Bangkok, mediaperkebunan.id – Jepang mentargetkan tahun 2030 10% bahan bakar jet harus SAF (Sustainable Aviation Fuel). Masalahnya sampai saat ini produksi SAF tidak mampu memenuhi kebutuhan. Karena itu sangat mendesak sekali bagi Jepang untuk mempoduksi SAF yang kompetifif dengan kerjasama perusahaan dan publik.
Green Power Developmen Corporation (GPDC), sebuah perusahaan dari Jepang melihat peluang ini.
“Misi kami adalah mengatasi tantangan ini dengan memproduksi SAF berbahan baku kelapa afkir. Dengan teknologi terbaru yang kami punya , SAF diharpkan sudah berproduksi komersial pada 2030,” kata Masato Fujii, Project Director GPDC pada International Coconut Community Side Event at the UNESCAP 81st Session of the Commision di Bangkok yang diikuti Media Perkebunan secara daring.
Kelapa dipilih karena fatty acid pada Crude Coconut Oil (CCO) komposisi karbonnya mendekati bahan bakar jet. Hal ini membuat proses pembuatannya tidak membutuhkan banyak hidrogen. Model bisnisnya adalah CCO diproduksi dari kelapa afkir pada tahap awal di Indonesia, kemudian Filipina dan negara produsen lainnya, kemudian diekspor ke Jepang. GPDC mengolahnya jadi SAF. GPDC menjual SAF pada perusahaan penyedia avtur untuk mencampur SAF dengan avtur.
Kelapa afkir dipilih karena tidak berkompetisi untuk pangan. SAF dari kelapa afkir ini diharapkan dapat menurunkan emisi GRK 70-80% karena tidak ada hubunganya dengan perubahan penggunaan lahan (land use change) dan disertifikatnya disebut sebagai produk samping.
Saat ini yang sudah mulai berjalan di Indonesia yaitu mengumpulkan kelapa di pusat perdagangan kelapa; melakukan seleksi mekanis apakah kelapa itu bagus atau afkir, kelapa afkir ditelusuri mulai dari kebunnya, pusat pengumpulan, dan pabrik CCO.
Di pabrik CCO kelapa afkir dikeringkan, kemudian dipress dan ekstrak jadi CCO dan disimpan di tangki timbun sebelum dikirim ke Jepang. Di Jepang CCO dihidrogenasi untuk menghasilkan hidrokarbon, kemudian didestilasi dengan reaksi katalik, kemudian didestilasi dan ekstrak lagi.
Bila 40% atau 8 juta ton digunakan untuk membuat SAF maka produksinya mencapai 500.000 ton/tahun atau 1% dari permintaah global tahun 2030. Permintaan SAF kedepan diperkirakan semakin meningkat sehingga menjadi sumber pendapatan baru bagi pekebun kelapa. Selain daging kelapa yang bisa jadi CCO kemudian SAF, bagian kelapa lain yang dapat jadi sumber energi adalah sabut, tempurung dan air kelapa yang difermentasi methan sebagai sumber pembangkit listrik bagi proses produksi CCO.