Tanpa Kita Sadari, Cara Pengolahan Minyak Sawit Banyak Hilangkan Nutrisi Penting bagi Tubuh

Tanpa Kita Sadari, Cara Pengolahan Minyak Sawit Banyak Hilangkan Nutrisi Penting bagi Tubuh

Jakarta, mediaperkebunan.id – Tanpa kita sadari, proses pengolahan minyak sawit atau proses pemurnian minyak goreng yang selama ini dilakukan oleh kalangan industri telah mengakibatkan hilangnya banyak vitamin atau nutrisi yang sangat penting bagi tubuh atau kesehatan manusia.

Kebiasaan jelek itu berlangsung sejak dahulu hingga saat ini. Bahkan, berdasarkan penelusuran Mediaperkebunan.id, Senin (12/5/2025), pada tahun 2012, pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) harus mengeluarkan sebuah kebijakan yang cukup tegas.

Saat itu pemerintah mewajibkan industri refineri kelapa sawit untuk melakukan fortifikasi vitamin A terhadap setiap produk minyak goreng yang dihasilkan oleh kalangan industri.

Kebijakan ini diwujudkan oleh pemerintah saat itu melalui Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 7709 Tahun 2012 tentang Minyak Goreng Sawit, yang mengharuskan produsen minyak goreng kemasan untuk menambahkan vitamin A.

Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk mengatasi masalah kekurangan vitamin A pada masyarakat Indonesia, yang sering dikaitkan dengan risiko berbagai penyakit, seperti gangguan penglihatan dan penurunan daya tahan tubuh.

Menurut Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Putu Juli Ardika, selama ini masyarakat luas belum menyadari bahwa minyak sawit mengandung nutrisi penting bagi tubuh.

“Seperti mengandung betakaroten, 
tocopherol, MCT atau medium chain triglyceride, squalane, dan antioksidan
 yang berkhasiat menjaga kesehatan tubuh manusia,” ungkap putra kelahiran Pulau Bali ini.

Hal itu diungkapkan oleh Putu Juli Ardika saat berbicara dalam “Rapat Kick Off Kerja Sama Riset Kolaboratif antara Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI) dengan PT Kimia Farma Tbk, Jumat (9/5/2025).

Perlu diketahui bahwa MAKSI dipimpin oleh Dr Ir Darmono Taniwiryono selaku Ketua Umum, sementara PT Kimia Farma Tbk adalah salah satu badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak di bidang produksi obat-obatan atau farmasi.

Kata Putu Juli Ardika, proses produksi minyak sawit modern melalui pemurnian minyak secara kimiawi justru menghilangkan kandungan nutrisi penting alami dari minyak sawit.

Akibatnya, sambung Putu Juli Ardika, proses pemenuhan akan kebutuhan vitamin atau nutrisi di dalam minyak olahan sawit harus dipenuhi dari suplemen kesahatan sintetik atau dari sumber lainnya.

Dia menjelaskan, suplementasi vitamin dari sumber nabati, termasuk dari minyak kelapa sawit yang diproses alami, merupakan opsi cerdik untuk menjaga kecukupan nutrisi masyarakat.

“Terutama bagi kelompok masyarakat yang dinilai sangat rentan seperti anak-anak sekolah dan ibu hamil atau yang sedang menyusui,” ungkap Putu.

Dia menambahkan, Kemenperin melengkapi dukungan fasilitasi riset kolaboratif dengan kegiatan penyusunan rancangan standar nasional Indonesia (RSNI) untuk produk suplemen kesehatan berbasis kelapa sawit sebagai pendukung program MBG.

Keberadaan SNI produk suplemen kesehatan ini sangat penting untuk membuka peluang seluruh pihak, baik pihak BUMN, swasta, dan/atau pihak lain untuk dapat terlibat dalam program nasional menjaga kecukupan nutrisi masyarakat termasuk melalui program MBG.

“Rapat kick off juga dimaksudkan untuk membentuk pioneering model kerja sama kolaboratif antar pihak sehingga mendukung upaya mentransformasikan inovasi hasil riset menjadi skala komersial, dengan fasilitasi dari Kemenperin,” kata Putu.

Dalam hal ini, Kemenperin akan memfasilitasi diadakannya pertemuan teknis ilmiah untuk membulatkan konsep pengembangan produk suplemen bersama ahli atau pakar gizi nasional.

Lebih lanjut, Kemenperin akan menjembatani aspek legal kerja sama termasuk manajemen kekayaan intelektual serta menentukan  requirements agar hasil riset kolaboratif ini dapat diimplementasikan menjadi program skala nasional, khususnya mendukung program makan bergizi gratis (MBG).

Pihaknya berharap model pionir
collaborative research antara pihak MAKSI dan PT Kimia Farma Tbk dalam produk suplemen kesehatan berbasis kelapa sawit ini dapat menjadi tonggak sejarah yang baru.

“Khususnya dalam pengembangan bidang industri agro yang masih terbuka lebar dan potensial dieksplorasi mendalam hingga sampai pada skala industri komersial,” tegas Putu Juli Ardika.