Jakarta, mediaperkebunan.id – Gelaran konferensi bergengsi ke-4 Technology and Talent Palm Oil Mill Indonesia atau TPOMI 2026 resmi berakhir hari ini, Kamis (9/7), di Medan, Sumatera Utara. Acara strategis yang mempertemukan para pemangku kepentingan kelapa sawit nasional ini ditutup dengan pidato refleksi mendalam dari Menteri Pertanian periode 2000–2004, Prof. Bungaran Saragih, Ph.D.
Dalam pidato penutupnya (final closing speech), Bungaran menegaskan bahwa industri kelapa sawit nasional kini tengah memasuki babak baru sejarahnya setelah sukses membangun fondasi produksi selama 40 tahun terakhir. Menurutnya, keberhasilan masa depan tidak lagi diukur dari seberapa besar volume Crude Palm Oil (CPO) yang dihasilkan, melainkan dari reputasi tata kelola di kancah global.
“Empat puluh tahun pertama adalah masa membangun industri; kita membuka kebun, membangun pabrik, mengembangkan pasar, dan meningkatkan produksi hingga menjadi yang terbesar di dunia. Namun, empat puluh tahun ke depan akan menjadi periode yang sangat berbeda. Keberhasilan akan ditentukan oleh kualitas tata kelola, kemampuan berinovasi, penguasaan iptek, integritas kelembagaan, serta kemampuan kita membangun kepercayaan dunia,” ujar Bungaran di hadapan peserta konferensi, Kamis (9/7).
Ia menambahkan, transformasi paradigma mutlak diperlukan agar industri ini tetap relevan dan berdaya saing. Pelaku industri dituntut beralih dari pola pikir sektoral berbasis komoditas menuju penguatan ekosistem agribisnis yang terintegrasi, adil, dan berkelanjutan.
“Paradigma kita harus berubah. Dari berpikir mengenai produksi menjadi berpikir mengenai sistem. Dari berbicara mengenai komoditas menjadi ekosistem agribisnis. Dari mengejar volume menjadi menciptakan nilai tambah, serta dari sekadar pertumbuhan ekonomi menjadi penciptaan kesejahteraan yang berkeadilan,” tegasnya.
Konferensi TPOMI 2026 yang berlangsung selama dua hari sejak Rabu (8/7) ini mengusung tema besar “Updating Technology & Talent Palm Oil Mill and Downstream” dengan sub-tema “Hilirisasi Komoditi Perkebunan Menuju Sawit Pilar Indonesia Emas 2045”. Fokus utama dari ajang ini adalah menyoroti integrasi teknologi mutakhir (digitalisasi pabrik) serta kesiapan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menghadapi tuntutan keberlanjutan global.
Lebih lanjut, Bungaran mengimbau agar kelapa sawit tidak hanya dipandang dalam perspektif sempit perdagangan ekspor semata. Melainkan, komoditas ini harus diletakkan dalam strategi besar pembangunan nasional karena perannya yang krusial pada ketahanan pangan, pasokan energi terbarukan, pembangunan wilayah pedesaan, serta instrumen diplomasi ekonomi luar negeri Indonesia.
Di akhir penyampaiannya, ia mengajak pemerintah, dunia usaha, akademisi, peneliti, masyarakat sipil, hingga generasi muda dan para petani untuk menghentikan polemik yang tidak produktif dan mulai berkolaborasi secara nyata dalam menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim dan geopolitik pasar internasional.
“Perjuangan sawit Indonesia pada masa depan bukan lagi sekadar menjadi produsen terbesar di dunia. Perjuangan kita adalah menjadi bangsa yang paling dipercaya dunia dalam mengelola industri sawit secara produktif, adil, inklusif, dan berkelanjutan,” pungkas Bungaran menutup gelaran konferensi TPOMI 2026.
Meski gelaran konferensi TPOMI 2026 sudah berakhir, namun rangkaian acara dari TPOMI 2026 masih berlangsung hingga 11 Juli 2026, dimana besok akan diadakan konferensi yang tidak kalah menarik yaitu ajang International Coconut Conference & Exhibition atau IICCE 2026. Eksibisi ini akan memamerkan beragam inovasi terbaru, meliputi teknologi manufaktur, mesin pengolahan modern, peralatan perkebunan, produk hilir kelapa, sistem pengemasan, hingga solusi rantai pasok global.