Jakarta, mediaperkebunan.id – Potensi besar pengolahan kelapa melalui pengembangan industri nata de coco nasional bersiap dikupas tuntas dalam perhelatan akbar 1st Indonesian International Coconut Conference & Exposition (IICCE) 2026 di Medan, Sumatera Utara, pada 8 – 11 Juli 2026 mendatang.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Nata De Coco Indonesia, Derri Kusuma, dijadwalkan hadir untuk membedah strategi pengembangan komoditas ini, mulai dari penguatan UMKM hingga lompatan teknologi ke industri pertahanan. Dikutip dari mediaperkebunan.id (11/11/2024), saat ini, produksi nata de coco nasional ditopang oleh sektor UMKM sebesar 2.100 ton per bulan dan tiga perusahaan besar dengan kapasitas 1.800 ton per bulan.
“Peluang bisnis nata de coco masih sangat besar. Kita punya potensi kehilangan devisa hingga USD 5,25 miliar karena ada sekitar 3,68 juta ton air kelapa yang saat ini masih terbuang sia-sia,” ujar Derri.
Selain sektor pangan (food), hilirisasi ke produk non-pangan kini menjadi sorotan utama. Salah satu inovasi radikal yang akan dibahas adalah pemanfaatan serat nata de coco sebagai lapisan rompi anti-peluru yang ramah lingkungan. Inovasi ini diklaim mampu memberikan lonjakan nilai tambah hingga 667 kali lipat, dengan potensi pasar domestik mencapai USD 25 miliar.
Potensi pertumbuhan ini juga ditegaskan oleh Staf Ahli Menteri PPN/Bappenas Bidang Pembangunan Sektor Unggulan dan Infrastruktur, Leonardo Adypurnama alias Teguh Sambodo. Ia memproyeksikan pasar nata de coco global akan menembus USD 1,5 miliar pada tahun 2032, didorong oleh tren gaya hidup sehat.
Meski menjanjikan, industri ini masih dibayangi berbagai tantangan hulu-hilir. Di sektor hulu, terjadi kelangkaan tenaga kerja di daerah kepulauan penghasil bahan baku. Sementara di hulu industri, mayoritas pelaku usaha rumah tangga belum memenuhi standar Good Manufacturing Practices (GMP) serta minim teknologi produksi bersih.
Tantangan makin kompleks akibat kenaikan harga bahan bakar dan listrik, belum memadainya infrastruktur distribusi, hingga rumitnya birokrasi perizinan ekspor. Khusus untuk pengembangan rompi anti-peluru, industri masih terbentur keterbatasan teknologi komposit, tingginya biaya riset, serta belum adanya regulasi standar nasional untuk industri pertahanan berbasis kelapa.
Melalui forum internasional IICCE 2026, akan dibahas tuntas mengenai bagaimana cara agar pengembangan industri nata de coco mulai menjadi sektor prioritas agar mampu mengejar ketertinggalan dari negara pesaing seperti Filipina.
Nantinya pada IICCE 2026 juga akan ada berbagai booth dari perusahaan-perusahaan terkemuka yang menampilkan mulai dari mesin, manufaktur, teknologi pengolahan, peralatan perkebunan, produk berbasis kelapa, pengemasan, dan industri pendukung di seluruh sektor kelapa global.
Melalui acara ini diharapkan menjadi platform internasional strategis yang menyatukan pemerintah, pelaku industri, peneliti, investor, dan para pemangku kepentingan global untuk memperkuat sektor kelapa Indonesia melalui inovasi, investasi, pengembangan hilirisasi, serta kolaborasi yang berkelanjutan. IICCE 2026 bertujuan untuk mendukung revitalisasi industri kelapa nasional dengan meningkatkan produktivitas, daya saing, produk bernilai tambah, dan peluang pasar global.