MPOB dalam SCOPEX 2026 Tekankan Ganoderma Sawit Butuh Penanganan Terpadu dari Deteksi Dini hingga Penggunaan Agen Hayati

MPOB dalam SCOPEX 2026 Tekankan Ganoderma Sawit Butuh Penanganan Terpadu dari Deteksi Dini hingga Penggunaan Agen Hayati

Medan, mediaperkebunan.id – Penyakit busuk pangkal batang (Basal Stem Rot/BSR) akibat Ganoderma masih menjadi ancaman serius bagi industri kelapa sawit di Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Malaysia. Dalam acara SCOPEX 2026, Dr. Shamala Sundram dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) memaparkan pentingnya pendekatan terpadu dan kolaboratif dalam pengendalian Ganoderma demi menjaga keberlanjutan industri sawit.

Dalam materinya, Shamala menjelaskan bahwa pengendalian Ganoderma tidak bisa hanya mengandalkan satu metode, tetapi harus mengombinasikan pendekatan biologis, fisik, kimia, hingga teknologi presisi. Salah satu langkah utama yang masih direkomendasikan hingga saat ini adalah sanitasi kebun.

Ia menekankan bahwa pengelolaan material tanaman yang terinfeksi menjadi faktor paling penting dalam menekan penyebaran penyakit di lapangan. Oleh sebab itu, penelitian terkait pengelolaan residu tanaman terinfeksi perlu terus diperkuat.

Selain sanitasi, MPOB juga mengembangkan pendekatan Integrated Ganoderma Management (IGM) yang menggabungkan penggunaan agen hayati, pengelolaan kesehatan tanah, hingga teknologi modern untuk deteksi dini penyakit. Pendekatan ini dinilai mampu menciptakan kondisi tanah yang lebih sehat dan menekan perkembangan patogen secara alami.

“Pendekatan pengelolaan Ganoderma terpadu (Integrated Ganoderma Management/IGM) dengan unsur sifat biologis seperti agen pengendali hayati (BCA) direkomendasikan untuk diterapkan guna meningkatkan kesehatan tanah dan menciptakan tanah yang bersifat suppressive (menekan perkembangan penyakit),” paparnya pada hari Rabu (20/05/2026).

Shamala menjelaskan bahwa kesehatan tanah menjadi fondasi penting dalam menghadapi Ganoderma. “Kombinasi faktor biologis, fisik, dan kimia dapat menjadi sumber yang sangat baik bagi tanaman untuk tumbuh optimal dan secara alami memiliki ketahanan terhadap penyakit,” ungkapnya.

Dalam bidang teknologi, MPOB juga mengembangkan berbagai inovasi pertanian presisi untuk mendeteksi Ganoderma lebih awal. Teknologi tersebut antara lain GanoSken tomography berbasis gelombang ultrasonik, pemanfaatan UAV dengan RGB dan near infrared (NIR), hyperspectral imaging, pengukuran dielectric constant, chlorophyll measurement, hingga teknologi LIDAR.

Meski demikian, ia mengakui bahwa penerapan teknologi tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan seperti tingkat akurasi, spesifisitas deteksi yang saling tumpang tindih, hingga biaya implementasi yang relatif tinggi.

Selain pengembangan teknologi deteksi dini, MPOB juga melakukan riset terhadap bahan tanaman tahan Ganoderma melalui fasilitas screening khusus di MPOB Research Station, Keratong, Pahang. Penelitian dilakukan melalui pendekatan molecular proteomic, metabolomic, hingga identifikasi SNPs untuk mendukung pengembangan material tahan penyakit dan sistem deteksi dini.

“Dalam aspek pengendalian kimia, tanaman yang tidak dirawat memiliki tingkat kematian sangat tinggi akibat Ganoderma, yakni mencapai 85–100 persen dalam waktu 36–60 bulan. Sementara pada tanaman yang mendapatkan perlakuan pengendalian, tingkat kematiannya dapat ditekan menjadi sekitar 36,3 persen,” jelas Shamala.

MPOB juga tengah mengembangkan teknologi nano formulation yang dinilai lebih efektif, memiliki penyebaran lebih baik, dan lebih mudah diaplikasikan di lapangan. Penelitian terkait teknologi ini masih terus berlangsung.

Lebih lanjut, Shamala menegaskan bahwa penanganan Ganoderma membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, industri, peneliti, perguruan tinggi, hingga pekebun.

“Pengelolaan Ganoderma memerlukan pendekatan menyeluruh dari seluruh industri dengan menggabungkan dukungan kebijakan, peningkatan kesadaran, kemitraan, dan inovasi kolaboratif untuk keberlanjutan jangka panjang,” ungkapnya.