Sejuta Kumbang Didatangkan dari Tanzania demi Genjot Produksi Sawit, Diteliti di PPKS Medan

Sejuta Kumbang Didatangkan dari Tanzania demi Genjot Produksi Sawit, Diteliti di PPKS Medan

Jakarta, mediaperkebunan.id – Indonesia bakal mendatangkan sejuta kumbang dari Tanzania demi menggenjot produksi perkebunan kelapa sawit agar mampu menghasilkan tandan buah segar (TBS) yang berkualitas dan berkualitas baik.

Ada tiga spesies kumbang yang didatangkan dari salah satu negara di benua Afrika tersebut, untuk kemudian dikembangbiakkan di sebuah fasilitas pengembangbiakan di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) pada bulan April 2025.

“Proses itu dibutuhkan untuk serangkaian pengujian sebelum dilepaskan,” kata Dwi Asmono, kepala penelitian dan pengembangan (Litbang) di Gabungan Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), seperti dikutip Media perkebunan.id dari laman Blombergtechnoz.com, Selasa (1/4/0025).

Perlu diketahui bahwa serangga didatangkan dari Tanzania karena kelapa sawit yang ada di Indonesia dari benuar Afrika. Situasi ini diperkirakan membuat kumbang Tanzania tersebut sangat cocok untuk peran tersebut.

Apalagi pada masa lalu proses pelepasan serangga dari Afrika juga telah berhasil dilaksanakan di perkebunan kelapa sawit di Indonesia pada masa yang lalu. Serangga itu sendiri berasal dari genus Elaeidobius atau kumbang penyerbuk kelapa sawit, yang berukuran sekitar atau sedikit lebih besar dari ukuran kepala peniti. Semua kumbang atau serangga tersebut memiliki kapasitas besar untuk memindahkan serbuk sari dan sangat spesifik terhadap inang pohon kelapa sawit.

Kumbang tersebut menawarkan solusi yang lebih cepat bagi petani untuk mengatasi masalah pasokan, tetapi mereka berisiko mengalihkan perhatian dari kebutuhan mendesak untuk mengganti perkebunan lama yang tidak lagi menghasilkan pada puncaknya. Pohon baru mulai berbuah pada usia tiga tahun, sedangkan serangga dapat menghasilkan tandan yang lebih besar dalam waktu 12 bulan.

Kumbang Afrika akan membantu menghidupkan kembali pertumbuhan produksi setelah bertahun-tahun produksi terhenti, yang berasal dari pohon-pohon tua yang beberapa petani enggan menanamnya kembali karena butuh waktu lama untuk berbuah. Pasokan yang terbatas, termasuk dari produsen terbesar kedua, Malaysia, telah menyebabkan kelapa sawit melepaskan statusnya sebagai minyak sayur termurah di dunia dibandingkan minyak kedelai. Seperti diketahui Indonesia sekarang ingin memperluas program biofuelnya, yang berarti lebih banyak minyak kelapa sawit akan dialihkan ke pasokan lokal daripada digunakan untuk ekspor.

Industri kelapa sawit Indonesia dan Malaysia telah berkembang pesat selama beberapa dekade terakhir, yang sering kali mengorbankan sebagian besar hutan dan rimba asli. Keduanya kini menghasilkan sekitar 85% pasokan global minyak sayur yang paling banyak digunakan, yang dapat ditemukan dalam berbagai produk mulai dari cokelat hingga kosmetik dan biofuel.

Minyak kelapa sawit berasal dari Afrika, sehingga serangga Tanzania sangat cocok untuk peran tersebut, dan pelepasan serangga telah berhasil di masa lalu. Kumbang diperkenalkan selama tahun 1980-an ke perkebunan di Indonesia dan Malaysia, yang mengakibatkan peningkatan signifikan dalam tingkat produksi.“

Kita membutuhkan batch serangga baru,” kata Dwi Asmono lebih lanjut. Didukung pemerintah, Dwi bilang Gapki akan memimpin inisiatif tersebut.

“Ini akan seperti memiliki sekelompok pekerja bebas untuk menyerbuki bunga.Beberapa faktor yang perlu dipelajari sebelum dilepasliarkan secara luas adalah musuh, kawan, dan perilaku mereka di pagi, siang, dan malam hari,” sambung Dwi Asmono.

Sebuah tim peneliti Indonesia mengumpulkan sekitar 6.000 kumbang di Tanzania pada bulan Januari, yang akan dikirim ke laboratorium milik Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan. Sebuah gugus tugas yang meliputi para ahli entomologi dan Komisi Keamanan Hayati akan mempelajari serangga dan interaksinya dengan spesies lokal sebelum dilepasliarkan di perkebunan.

Kumbang akan berkembang biak dalam jumlah besar di fasilitas tersebut sebelum diberikan kepada sekitar 20 perusahaan yang menjadi bagian dari inisiatif tersebut, menurut Asmono dari Gapki. Kementerian Pertanian akan memutuskan langkah selanjutnya termasuk potensi distribusi yang lebih luas setelah uji coba tersebut, tambahnya.

“Kami berharap ini dapat meningkatkan produksi minyak sawit nasional secara signifikan,” tegas Dwi Sutoro, seorang direktur di PT Perkebunan Nusantara III (Persero), yang ikut serta dalam program tersebut.