Prof. Santiaji Jabarkan Pengendalian OPT Secara Terpadu di Workshop Sawit 3T

Prof. Santiaji Jabarkan Pengendalian OPT Secara Terpadu di Workshop Sawit 3T

Kendari, mediaperkebunan.id – Produktivitas kelapa sawit rakyat di wilayah tertinggal, terluar, dan terdepan (3T) tidak hanya ditentukan oleh penggunaan benih unggul dan pemupukan, tetapi juga kemampuan petani dalam mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT). Pengendalian penyakit, hama, dan gulma dinilai menjadi faktor penting agar produksi sawit tetap optimal dan berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. La Ode Santiaji Bande, S.P., M.P., dari Universitas Halu Oleo dalam Workshop & Pasar Benih Sawit bertema “Meningkatkan Perekonomian Daerah 3T dengan Kelapa Sawit” di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Kegiatan tersebut digelar sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas sawit rakyat di Sultra yang hingga saat ini masih menjadi provinsi dengan produktivitas sawit terendah di Indonesia. Sultra sendiri memiliki areal perkebunan sawit yang cukup besar, namun produktivitasnya masih sekitar 1,5 ton per hektare akibat berbagai kendala seperti penggunaan benih ilegal, rendahnya penerapan praktik budidaya terbaik, hingga keterbatasan akses informasi perkebunan.

Dalam materinya, Prof. Santiaji menjelaskan bahwa OPT merupakan seluruh organisme yang dapat merusak tanaman dan menyebabkan kerugian ekonomi pada perkebunan sawit. “OPT adalah semua organisme yang dapat merusak, mengganggu kehidupan, atau menyebabkan kematian tumbuhan,” jelas Prof. Santiaji dalam materinya.

Ia menjelaskan bahwa OPT pada kelapa sawit terdiri dari patogen penyebab penyakit, hama, dan gulma. Ketiganya harus dikendalikan secara tepat agar tidak menurunkan produktivitas tanaman. “Hama merupakan semua organisme atau binatang yang karena aktivitas hidupnya merusak tanaman sehingga menimbulkan kerugian ekonomi bagi manusia,” tulis Prof. Santiaji dalam materi yang dipaparkannya.

Salah satu penyakit yang banyak ditemukan di perkebunan sawit adalah bercak daun. Penyakit ini menyerang helaian daun dan menyebabkan jaringan daun mengering hingga berwarna cokelat gelap. Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa penyakit bercak daun disebabkan oleh berbagai jenis jamur patogen seperti Curvularia sp., Pestalotiopsis sp., Bipolaris sp., dan Helminthosporium sp.

Untuk mengendalikan penyakit tersebut, Prof. Santiaji menekankan pentingnya sanitasi kebun dan pemupukan yang tepat. “Pengendalian dapat dilakukan dengan sanitasi dan pemangkasan, pengaturan jarak tanam dan tajuk, pemupukan berimbang sesuai rekomendasi analisis tanah,” jelasnya.

Selain bercak daun, penyakit busuk umbut juga menjadi ancaman serius pada tanaman sawit, terutama pada tanaman muda. Gejalanya ditandai dengan daun tombak yang menguning, mengering, hingga mudah tercabut dari titik tumbuh dan mengeluarkan bau menyengat khas pembusukan. Penyakit ini disebabkan oleh sejumlah patogen seperti Ceratocystis paradoxa, Fusarium spp., Phytium sp., hingga Phytophthora sp.

Dalam pengendaliannya, Prof. Santiaji menekankan pentingnya menjaga kondisi tanah dan keseimbangan nutrisi tanaman. “Perbaikan aerasi tanah yang buruk, pemupukan berimbang, dan mengatasi serangan serangga yang menyebabkan luka pada tanaman,” menjadi salah satu langkah pengendalian yang disampaikan dalam materi tersebut.

Penyakit lain yang menjadi perhatian besar dalam perkebunan sawit adalah busuk pangkal batang akibat Ganoderma boninense. Penyakit ini dikenal sebagai salah satu penyebab utama kematian tanaman sawit di berbagai sentra produksi.

Dalam materi yang dipaparkan, gejala Ganoderma ditandai dengan daun menguning pucat, pelepah mengering, muncul dua daun tombak yang tidak membuka, hingga muncul tubuh buah jamur di pangkal batang.

Prof. Santiaji menekankan bahwa pengendalian Ganoderma harus dilakukan secara terpadu sejak awal, terutama pada saat replanting. “Pengendalian hayati: aplikasi Trichoderma sp. atau Gliocladium sp. pada lubang tanam saat penanaman bibit untuk menghambat pertumbuhan Ganoderma,” jelasnya.

Selain pengendalian hayati, ia juga menyoroti pentingnya kultur teknis seperti sanitasi lahan, pembongkaran tunggul tanaman lama, hingga pengamatan rutin di lapangan. “Membongkar dan membakar tunggul-tunggul sisa tanaman lama yang berpotensi menjadi inokulum, terutama saat tanam ulang (replanting),” tertulis dalam materi tersebut.

Tidak hanya penyakit, pengendalian gulma juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan kebun sawit rakyat. Dalam materinya, Prof. Santiaji menjelaskan bahwa gulma seperti alang-alang, rumput pahitan, hingga berbagai jenis pakis dapat mengganggu pertumbuhan tanaman jika tidak dikendalikan dengan baik.

Ia menjelaskan bahwa pengendalian gulma tidak selalu harus menggunakan bahan kimia, tetapi dapat dilakukan melalui pendekatan terpadu. “Pengendalian secara kultur teknis: menanam tanaman penutup tanah kacangan (Legume Cover Crops/LCC),” jelasnya.

Selain itu, ia juga menyebut pengendalian biologis melalui integrasi sapi-sawit serta pemanfaatan kompetisi alami gulma sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan. “Pengendalian secara biologis: menggunakan organisme hidup untuk menekan populasi gulma,” tulis Prof. Santiaji.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Santiaji juga mengingatkan pentingnya peran petani dalam melakukan pengamatan rutin di kebun agar gejala serangan OPT dapat dideteksi lebih dini sebelum menimbulkan kerugian besar.