Jakarta, mediaperkebunan.id – Meskipun merupakan penghasil perkebunan kelapa, tetapi Sanit Lucia, sebuah negara kepulauan berskala kecil di kawasan laut Karibia, malah ingin belajar banyak dari Republik Indonesia.
Niat tersebut ditandai dengan kunjungan Duta Besar (Dubes) Saint Lucia untuk Indonesia, Menissa Rambally, kepada Masrokhan selaku Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) pada Kementerian Perindustrian (Kemenperin).
Dalama pertemuan yang digelar beberapa waktu yang lalu tersebut, kedua tokoh membahas
mengenai potensi dan peluang kerja sama sektor industri agro yang sudah dan akan dilaksanakan, termasuk penyelenggaraan pelatihan bagi negara-negara di Kepulauan Karibia.
“Pelatihan tersebut dilakukan secara online pada 11 sampai 12 September 2023 dan secara offline dari 23 Mei hingga 5 Juni 2024 di kota Padang, Provinsi Sumatera Barat,” kata Masrokhan.
“Pelatihan itu diikuti oleh sembilan negara dengan 19 peserta, dan dua di antaranya berasal dari Saint Lucia,” ungkap Masrokhan lebih lanjut seperti dikutip Mediaperkebunan.id dari laman resmi Kemenperin,” Minggu (18/5/1025).
Sebagai tindak lanjut dari pelatihan tersebut, Masrokhan bilang, BPSDMI akan melakukan pengembangan inkubator bisnis produk kelapa dan turunannya dengan tujuan agar setiap negara mampu menghasilkan calon entrepreneur secara berkelanjutan.
“’Untuk tahun ini akan dilaksanakan studi kelayakan atau feasibility study pada tanggal 7-22 Juni 2025 dalam rangka memetakan kebutuhan negara Saint Lucia dan negara Guyana dalam pendampingan pembangunan inkubator bisnis produk turunan kelapa,” jelasnya.
Menurut Masrokhan, kelapa merupakan komoditas yang potensial dikembangkan bagi kedua negara, dan pendirian inkubator bisnis ini diharapkan dapat membuka peluang baru bagi pengolahan kelapa secara lebih efisien dan ramah lingkungan.
“Selain kelapa, terdapat potensi kerja sama lain yang sangat menjanjikan, seperti pengolahan sukun dan sargassum. Sargassum memiliki potensi untuk diolah menjadi biodiesel, bioethanol, bahkan pupuk yang bermanfaat bagi pertanian,” imbuhnya.
Selain pengembangan inkubator bisnis, BPSDMI juga berencana untuk membangun mini plant pengolahan kelapa di Saint Lucia dengan dukungan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) bidang pangan, yaitu Organisasi Pangan dan Pertanian atau Food and Agriculture Organization (FAO).
Duta Besar Saint Lucia untuk Indonesia, Menissa Rambally, menyatakan bahwa kelapa adalah sumber daya alam yang sangat berlimpah dan hanya dimanfaatkan untuk produksi minyak kelapa di Saint Lucia, namun banyak tekanan yang dihadapi oleh industri.
“Bagi kami, kelapa merupakan komoditas yang sangat berharga. Jadi, kerjasama dengan Kemenperin ini sangat berarti bagi kami untuk kami dapat membangun kembali industri kelapa yang lesu,” ucap sang Dubes.
“Kerjasama di antara kedua belah pihak juga membuat kami dapat melihat manfaat lain dari kelapa, dan tentunya mendukung sektor agro di negara kami,” tuturnya.
Menissa juga menyampaikan, Perdana Menteri Saint Lucia sudah memberikan mandat untuk memperluas investasi terhadap wiraswasta dan pelaku usaha muda, terutama di sektor agro, dengan mengajak mereka untuk terlibat di industri dan perekonomian negara.
“Jadi, rencana Kemenperin untuk membangun kilang mini atau mini plant sangat mendukung mandat tersebut,” ujarnya.
Pada bulan Mei ini, BPSDMI melalui Politeknik ATI Padang juga tengah memberikan Pelatihan Pengolahan Mangga dan Pisang bagi Negara-Negara di Kawasan Karibia dan diikuti oleh 275 peserta yang merupakan pelaku industri di negara-negara kawasan Karibia.
BPSDMI dan Saint Lucia menyambut baik potensi kerja sama yang telah didiskusikan dan berharap ke depannya dapat melaksanakan pelatihan-pelatihan lainnya, baik secara online maupun offline.
Saint Lucia, salah satu negara di Kepulauan Karibia aktif menjalin kerja sama dengan Indonesia dalam pengembangan sektor industri agro.
Kolaborasi ini juga mencakup program pelatihan kompetensi sumber daya manusia (SDM) untuk menciptakan wirausaha industri baru.
Sejak tahun 1994, kedua negara telah menjalin kerja sama diplomatik bilateral dan multilateral yang baik.
Contohnya, kerja sama antara Kementerian Perindustrian RI melalui BPSDMI dengan Saint Lucia yang terlaksana melalui mekanisme hibah berupa Pelatihan Diversifikasi Pengolahan Produk Kelapa untuk Negara-Negara di Kawasan Karibia.
Pelatihan tersebut dilaksanakan pada tahun 2023 dan 2024 di Politeknik ATI Padang selaku unit pendidikan vokasi di bawah binaan BPSDMI Kemenperin. Pelatihan ini didukung pula oleh Kementerian Keuangan dan Kementerian Luar Negeri RI.