoleh informasi mengenai Kelapa Genjah Pandan Manis sekaligus peluang mendapatkan benih berkualitas.
Menurut Bambang, kondisi tersebut menunjukkan bahwa prospek pengembangan varietas ini sangat besar. Meski menjual buah kelapa muda sudah memberikan keuntungan ekonomi yang tinggi, ia menilai penyediaan benih unggul akan memberikan manfaat yang jauh lebih luas bagi perkembangan industri kelapa nasional.
“Dengan keikhlasan Pak Ramon menjadikan kebun ini sebagai kebun benih melalui kerja sama dengan Direktorat Jenderal Perkebunan dan BRIN, manfaatnya akan jauh lebih besar dibandingkan hanya menjual buah kelapanya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa berbagai pihak, baik dari instansi pemerintah, lembaga penelitian, maupun sektor swasta, siap memberikan dukungan agar pengembangan Kelapa Genjah Pandan Manis terus berkembang dan mampu memenuhi kebutuhan benih berkualitas di Indonesia.
Dalam kunjungan tersebut, peserta field trip IICCE 2026 memperoleh penjelasan langsung dari Ir. Jeanette Kumaunang, MSc, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengenai proses pemuliaan, karakteristik, hingga teknik budidaya Kelapa Genjah Pandan Manis yang telah melalui proses penelitian dan sertifikasi.
Jeanette menjelaskan bahwa varietas Kelapa Genjah Pandan Manis yang saat ini dikembangkan berasal dari material genetik asal Thailand. Namun, sebelum dapat dilepas sebagai varietas unggul di Indonesia, tanaman tersebut harus melalui tahapan penelitian dan memenuhi seluruh persyaratan sertifikasi benih sesuai regulasi pemerintah.
“Penelitian kami dimulai sejak 2021 hingga 2023 sebelum varietas ini resmi dirilis. Kami harus memastikan bahwa tanaman yang dilepas benar-benar memiliki sifat yang seragam atau true to type sesuai ketentuan sertifikasi,” jelasnya.
Kebun sumber benih yang dikembangkan di Langkat memiliki luas sekitar 20 hektare dengan populasi lebih dari 4.000 pohon. Namun, sesuai ketentuan sertifikasi, hanya sekitar 2.800 pohon yang memenuhi standar sebagai pohon induk bersertifikat. Dari kebun tersebut diperkirakan dapat diproduksi lebih dari 300 ribu bibit berkualitas setiap tahunnya.
Jeanette mengatakan, salah satu cara memastikan kemurnian varietas dilakukan melalui pengamatan langsung terhadap karakter tanaman, mulai dari bentuk daun, aroma air kelapa, hingga cita rasa buahnya. Selain memiliki cita rasa manis dan aroma pandan yang khas, Kelapa Genjah Pandan Manis juga memiliki produktivitas yang tinggi. Berdasarkan hasil penelitian BRIN, setiap pohon mampu menghasilkan lebih dari 14 tandan per tahun, dengan rata-rata lebih dari delapan butir kelapa per tandan, sehingga total produksinya dapat mencapai lebih dari 130 butir per pohon setiap tahun.
Varietas ini juga tergolong cepat berbuah. Menurut Jeanette, tanaman mulai menghasilkan buah sekitar dua tahun setelah ditanam. Saat ini Ramon Gromico telah mengembangkan penanaman Kelapa Genjah Pandan Manis di tiga lokasi berbeda, masing-masing seluas sekitar 20 hektare.
Ia mengingatkan masyarakat yang ingin mengembangkan varietas tersebut agar membeli bibit bersertifikat, bukan buah kelapanya. “Kalau ingin memperoleh Kelapa Genjah Pandan Manis yang asli, belilah bibitnya, bukan buahnya. Dengan bibit bersertifikat, kemurnian varietas dapat dipastikan,” katanya.
Menjawab pertanyaan peserta mengenai syarat tumbuh, Jeanette menjelaskan bahwa Kelapa Genjah Pandan Manis cukup adaptif dan dapat ditanam di berbagai daerah selama menerapkan Good Agricultural Practices (GAP).
Berdasarkan pengalaman penanaman di Manado, Bali, Jawa, maupun Sumatera, varietas ini mampu tumbuh dengan baik pada lahan dengan ketinggian hingga sekitar 400 meter di atas permukaan laut, meskipun kondisi terbaik berada di wilayah dataran rendah.
Lokasi kebun di Langkat yang berada dekat pantai juga tidak menjadi kendala. Menurutnya, kondisi tersebut justru dapat diatasi melalui pengelolaan lahan yang baik, seperti pembuatan saluran drainase serta pemupukan rutin menggunakan NPK dan dolomit setiap tiga bulan.
Dalam sesi diskusi, Jeanette juga menyoroti pentingnya penerapan budidaya ramah lingkungan. Untuk mengendalikan serangan hama, ia menyarankan penggunaan bahan alami dibandingkan pestisida kimia. “Lebih baik menggunakan bahan yang lebih eco-friendly, misalnya sereh untuk membantu mengurangi serangan hama,” katanya.
Pada fase pembibitan, penyakit yang umum dijumpai adalah karat daun. Sementara pada tanaman dewasa, ancaman utama berasal dari kumbang kelapa Rhynchophorus yang dapat menyebabkan batang membusuk hingga pohon roboh apabila tidak segera ditangani.
Jeanette menjelaskan bahwa jarak tanam ideal untuk Kelapa Genjah Pandan Manis adalah 7 x 7 meter dengan populasi sekitar 200 pohon per hektare. Alternatif lainnya adalah 7,5 x 7,5 meter dengan populasi sekitar 160 pohon per hektare.
Ia juga menjelaskan bahwa rekomendasi Direktorat Jenderal Perkebunan mengenai pola tanam 6 x 12 meter pada kelapa dalam dapat diterapkan pada kelapa genjah apabila petani ingin memanfaatkan ruang antarbarisan untuk tanaman sela. “Kelapa menyukai cahaya matahari sehingga ruang antarbarisan tetap dapat dimanfaatkan untuk tanaman lain tanpa mengganggu pertumbuhan kelapa,” jelasnya.
Namun demikian, ia mengingatkan agar Kelapa Genjah Pandan Manis tidak ditanam berdekatan dengan kelapa dalam karena dapat menyebabkan terjadinya penyerbukan silang yang memengaruhi kemurnian varietas.
“Kelapa genjah hanya memiliki peluang sekitar lima persen menerima serbuk sari dari luar, sedangkan kelapa dalam bisa mencapai 95 persen. Karena itu, kalau ingin mempertahankan kemurnian varietas, sebaiknya ditanam terpisah dari kelapa dalam,” katanya.
Ia menambahkan bahwa secara internasional varietas ini dikenal sebagai Green Aromatic Dwarf Coconut, sehingga identitas warna hijaunya menjadi salah satu karakter penting yang harus dipertahankan.
Jeanette menjelaskan bahwa Kelapa Genjah Pandan Manis berbeda dengan Kelapa Genjah Entok. Perbedaan utamanya terletak pada rasa dan aroma. “Kelapa Entok memang sama-sama genjah dan cepat berbuah, tetapi tidak memiliki rasa manis maupun aroma pandan. Keunggulan Entok berada di ukuran buahnya yang lebih besar,” ujarnya.
Menurutnya, keunggulan utama Kelapa Genjah Pandan Manis terletak pada perpaduan rasa manis alami dan aroma pandan yang sangat disukai konsumen, terutama di kawasan wisata maupun pasar ekspor.
Permintaan pasar terhadap varietas ini terus meningkat. Negara seperti Singapura, Malaysia, hingga Tiongkok menunjukkan minat yang tinggi terhadap kelapa aromatik tersebut.
Pemilik kebun, Ramon Gromico, mengungkapkan besarnya peluang pasar yang masih belum dapat dipenuhi. “Dari China saja pernah meminta sampai 6.000 kontainer, tetapi kami belum mampu memenuhinya,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa produk yang dipasarkan merupakan kelapa muda untuk konsumsi segar, sehingga nilai ekonominya berasal dari kualitas air kelapa yang manis dan aromatik, bukan dari hasil samping seperti sabut.
Melalui kegiatan field trip ini, peserta IICCE 2026 tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai teknik budidaya Kelapa Genjah Pandan Manis, tetapi juga melihat secara langsung potensi pengembangan varietas unggul Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Kegiatan ini diharapkan mampu mendorong semakin luasnya pengembangan kelapa aromatik berkualitas sebagai salah satu komoditas perkebunan yang berdaya saing di pasar global.