Jakarta, mediaperkebunan.id – Petani Kelapa Sawit Produktif Indonesia (PKSPI) sebagai asosiasi petani mendorong lahirnya model kemitraan yang lebih kuat antara petani sawit swadaya dengan perusahaan-perusahaan besar serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Langkah tersebut dinilai menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas petani sekaligus memperkuat daya saing industri sawit nasional.
Ketua Bidang Kemitraan Strategis Koperasi, Perusahaan Swasta, dan BUMN DPP PKSPI, Tidar M. Bagaskara, mengatakan bahwa selama ini masih terdapat kesenjangan yang cukup lebar antara produktivitas perkebunan rakyat dan perkebunan yang dikelola secara profesional oleh perusahaan besar. Sebagian besar persoalan yang dihadapi petani bukan hanya terkait harga Tandan Buah Segar (TBS), tetapi juga keterbatasan akses terhadap teknologi, manajemen perkebunan, sumber daya manusia, hingga tata kelola usaha yang modern.
“PKSPI mendorong pembangunan kemitraan yang lebih kuat antara kelembagaan petani dengan perusahaan-perusahaan besar dan BUMN. Kemitraan ini bukan hanya soal pemasaran hasil panen, tetapi juga bagaimana petani mendapatkan transfer teknologi, peningkatan kapasitas SDM, serta tata kelola perkebunan yang lebih profesional,” ujar Tidar.
Ia menjelaskan bahwa produktivitas kebun sawit rakyat di berbagai daerah masih berada di bawah potensi ideal yang seharusnya dapat dicapai. Sementara perusahaan-perusahaan besar telah menerapkan standar operasional, penggunaan bibit unggul, sistem pemupukan yang terukur, pemanfaatan teknologi, hingga pengelolaan sumber daya manusia yang lebih baik.
Karena itu, menurut Tidar, pola kemitraan yang dibangun ke depan harus mampu menghadirkan proses transfer pengetahuan dan pengalaman dari perusahaan kepada petani swadaya. “Target akhirnya adalah peningkatan produktivitas petani. Jika petani dapat menerapkan standar kerja yang selama ini digunakan perusahaan-perusahaan profesional, maka hasil produksi akan meningkat, kualitas panen menjadi lebih baik, dan pendapatan petani juga akan bertambah,” katanya.
Tidar menilai agenda hilirisasi kelapa sawit yang saat ini menjadi prioritas pemerintah juga akan lebih berhasil apabila didukung oleh peningkatan kapasitas petani di tingkat hulu. Keberhasilan hilirisasi harus dimulai dari perkebunan yang produktif dan dikelola secara profesional.
Ia juga mendorong agar perusahaan-perusahaan besar tidak hanya menjalankan kemitraan sebagai kewajiban administratif, tetapi benar-benar menjadi mitra pembangunan bagi petani di sekitar wilayah operasionalnya. “Perusahaan besar memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan perkebunan modern. Pengalaman tersebut harus menjadi kekuatan bersama untuk membangun petani yang lebih maju, lebih produktif, dan lebih mandiri. Ketika petani kuat, maka industri sawit nasional juga akan semakin kuat,” tegasnya.
Selain kemitraan dengan perusahaan swasta, PKSPI juga melihat peluang besar kerja sama dengan BUMN dalam bidang pembiayaan, penguatan koperasi, penyediaan sarana produksi, pelatihan sumber daya manusia, hingga pengembangan usaha hilir berbasis masyarakat. Petani sawit swadaya tidak boleh hanya ditempatkan sebagai pemasok bahan baku semata, tetapi harus dipersiapkan menjadi pelaku ekonomi yang mampu bersaing dan mengambil manfaat lebih besar dari pertumbuhan industri sawit nasional.