Jakarta, mediaperkebunan.id – Hilirisasi kelapa dalam menjadi sebuah hal yang harus diupayakan melihat kelapa merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia. Apalagi, kelapa bulat memiliki permintaan ekspor yang tinggi dari negara China.
Dilansir dari Badan Pusat Statistik, nilai ekspor kelapa bulat Indonesia mengalami fluktuasi yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Melihat ekspor ke China secara spesifik, pertumbuhan terlihat sangat pesat dari tahun 2020 – 2024.
Pada tahun 2020, ekspor ke China hanya USD 35.180. Angka ini naik ke USD 140.317 pada 2021, lalu melonjak ke USD 267.842 di 2022, dan mencetak rekor USD 958.689 pada 2023. Namun, pada 2024, ekspor ke China turun drastis menjadi USD 683.499.
Melihat potensi yang dapat dihasilkan kelapa Indonesia, Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pelaksanaan Program Hilirisasi Komoditas Prioritas Perkebunan mendorong untuk melakukan hilirisasi kelapa dalam.
Menurut Perhitungan Investasi, Keuntungan, dan Penyerapan Tenaga Kerja (Budidaya & Industri Hilir) dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia, dengan luas 500.000 ha kebun, kelapa bisa menghasilkan Rp700,94 triliun dari modal investasi Rp7,20 triliun hanya dari produk hilir coconut milk dan produk samping.
Apalagi, menurut Mentan saat ini telah terjadi pergeseran mayoritas konsumsi kelapa dari coconut milk jadi virgin coconut oil (VCO). “Dengan melakukan hilirisasi ke virgin coconut oil (VCO), nilai tambah hilirisasi kelapa dalam yang tadinya hanya Rp1.350 per kg jadi Rp145.000 per liter. Ini berarti ada kenaikan 107 kali lipat nilai tambah yang diperoleh,” ujarnya.
Mentan juga menyoroti keunggulan Indonesia yang menjadi tanah subur tanaman kelapa, tidak dengan negara China dan Eropa serta Malaysia yang masih impor dari Indonesia. “Malaysia impor dari kita 400 ribu ton, kita ekspor ini harganya dulu Rp1000 sekarang naik Rp5000 – Rp10.000. Kalau kita ekspor dengan 100x lipat nilainya bisa sampai 1000% kemudian kita olah airnya, tempurungnya, dan serabutnya,” jelasnya.
Dengan kerjasama dari berbagai pihak untuk mengembangkan produk hilirisasi kelapa di bawah komando Kementerian Dalam Negeri atas gagasan Bapak Presiden, Mentan yakin Indonesia akan menjadi negara superpower dan keluar dari middle income trap.
“Ekspor kita hari ini Rp24,9 triliun kalau ini dikali 100 bisa sampai Rp2.400 triliun, apa Indonesia tidak menjadi negara superpower? Dan harganya bisa kita mainkan karena kita pengendali dunia,” katanya.
Kelapa sendiri komoditas yang masuk ke dalam Rencana Pengembangan dan Hilirisasi Komoditas Strategi Perkebunan (ABT 2025-2027) Kementan RI dengan target penanaman 221.890 Ha dan prediksi hasil 5.287.070 ton dan Rp138,49 triliun.