Sorong, mediaperkebunan.id – Perkebunan kelapa sawit sudah hadir di Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Selatan dan Papua Tengah. Perusahaan perkebunan kelapa sawit sudah hadir di provinsi tersebut. Dalam Workshop Meningkatkan Perekonomian Daerah 3T dengan Kelapa Sawit Seri 2 di Hotel Rylich Panorama, Kota Sorong, Papua Barat Daya yang diselenggarakan Perkumpulan Forum Petani Kelapa Sawit Jaya Indonesia didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit, terungkap pengakuan salah seorang pemuda bahwa dia tidak tahu sama sekali soal sawit.
Salah seorang pemuda suku Moi di Papua Barat Daya, Yeskiel mengungkapkan bahwa dirinya hingga kini tidak mengetahui secara mendalam mengenai perkebunan kelapa sawit maupun berbagai aspek pengelolaannya. Dia juga tidak terlibat dalam pengelolaan kebun yang berada di wilayahnya.
Menanggapi hal ini Bambang, Dewan Pembina POPSI yang juga Direktur Jenderal Perkebunan periode 2016 – 2018 menyatakan pembangunan perkebunan sawit di Papua harus diubah dengan membangun perkebunan sawit rakyat.
Perusahaan perkebunan harus membangun kebun plasma tetapi petani terlibat langsung. Program pembangunan sawit di Papua harus berupa perkebunan kelapa sawit rakyat. Petani kelapa sawit plasma pada masa lalu di Sumatera dan Jawa sudah banyak yang sejahtera. Saatnya masyarakat Papua juga sejahtera dengan sawit.
“Papua dengan tanah yang subur potensial untuk sawit. Perlu dibuat pola kemitraan khusus yang khas mengingat kuatnya hukum adat dan tanah ulayat yang menguntungkan masyarakat dan perusahaan. Ubah pembangunan perkebunan sawit di Papua dengan penekanan pada perkebunan sawit rakyat,” katanya.
Selama ini sawit banyak diserang kampanye hitam salah satunya karena banyak diusahakan oleh perusahaan swasta. Hal ini bisa dikurangi dengan perkebunan sawit rakyat. Dalam pelaksanaanya, pemerintah daerah dan organisasi masyarakat sipil juga harus dilibatkan. Perbanyak partisipasi semua pihak.
Sosialisasi juga harus digencarkan baik pada masyarakat, mahasiswa dan akademisi di Papua sehingga perkebunan sawit rakyat bisa diterima di Papua. “Memang tidak mudah dan tidak bisa instan tetapi harus dilakukan. Masyarakat Papua juga harus merasakan seperti saudaranya di Sumatera dan Kalimantan bisa sejahtera dari sawit. Potensi sawit untuk mensejahterakan masyarakat sangat besar,” katanya.
Pada sambutanya Bambang menyatakan bahwa saat ini pemerintah memberikan perhatian yang sangat besar terhadap pengembangan sawit rakyat melalui berbagai program yang didanai BPDP. Menurutnya, pengembangan wilayah 3T dapat dilakukan dengan pengembangan sawit rakyat.
“Saat ini ada perhatian yang luar biasa dari pemerintah melalui BPDP. Dana dari industri sawit dikembalikan lagi kepada masyarakat, antara lain untuk peremajaan sawit rakyat, sarana dan prasarana perkebunan, serta beasiswa,” ujarnya.
Menurut Bambang, pemanfaatan program-program BPDP di daerah masih perlu ditingkatkan karena respons masyarakat di sejumlah wilayah, termasuk daerah 3T, masih relatif rendah. Ia menjelaskan bahwa salah satu titik kritis pengembangan perkebunan sawit terletak pada penggunaan benih.
“Titik kritis pengembangan sawit itu ada di benih. Kalau salah di benih, sudah habis. Karena itu hari ini banyak bicara tentang benih dan penyedia benih tersertifikasi juga hadir di sini,” katanya.
Bambang juga mengingatkan bahwa bantuan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dapat dimanfaatkan oleh pekebun yang sebelumnya menggunakan benih yang tidak sesuai sehingga produktivitas kebunnya rendah.
“BPDP ini khusus diberikan kepada rakyat. Walaupun prosesnya cukup berat, mohon dimanfaatkan resource ini untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.