Kehadiran Perusahaan Kelapa Ini Bikin Semangat Semangat Masyarakat Kotim

Kehadiran Perusahaan Kelapa Ini Bikin Semangat Semangat Masyarakat Kotim

Sampit, mediaperkebunan.id – Kehadiran PT Samudera Coco Indonesia membuat semangat masyarakat yang tinggal di Desa Handil Sohor, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), kembali bangkit.

Sebab, masyarakat Desa Handil Sohor umumnya berprofesi sebagai petani, terutama di subsektor perkebunan kelapa yang memang banyak dibudidayakan.

Dari laman resmi perusahaan yang dipantau Mediaperkebunan.id, Sabtu (7/6/1025), diketahui kalau PT Samudera Coco Indonesia telah berdiri sejak Februari 2023.

Menurut keterangan dari anggota Komisi II DPRD Kotim, Zainuddin, seperti dimuat di laman resmi Antara, PT Samudera Coco Indonesia sempat berhenti beroperasi, dan kini sudah dua bulan pabrik pengolahan kelapa tersebut beroperasi kembali.

Sebagai wakil rakyat, pihaknya mendukung kembali beroperasinya pabrik pengolahan kelapa dan diharapkan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

“Alhamdulillah, perusahaan ini kembali berjalan kurang lebih dua bulan terakhir ini, sebelumnya perusahaan ini memang sudah dibuka tetapi karena suatu permasalahan sempat terhenti dan kami bersyukur ini sudah berjalan lagi,” kata Zainuddin

Zainuddin mengaku sempat meninjau operasional pabrik kelapa tersebut bersama Ketua Komisi II DPRD Kotim Akhyannor di Desa Handil Sohor Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Rabu (4/6/2025).

Berdasarkan pantauan pihaknya perusahaan milik swasta ini memiliki potensi yang cukup besar dan diharapkan bisa memberikan dampak yang besar pula bagi kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.

Dengan adanya perusahaan ini maka hasil bumi berupa kelapa yang menjadi unggulan tiga kecamatan di wilayah selatan Kotim, yakni Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kecamatan Pulau Hanaut dan Kecamatan Teluk Sampit bisa terserap secara optimal.

Apalagi harga yang ditawarkan pihak perusahaan terbilang cukup bagus, yakni Rp 4.000 per kilogram (Kg) dan rata-rata satu buah kelapa memiliki berat 1,1 Kg.

Hal ini, sambung Zainuddin lebih lanjut, tentu menjadi kabar baik bagi para petani kelapa di wilayah setempat.

“Maka dari itu, saya sebagai anggota legislatif dapil 3 Kotim menyarankan agar masyarakat tetap merawat kebun-kebun kelapanya yang ada di lingkungan tersebut, karena ini merupakan potensi yang baik, dalam artinya pemasaran dan harganya jelas,” ujarnya.

Keberadaan pabrik pengolahan kepala ini sudah terbukti mampu menyerap tenaga lokal. Berdasarkan keterangan pihak perusahaan yang ia temui saat kunjungan tersebut, jumlah karyawan yang dipekerjakan di pabrik itu mencapai 300 orang dan 90 persen warga lokal.

Hal tersebut ia buktikan sendiri, karena sebagai warga setempat ia mengenali sebagian pekerja pabrik yang merupakan tetangga maupun kenalannya, di antaranya warga dari Desa Handil Sohor dan Kelurahan Samuda Kecil maupun Samuda Kota.

Bahkan, informasi yang ia terima pendapatan dari para pekerja pabrik tersebut setiap bulannya bisa melebihi upah minimum kabupaten (UMK), sehingga kesejahteraan bagi pekerja pun terjamin.

“Ini merupakan kabar baik dan sesuatu yang membahagiakan, masyarakat kita tidak perlu jauh-jauh mencari pekerjaan dan pendapatan yang mereka terima pun cukup bagus,” imbuhnya.

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini pun berharap peluang ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat, khususnya para petani kelapa agar bisa mengintensifkan kembali kebun kelapanya agar hasil panen atau produksinya meningkat.

Ia juga mengimbau agar para petani kelapa tidak mengalih fungsikan kebunnya untuk usaha lain atau jenis tanaman lain dan memaksimalkan potensi yang ada di depan mata.

“Saya juga berharap kedepannya ini benar-benar kita support, terutama pemerintah daerah agar memberikan dukungan kepada perusahaan maupun petani,” kata Zainuddin.

“Tujuannya, supaya hal ini bisa perkebunan kelapa berikut industri pengolahannya terus dikembangkan agar bisa memberikan dampak ekonomi yang lebih tinggi,” tegas Zainuddin.