Pengembangan Benih Kelapa Untuk Mendukung Hilirisasi Perkebunan 

Pengembangan Benih Kelapa Untuk Mendukung Hilirisasi Perkebunan 

Jakarta, mediaperkebunan.id Produktivitas kelapa nasional terus menunjukkan tren penurunan sejak tahun 2017 hingga 2024. Salah satu pemicu utamanya adalah faktor usia tanaman yang mayoritas sudah tua dan terlalu tinggi (crossing the sky), sehingga mendesak untuk segera diremajakan. Terutama melalui pengembangan benih kelapa untuk mendukung hilirisasi perkebunan.

Merespons tantangan tersebut, Dr. Ir. Ismail Maskromo, M.Si., Periset pada Pusat Riset Tanaman Perkebunan ORRP BRIN menegaskan bahwa kunci utama keberhasilan program peremajaan kelapa dan hilirisasi industri ada pada standarisasi dan mutu genetik benih. Hal tersebut dipaparkan Ismail dalam webinar dan talkshow yang diselenggarakan oleh Media Perkebunan bertajuk “Pengembangan Benih Kelapa untuk Mendukung Hilirisasi Perkebunan dari Sudut Pandang Periset”.

“Jangan sampai kita gagal paham terkait perbenihan. Kalau salah sejak awal di sektor benih, ceritanya akan panjang dan dampaknya merugikan investasi hingga puluhan tahun ke depan,” ujar Ismail

Menjawab Tantangan Investasi: Benih Genjah untuk Santan

Ismail memaparkan, salah satu kelemahan Kelapa Dalam yang selama ini dominan adalah masa berbuah yang lama (di atas 5 tahun) serta pohon yang cepat meninggi. Karakteristik ini membuat investor maupun petani enggan menanam karena return of investment yang lambat.

Sebagai solusinya, riset terbaru menunjukkan potensi besar Kelapa Genjah. Jenis kelapa ini terbukti memiliki keunggulan akselerasi yang luar biasa.

  • Masa Berbuah Cepat: Kelapa Genjah kini mampu berbuah dalam waktu 1,5 dibandingkan sebelumnya yang memakan waktu 2,5 tahun.
  • Kualitas Menyamai Hibrida: Berdasarkan data ilmiah hasil analisis lab bersama PT Riau Sakti United Plantations (RSUP), tiga varietas Kelapa Genjah unggul nasional yang dilepas dalam 10 tahun terakhir memiliki kandungan lemak (fat content) dan bahan kering (dry matter) untuk santan yang setara, bahkan lebih tinggi, dibanding Kelapa Hibrida PB 121.

“Dulu ada anggapan Kelapa Genjah hanya cocok untuk air kelapa kelapa muda. Sekarang secara ilmiah terbukti, genjah sangat potensial untuk industri santan (coconut milk) dan pemenuhan bahan baku industri hilir,” tambahnya.

6 Strategi Penyediaan Benih Kelapa Masa Depan

Guna mengejar kebutuhan sekitar 75 juta benih untuk meremajakan minimal 15% dari total 3,3 juta hektar lahan kelapa nasional, Ismail merumuskan 6 strategi taktis:

  1. Identifikasi, evaluasi, pendaftaran, dan pelepasan varietas Dalam dan Gejah Unggul Lokal
  2. Pemurnian varietas unggul danvarietas unggul lokal
  3. Pembangunan Kebun Induk Benih Sebar oleh Pemerintah dan Swasta.
  4. Pembangunan Kebun Induk Benih Penjenis Kelapa Genjah oleh Swasta didampingi Pemulia. 
  5. Perakitan dan Pembangunan Kebun Induk Kelapa Hibrida Baru
  6. Perbanyakan Massal Kelapa Unggul dan Eksotik

Menjaga Tiga Prinsip Benih

Di akhir paparannya, Ismail mengingatkan para swasta dan instansi pemerintah agar tidak asal-asalan menetapkan pohon kelapa di lapangan sebagai sumber benih hanya demi mengejar kuantitas target serapan.

Setiap benih yang beredar harus lolos tiga prinsip pengujian jaminan mutu:

  1. Kebenaran Varietas: Sesuai dengan deskripsi morfologi (pelepah, buah, dan batang).
  2. Kemurnian: Minim atau bebas dari kontaminasi/ketercampuran genetik luar akibat penyerbukan silang alami yang liar.
  3. Keterwarisan: Sifat-sifat unggul induknya harus terbukti menurun pada generasi berikutnya.

Melalui sinergi riset, penerapan Good Agricultural Practices (GAP) yang berkelanjutan, serta dukungan pendanaan riset yang kuat dari pemerintah dan swasta (termasuk BRIN), komoditas kelapa Indonesia diyakini siap menyongsong era baru industri hilir—bahkan hingga penyediaan bahan baku penerbangan ramah lingkungan (Bio-Avtur) yang pabriknya kini tengah dibangun di Palembang.