IICCE 2026 Kian Dilirik Industri Kelapa Nasional dan Internasional: Momentum Kebangkitan Industri Kelapa Indonesia

IICCE 2026 Kian Dilirik Industri Kelapa Nasional dan Internasional: Momentum Kebangkitan Industri Kelapa Indonesia

Jakarta, mediaperkebunan.id – Minat kalangan industri dalam dan luar negeri terhadap sektor kelapa Indonesia mulai menunjukkan peningkatan, hal ini tergambar dari minat peserta 1st Indonesian International Coconut Conference & Exposition (IICCE) 2026 yang semakin signifikan. Menjelang pelaksanaan IICCE 2026 pada 8–11 Juli 2026 di Medan, sejumlah perusahaan besar telah menyatakan komitmennya untuk berpartisipasi dalam forum internasional tersebut.

Beberapa perusahaan yang telah mendaftarkan diri antara lain Triputra Group melalui PT Etam Bersama Lestari, Sambu Group melalui PT Riau Sakti United Plantation dan PT Pulau Sambu, serta PT Sari Segar Husada. Selain itu, Musim Mas dan Minamas Plantation juga telah menyampaikan konfirmasi kehadiran dan dukungannya terhadap kegiatan ini.

Kehadiran perusahaan-perusahaan besar tersebut menjadi sinyal positif bahwa industri kelapa Indonesia mulai mendapatkan perhatian yang lebih serius dari pelaku usaha nasional. Selama ini, sektor kelapa kerap dinilai tertinggal dibandingkan komoditas perkebunan lain meskipun Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa terbesar di dunia.

Tak hanya dari dalam negeri, industri kelapa luar negeri lebih dulu menunjukkan minatnya terhadap forum internasional IICCE 2026. Sejumlah perusahaan asal India, Pakistan, Sri Lanka, Filipina, bahkan Swedia ikut berpartisipasi dalam acara konferensi yang menghadirkan informasi mendalam mengenai pengembangan hulu-hilir kelapa Indonesia.

Alfa Laval, perusahaan penyedia teknologi asal Swedia yang telah tersertifikasi food grade pun hadir dalam pameran 1st IICCE 2026. Dalam kesempatan ini, Alfa Lafal yang telah memimpin pasar global dalam bidang teknologi pemrosesan dengan menerapkan keamanan yang tinggi dalam proses pengolahan makanan, minuman, dan farmasi akan menampilkan teknologi-teknologi inovatif yang dapat digunakan oleh industri kelapa dalam negeri untuk meningkatkan kualitas produk hilir.

Sekretaris Jenderal Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (P3PI), Hendra J. Purba, menilai meningkatnya minat perusahaan nasional merupakan perkembangan yang sangat penting bagi masa depan industri kelapa Indonesia.

“Kami melihat mulai muncul ketertarikan yang serius dari perusahaan-perusahaan besar nasional terhadap sektor kelapa. Ini menjadi sinyal positif bahwa industri kelapa mulai dipandang sebagai sektor strategis yang memiliki prospek besar dari hulu hingga hilir,” ujar Hendra.

Menurut Hendra, selama beberapa waktu terakhir justru banyak pihak dari luar negeri yang menunjukkan minat besar terhadap potensi kelapa Indonesia. Karena itu, meningkatnya partisipasi perusahaan dalam negeri menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri kelapa.

“Yang menarik, sebelumnya antusiasme terhadap kelapa Indonesia justru lebih banyak datang dari luar negeri. Karena itu kami sangat mengapresiasi mulai munculnya komitmen dari perusahaan-perusahaan nasional untuk ikut mengambil peran dalam pengembangan industri kelapa,” jelasnya.

Indonesia memiliki sekitar 3,3 juta hektare perkebunan kelapa yang sebagian besar dikelola petani rakyat. Namun produktivitas yang relatif stagnan, banyaknya tanaman tua, serta belum optimalnya pengembangan industri hilir membuat potensi besar tersebut belum sepenuhnya termanfaatkan.

Melalui tema “Stepping Forward to Revitalize Indonesian Coconut Upstream and Downstream Industries”, IICCE 2026 hadir sebagai platform kolaboratif yang mempertemukan pemerintah, pelaku industri, investor, akademisi, peneliti, hingga mitra internasional untuk membahas revitalisasi industri kelapa nasional dari sektor hulu hingga hilir.

Forum ini juga bertujuan mendorong integrasi pengembangan kelapa melalui peremajaan tanaman, penggunaan benih unggul, penguatan kelembagaan petani, inovasi teknologi, serta pengembangan industri pengolahan bernilai tambah tinggi.

“Melalui IICCE 2026, kami ingin membangun kesadaran bahwa kelapa memiliki masa depan yang sangat besar. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi harus menjadi pemain utama dalam industri hilir kelapa dunia,” kata Hendra.

Di antara perusahaan yang akan hadir, Sambu Group merupakan salah satu pelaku industri kelapa terbesar di Indonesia yang telah lama dikenal sebagai pemain utama dalam pengolahan kelapa terpadu.

Melalui unit usahanya seperti PT Pulau Sambu dan PT Riau Sakti United Plantation, grup ini mengembangkan berbagai produk turunan kelapa mulai dari santan kelapa, krim kelapa, kelapa parut kering (desiccated coconut), hingga berbagai produk ekspor yang telah menjangkau pasar internasional.

Selain itu, Minamas Plantation juga telah menyampaikan konfirmasi kehadirannya dalam kegiatan ini. Menariknya, grup besar lain yang selama ini dikenal sebagai pemain utama industri sawit, yaitu Musim Mas Group, juga mulai menunjukkan ketertarikan terhadap pengembangan industri kelapa.

Musim Mas selama ini dikenal sebagai perusahaan agribisnis terintegrasi yang bergerak di bidang perkebunan, pengolahan, dan perdagangan minyak nabati. Pengalaman panjang dalam membangun rantai pasok agribisnis dari hulu hingga hilir dinilai dapat menjadi modal penting apabila perusahaan-perusahaan besar mulai memperluas perhatian mereka ke sektor kelapa.

Keterlibatan perusahaan-perusahaan besar tersebut menunjukkan bahwa industri kelapa tidak lagi dipandang sebagai komoditas tradisional semata, melainkan sebagai sektor yang memiliki peluang besar untuk berkembang melalui hilirisasi dan inovasi produk.

Penyelenggaraan IICCE 2026 juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan 4th Technology Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) 2026, yang menunjukkan dukungan ekosistem perkebunan yang lebih luas terhadap pengembangan industri kelapa nasional.

Menurut Hendra, keberhasilan industri sawit dalam membangun ekosistem hulu-hilir dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan industri kelapa Indonesia. “Semangatnya bukan bersaing antara sawit dan kelapa, tetapi bagaimana seluruh kekuatan komoditas perkebunan Indonesia dapat tumbuh bersama. Pengalaman sukses di sektor sawit bisa menjadi referensi penting untuk mempercepat transformasi industri kelapa,” ujarnya.

IICCE 2026 akan berlangsung di Adimulia Hotel Medan, Sumatera Utara, dengan rangkaian kegiatan berupa konferensi internasional, pameran, business matching, serta kunjungan lapangan ke Kebun Induk Kelapa Genjah Pandan Wangi di Serdang Bedagai pada 11 Juli 2026.

“Kami berharap IICCE 2026 dapat melahirkan lebih banyak investasi, inovasi teknologi, kemitraan baru, dan pengusaha-pengusaha baru di sektor kelapa. Target akhirnya adalah menjadikan kelapa Indonesia sebagai industri modern yang mampu menghasilkan produk bernilai tinggi dan berdaya saing global,” pungkas Hendra.