Medan, mediaperkebunan.id – Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (P3PI) bersama Media Perkebunan sukses menyelenggarakan Indonesian International Coconut Conference & Exposition (IICCE) 2026 di Medan, Sumatera Utara, Jumat (10/07/2026). Mengusung tema “Stepping Forward to Revitalize Indonesian Coconut Upstream and Downstream Industries”, konferensi internasional ini menjadi forum strategis yang mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, peneliti, investor, serta pemangku kepentingan dari dalam dan luar negeri untuk merumuskan langkah konkret dalam mempercepat revitalisasi sektor perkelapaan Indonesia.
Sekitar 130 peserta mengikuti konferensi perdana ini, termasuk 30 delegasi dari berbagai negara, seperti India, Filipina, dan sejumlah negara Asia Tenggara lainnya. Selain konferensi, kegiatan juga menghadirkan pameran teknologi yang diikuti Alfa Laval Indonesia, Gem Drytech System LLP India, Genex Tech Industries LLP India, T&I Global Limited, serta PT Oasis Coco Indonesia.
Konferensi didukung oleh International Coconut Community (ICC), Forum Komunikasi Dewan Komoditas Perkebunan (FKDKP), Roemah Kelapa Indonesia, Himpunan Industri Briket Arang Kelapa Indonesia, serta Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia (HIPKI). Sebanyak 14 narasumber membahas empat sesi utama yang mencakup pengembangan sektor hulu, hilirisasi, regulasi, hingga peluang investasi industri kelapa.
Pemimpin Umum Media Perkebunan sekaligus Direktur Jenderal Perkebunan periode 2016–2018, Ir. Bambang, MM., mengatakan Indonesia memiliki potensi kelapa yang sangat besar, namun luas arealnya terus mengalami penurunan.
“Sangat menyadari begitu besarnya potensi kelapa di RI ini. Namun, terus mengalami penurunan. Tahun 2016 ada sekitar 3,8 juta hektare dan saat ini sesuai data Ditjenbun tersisa 3,3 juta hektare. Potensi kelapa yang begitu besar kalau kita biarkan dan kita tidak peduli dengan hal ini, bisa berdampak akan terus mengalami penurunan. Ketika semua orang sadar betapa pentingnya kelapa buat kehidupan, mungkin kelapa sudah tidak ada lagi,” jelas Bambang.
Menurut Bambang, kebijakan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertanian yang menjadikan hilirisasi kelapa sebagai salah satu agenda pembangunan nasional menjadi angin segar bagi sektor perkelapaan.
“Oleh karena itu kita sangat bersyukur Bapak Presiden Prabowo dan Menteri Pertanian menindaklanjuti berbagai kegiatan dengan jargon hilirisasi kelapa menjadi angin segar buat kita semuanya, mulai dari kegiatan on farm, pengadaan benih, pengadaan pupuk, pembinaan petani akan dilakukan mulai 2025 dan diharapkan tahun 2027 ada sekitar 250 ribuan hektare yang akan dikembangkan,” lanjutnya.
Ia menegaskan bahwa pembangunan industri kelapa harus dimulai dari sektor hulu.
“Hal yang paling krusial untuk mempersiapkan dalam menyongsong tekad besar Presiden untuk hilirisasi kelapa haruslah kita mulai dari pengembangan budidaya, penyediaan benih dan seterusnya. Kita tidak bisa langsung ke hilir.,” lanjutnya lagi.
Bambang juga mengingatkan bahwa konsep hilirisasi tidak selalu identik dengan pengolahan menjadi produk turunan.
“Pengertian hilirisasi untuk produk pertanian perkebunan tidak harus dalam bentuk diolah menjadi produk. Kelapa butiran dengan perlakuan good agricultural practices yang baik kemudian bisa diekspor dengan harga yang mahal, itu juga hilirisasi,” jelasnya.
Menurutnya, pembinaan petani menjadi faktor kunci agar seluruh bagian kelapa dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Hal yang paling penting untuk pembinaan kelapa ini adalah pembinaan petaninya. Ketika kelapa bisa dipanen dengan masa fisiologis yang sama maka semua produk bisa dimanfaatkan. Pada saatnya kita mampu membina petani dan menghasilkan produk kelapa dengan jaminan matang fisiologis panen, saya kira semuanya akan bernilai dan integrated hilirisasi bisa dibangun dengan baik serta memberikan keuntungan bagi industri dan masyarakat,” pungkas Bambang.
Ketua Panitia Indonesian International Coconut Conference & Exposition 2026, Dr. Donald Siahaan, mengatakan konferensi ini lahir sebagai respons terhadap meningkatnya kebutuhan dunia terhadap produk kelapa sekaligus menurunnya produktivitas negara-negara produsen utama.
“Industri kelapa global sangat membutuhkan revitalisasi untuk membalikkan penurunan tajam hasil panen, melindungi mata pencaharian petani kecil, serta memenuhi lonjakan permintaan konsumen akan produk kelapa bernilai tinggi,” kata Donald.
Ia menjelaskan bahwa setelah pandemi COVID-19, permintaan produk kelapa meningkat signifikan karena manfaat kesehatannya, sementara produksi justru mengalami tren penurunan.
“Konferensi ini dihadiri oleh sekitar 130 peserta, 30 di antaranya berasal dari luar negeri, termasuk India, Filipina, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya,” kata Donald.
Donald berharap seluruh peserta memanfaatkan forum tersebut secara aktif untuk menjawab tantangan revitalisasi industri kelapa dari hulu hingga hilir.
Mewakili Direktur Jenderal Perkebunan Ali Jamil, Kepala Balai Besar Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Medan, Kus Haryanto, S.Si., M.P., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya forum internasional tersebut.
“Pemerintah memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya forum ini. Forum ini menjadi platform yang sangat strategis untuk merumuskan langkah nyata di masa depan kelapa Indonesia.”
Ia menegaskan bahwa kelapa bukan sekadar komoditas perkebunan, tetapi sumber kehidupan jutaan masyarakat Indonesia.
“Kelapa bukan sekadar komoditas, melainkan sumber penghasilan bagi masyarakat pedesaan sekaligus salah satu komoditas perkebunan dengan nilai ekonomi, sosial, dan budaya yang sangat besar.”
Menurutnya, Indonesia memiliki sekitar 3 juta hektare areal kelapa dengan produksi sekitar 2,79 juta ton, di mana 96 persen dikelola oleh perkebunan rakyat.
“Tidak kurang dari 5,5 juta kepala keluarga menggantungkan kehidupannya pada ekosistem perkelapaan nasional.”
Ia mengakui bahwa produktivitas masih menghadapi tantangan, mulai dari keterbatasan benih unggul, perubahan iklim, hingga lemahnya integrasi sektor hilir.
“Pendekatan pembangunan kelapa tidak lagi cukup berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu sampai hilir.”
Sementara itu, Director General International Coconut Community (ICC), Dr. Jelfina C. Alouw, mengingatkan bahwa dunia sedang menghadapi paradoks antara tingginya permintaan produk kelapa dan stagnasi produksi global.
“Saat ini, industri kelapa global menghadapi ‘Production-Demand Paradox’. Dunia menginginkan lebih banyak produk kelapa. Namun, produksi global tetap stagnan selama hampir dua dekade,” ujar Jelfina dalam Bahasa Inggris.
Ia juga menyoroti ancaman perubahan iklim, volatilitas harga, hingga tantangan perdagangan global.
“Saat ini, kita sedang menghadapi ancaman iklim yang mendesak. Para ahli memperkirakan terjadinya El Niño yang parah tahun ini, yang akan membawa kekeringan berkepanjangan di seluruh Indonesia dan beberapa negara lainnya,” lanjutnya.
Menurut Jelfina, Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis dengan sekitar 3,3 juta hektare perkebunan kelapa, namun sebagian besar tanaman sudah tua sehingga produktivitas menurun.
“Kita harus menghubungkan sektor hulu dan hilir,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya penggunaan varietas unggul yang tahan iklim, penerapan pertanian cerdas, serta pembangunan ekonomi sirkular berbasis kelapa yang memanfaatkan seluruh bagian tanaman tanpa limbah.
Selain itu, Jelfina menegaskan bahwa kesejahteraan petani harus menjadi prioritas utama dalam pembangunan industri kelapa.
International Coconut Community (ICC), lanjutnya, siap mendukung transformasi industri kelapa Indonesia melalui kolaborasi erat antara pemerintah, lembaga pendanaan, industri, peneliti, dan petani.
Melalui penyelenggaraan Indonesian International Coconut Conference & Exposition 2026, P3PI dan Media Perkebunan berharap lahir berbagai rekomendasi strategis yang mampu mempercepat revitalisasi sektor perkelapaan nasional, meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat hilirisasi, serta memperluas daya saing produk kelapa Indonesia di pasar global.