Medan, mediaperkebunan.id – Perwakilan PT Eastern Sumatera Indonesia (SIPEF), Ayu Karmila, sukses mencuri perhatian dalam ajang Palm Oil Mill Innovation (POMI) 2026 lewat inovasi efisiensi pendorong lori yang berhasil memangkas biaya operasional pabrik secara signifikan, sosok Ayu Karmila berhasil meraih juara 2 dalam POMI 2026.
Inovasi yang diusung Ayu Karmila yang juga merupakan Mill Manager PT Eastern Sumatera Indonesia berfokus pada efisiensi sistem pendorong lori dengan mengurangi penggunaan capstan dan menghapus (mengeliminasi) pemakaian tali sling baja pada proses produksi kelapa sawit. Langkah ini terbukti memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi efisiensi perusahaan.
“Inovasi ini berdampak langsung pada penurunan biaya operasional (cost). Kami berhasil melakukan penghematan anggaran (saving) sebesar 33,3 persen karena hilangnya biaya pemakaian sling,” ujar Ayu saat diwawancarai usai menerima penghargaan POMI 2026, Kamis (9/7/2026).
Sebagai seorang pemimpin perempuan di industri yang didominasi oleh kaum pria, Ayu mengaku tidak canggung. Ia mengungkapkan bahwa kunci keberhasilannya terletak pada kesempatan dan dukungan penuh dari manajemen perusahaan, serta pendekatan kepemimpinan yang humanis.
“Saya memposisikan diri sebagai ‘ibu’ sekaligus leader. Seorang ibu memiliki seribu bahasa untuk merangkul anggotanya. Karakter pekerja di pabrik berbeda-beda, ada yang temperamen dan ada yang tidak, namun pendekatan layaknya seorang ibu membuat komunikasi dan kerja sama tim menjadi lebih solid tanpa membeda-bedakan,” ungkapnya.
Fokus Inovasi Masa Depan
Tidak berhenti sampai di situ, Ayu membocorkan agenda inovasi PT Eastern Sumatera Indonesia selanjutnya. Ia menyatakan bahwa fokus timnya saat ini adalah menekan kadar kontaminan pangan pada minyak sawit.
“Ke depan, kami fokus pada pengurangan (reducing) kadar MOS (Mineral Oil Saturated Hydrocarbons) dan MOAH (Mineral Oil Aromatic Hydrocarbons) dalam produksi minyak kami. Caranya dengan merancang kompartemen terpisah antara gearbox dengan screw press serta meminimalisir segala bentuk kebocoran operasional,” jelas Ayu.
Ayu mengakui sempat gugup saat mempresentasikan karyanya karena menganggap inovasi tersebut sederhana. Namun, ia menyadari bahwa inovasi tidak harus selalu rumit, melainkan harus memberikan dampak (impact) nyata yang besar bagi industri. Ia berharap ajang POMI atau Palm Oil Mill Innovation dapat terus melahirkan inovator baru demi kemajuan industri kelapa sawit Indonesia.
Ketua Dewan Juri POMI 2026, Ir. Posma Sinurat, M. T menyebutkan bahwa POMI 2026 sendiri merupakan ajang perlombaan inovasi teknologi yang diadakan untuk memberikan dorongan dan motivasi semua pelaku industri sawit agar terus memberikan inovasinya demi perkembangan Pabrik Kelapa Sawit dan industri kelapa sawit yang lebih baik lagi ke depannya.
“Tujuan kompetisi Palm Oil Mill Innovation (POMI) 2026 adalah karena kita melihat banyak gap yang perlu diisi. Lima puluh persen saja diisi maka peningkatan produktivitas di pabrik kelapa sawit masih begitu luar biasa. Potensi ini ada tapi belum digali secara maksimal khususnya bagi perusahaan menengah ke bawah,” ujarnya.
Menurut Posma, ajang tersebut bukan sekadar mencari inovasi terbaik, melainkan membangun budaya inovasi yang berkelanjutan di setiap perusahaan.
“Tujuan POMI yang paling penting adalah memberikan dorongan dan motivasi kepada seluruh praktisi supaya jangan sampai berinovasi itu hanya sesekali atau sesaat lantas berhenti,” kata Posma.
Ia menjelaskan sejak Januari 2026 proses seleksi dilakukan secara bertahap hingga akhirnya sembilan perusahaan lolos ke babak final dan mempresentasikan inovasinya di hadapan empat juri praktisi senior pada hari Selasa, 7 Juli 2026.
“Yang terpenting bagaimana proses itu sudah dilakukan dan berpresentasi di depan senior-senior. Saya mendorong kepada top management perusahaan untuk berinovasi dan mengikutsertakan para staf supaya semakin berinovasi,” ujar Posma.