Jakarta, mediaperkebunan.id – Langkah konkret dalam memperkuat rantai nilai kelapa nasional terus digaungkan di tengah pesatnya tren pasar global terhadap komoditas ramah lingkungan. Sebagai bentuk kepedulian nyata untuk mewadahi potensi besar sektor kelapa Indonesia, Media Perkebunan siap mengupas tuntas transformasi limbah pertanian menjadi komoditas bernilai tinggi ekspor dalam perhelatan akbar 1st Indonesian International Coconut Conference & Exposition (IICCE) 2026. Acara berskala internasional ini dijadwalkan berlangsung pada 8–11 Juli 2026 di Medan, Sumatera Utara.
Forum IICCE 2026 hadir sebagai jembatan strategis untuk mempertemukan para pelaku industri, investor global, peneliti, hingga pemangku kepentingan (stakeholders). Selain memperluas jejaring bisnis, agenda utama konferensi ini tertuju pada penguatan integrasi hulu ke hilir kelapa nasional. Salah satu sorotan utama dalam forum ini adalah pemanfaatan limbah kelapa yang selama ini kerap dipandang sebelah mata.
Guna memberikan wawasan aplikatif berbasis inovasi, Media Perkebunan melalui IICCE 2026 akan menghadirkan Founder House of Charcoal Indonesia, Himpunan Industri Briket Arang Kelapa Indonesia, Asep Jembar, S.I.Kom., M.I.Kom. Ia dijadwalkan menyampaikan materi krusial bertajuk “Pemanfaatan Limbah Tempurung Kelapa: Potensi Briket Akar Tempurung Kelapa sebagai Bisnis Masa Depan dan Energi Hijau”. Sesi ini diharapkan membuka mata para pelaku agribisnis mengenai besarnya margin keuntungan serta kontribusi nyata terhadap kelestarian lingkungan.
Dikutip dari berbagai sumber, limbah tempurung kelapa merupakan sisa hasil usaha tani yang selama ini kerap dianggap sebagai sampah tanpa nilai, namun kini mulai bergeser menjadi komoditas premium bernilai jual tinggi. Di tangan para pelaku agribisnis inovatif, limbah tempurung kelapa berhasil ditransformasikan menjadi briket arang berkualitas tinggi. Bahan bakar alternatif tersebut dinilai lebih ekologis jika dikomparasikan dengan batubara maupun arang kayu biasa, sekaligus menjadi bagian dari solusi atas isu dekarbonisasi di tingkat global.
Lompatan permintaan di pasar internasional terhadap briket tempurung kelapa ini dipicu oleh sederet kelebihan teknis, meliputi konsistensi kalori, higienis dan bersih, kandungan organik, nol deforestasi.
Untuk mengubah bahan mentah menjadi produk ekspor berkualitas tinggi, diperlukan kecermatan tinggi dalam melewati empat fase pemrosesan utama mulai dari karbonisasi, penggilingan dan pengayakan, formulasi bahan pengikat, dan pencetakan dan dehidrasi (oven).
Nantinya pada acara 1st Indonesian International Coconut Conference & Exposition (IICCE) 2026 Asep Jembar selaku Founder House of Charcoal Indonesia, Himpunan Industri Briket Arang Kelapa Indonesia ini akan mengupas secara tuntas bagaimana dari kacamata bisnis, hilirisasi ini menawarkan potensi keuntungan finansial yang sangat menggiurkan dan memberikan pemahaman yang mendalam terkait manajemen mutu pasca panen serta efisiensi tata kelola rantai pasok menjadi kunci mutlak agar briket kelapa asal Indonesia mampu mempertahankan dominasinya di kancah internasional.