IICCE 2026, Ir. Bambang: Hilirisasi Kelapa Tidak Selalu Berarti Diolah Menjadi Produk Turunan

IICCE 2026, Ir. Bambang: Hilirisasi Kelapa Tidak Selalu Berarti Diolah Menjadi Produk Turunan

Medan, mediaperkebunan.id – Penyelenggaraan Indonesian International Coconut Conference & Exposition (IICCE) 2026 menjadi momentum penting untuk membangkitkan kembali industri kelapa Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi berbagai tantangan, terutama penurunan luas areal, produktivitas, serta perlunya percepatan pembangunan dari sektor hulu hingga hilir.

Hal tersebut disampaikan Pemimpin Umum Media Perkebunan sekaligus Direktur Jenderal Perkebunan periode 2016–2018, Ir. Bambang, MM., saat memberikan sambutan pada pembukaan IICCE 2026 di Medan, Jumat (10/7/2026).

Menurut Bambang, Indonesia sesungguhnya memiliki potensi kelapa yang sangat besar. Namun, potensi tersebut terus mengalami penurunan apabila tidak segera mendapatkan perhatian serius.

Ia mengungkapkan bahwa pada tahun 2016 luas areal kelapa Indonesia masih sekitar 3,8 juta hektare, sedangkan berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan saat ini tersisa sekitar 3,3 juta hektare.

“Sangat menyadari begitu besarnya potensi kelapa di RI ini. Namun, terus mengalami penurunan. Tahun 2016 ada sekitar 3,8 juta hektare dan saat ini sesuai data Ditjenbun tersisa 3,3 juta hektare. Potensi kelapa yang begitu besar kalau kita biarkan dan kita tidak peduli dengan hal ini, bisa berdampak akan terus mengalami penurunan. Ketika semua orang sadar betapa pentingnya kelapa buat kehidupan, mungkin kelapa sudah tidak ada lagi,” ujarnya.

Karena itu, Bambang menilai penyelenggaraan IICCE menjadi forum yang sangat relevan untuk memperkuat kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam menyongsong kebijakan revitalisasi perkelapaan nasional.

Ia menyambut baik langkah pemerintah yang menjadikan hilirisasi kelapa sebagai bagian dari agenda pembangunan nasional. Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi angin segar bagi pengembangan komoditas kelapa karena mencakup pembenahan sektor budidaya, penyediaan benih, pupuk, hingga pembinaan petani.

“Oleh karena itu kita sangat bersyukur Bapak Presiden Prabowo dan Menteri Pertanian menindaklanjuti berbagai kegiatan dengan jargon hilirisasi kelapa menjadi angin segar buat kita semuanya, mulai dari kegiatan on farm, pengadaan benih, pengadaan pupuk, pembinaan petani akan dilakukan mulai 2025 dan diharapkan tahun 2027 ada sekitar 250 ribuan hektare yang akan dikembangkan. Kelapa ini masa depan,” katanya.

Menurut Bambang, prospek kelapa ke depan akan semakin besar seiring meningkatnya kesadaran masyarakat dunia terhadap manfaat kesehatan dari berbagai produk kelapa.

“Saat ini boleh jadi harga air kelapa masih lebih rendah dibandingkan air mineral. Tapi pada saatnya nanti orang sadar betapa pentingnya banyak nutrisi yang terkandung di dalam butiran kelapa. Setiap hari orang akan mencari dan kelapa kita makin bernilai,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Bambang juga menjelaskan bahwa semangat hilirisasi tidak dapat dilepaskan dari pembangunan sektor hulu. Menurutnya, keberhasilan industri pengolahan sangat bergantung pada keberhasilan menyediakan bahan baku yang berkualitas.

“Hal yang paling krusial untuk mempersiapkan dalam menyongsong tekad besar Presiden untuk hilirisasi kelapa haruslah kita mulai dari pengembangan budidaya, penyediaan benih dan seterusnya. Kita tidak bisa langsung ke hilir,” tegasnya.

Ia menilai langkah Direktorat Jenderal Perkebunan dalam mengidentifikasi pohon induk unggul dan blok penghasil benih merupakan solusi percepatan penyediaan benih berkualitas bagi program pengembangan kelapa nasional.

“Apa yang dilakukan Ditjenbun sudah sangat bagus melakukan identifikasi pada pohon-pohon induk terpilih, pohon-pohon pada blok penghasil tertinggi dan konsisten digunakan benihnya untuk pengembangan. Sehingga saya yakin benih yang dibagikan Ditjenbun adalah benih berkualitas. Pastikan bahwa benih yang dibagi oleh pemerintah adalah benih yang berkualitas. Dan kita ikut membina dan menjaga,” katanya.

Bambang juga mengingatkan bahwa hilirisasi tidak selalu berarti mengolah kelapa menjadi produk turunan. Menurutnya, ekspor kelapa butiran dengan standar mutu dan praktik budidaya yang baik juga merupakan bagian dari hilirisasi.

Ia mencontohkan protokol ekspor kelapa ke Tiongkok yang telah ditandatangani pemerintah Indonesia, namun hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku usaha.

“Pengertian hilirisasi untuk produk pertanian perkebunan tidak harus dalam bentuk diolah menjadi produk. Kelapa butiran dengan perlakuan good agricultural practices yang baik kemudian bisa ekspor dengan harga yang mahal, itu juga hilirisasi,” jelasnya.

Lebih jauh, Bambang menilai tantangan terbesar pengembangan kelapa Indonesia justru berada pada karakteristik perkebunan rakyat yang tersebar dan dikelola petani kecil. Kondisi tersebut menyebabkan proses pembinaan maupun pembangunan industri terintegrasi menjadi lebih kompleks.

Karena itu, menurutnya, pembinaan petani menjadi faktor paling menentukan agar seluruh bagian kelapa dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Hal yang paling penting untuk pembinaan kelapa ini adalah pembinaan petaninya. Ketika kelapa bisa dipanen dengan masa fisiologis yang sama maka semua produk bisa dimanfaatkan. Tetapi ketika dipanen sekaligus tiga bulan sekali karena pohonnya sudah tinggi, maka sebagian produk tidak akan bernilai sesuai kebutuhan pasar. Pada saatnya kita mampu membina petani dan menghasilkan produk kelapa dengan jaminan matang fisiologis panen, saya kira semuanya akan bernilai dan integrated hilirisasi bisa dibangun dengan baik serta memberikan keuntungan bagi industri dan masyarakat,” tuturnya.

Melalui penyelenggaraan IICCE 2026, berbagai isu strategis tersebut menjadi fokus pembahasan bersama pemerintah, pelaku industri, akademisi, peneliti, dan peserta internasional. Forum ini diharapkan menjadi titik awal penguatan sinergi untuk mempercepat revitalisasi industri kelapa nasional, mulai dari penyediaan benih unggul, peningkatan produktivitas kebun rakyat, hingga pembangunan hilirisasi yang mampu memberikan nilai tambah lebih besar bagi petani maupun industri.