Jakarta, Mediaperkebunan.id- Salah satu varietas unggul baru tebu yang mendapat persetujuan untuk dilepas adalah varietas lokal Joyo Rosan 16 menjadi Panjalu 1. Joyo Rosan 16 merupakan varietas lokal hasil pengamatan Mohammad Irawan Nusantara , petani tebu/penangkar dari Kediri. Joyo Rosan 16 sendiri sudah banyak ditanam oleh petani tebu Jawa Timur.
Joyo Rosan lahir dari pengamatan Irawan ketika menanam tebu ada yang pertumbuhannya berbeda. Tebu itu diambil dan ditanam terpisah serta diamati. Bagi ilmu pemuliaan apa yang dilakukan itu sudah bisa disebut seleksi. Tebu dengan produksi tinggi ini kemudian dilakukan kultur meristem di Universitas Muhamadiyah Purwokerto sehingga bisa jadi varietas baru. Selanjutnya ditanam dan menjadi varietas baru lokal.
Kepada Media Perkebunan , JIrawan menyatakan sebagai petani dia selalu ingin melakukan sesuatu itu setiap harus harus lebih baik lagi dari kemarin. Sebagai petani tebu Irawan merasa prihatin karena Indonesia yang pada jaman Belanda merupakan eksportir gula sekarang malah jadi importir.
“Ini merupakan tanggung jawab kita bersama. Sebagai petani yang punya hobi mengamati dan mengumpulkan yang aneh-aneh, saya sering mengumpulkan varietas yang saya anggap baru dan aneh. Saya tanam, amati kalau terkena penyakit saya tanya pada ahli-ahli tebu apakah bisa disembuhkan,” kata Joyo.
Sebagai petani Irawan selalu ingin memberkan yang terbaik termasuk dalam budidaya tebu. Diawali dari hidup yang menurut istilah Irawan minus, tidak punya apa-apa , hidup ikut orang dengan motivasi selalu memberikan yang terbaik sekarang selain jadi petani tebu dan penangkar benih tebu, juga punya sekolah dari play group sampai SD.
Sebagai petani tebu, Irawan berprinsip mengotimalkan lahan yang dipunyai untuk menghasilkan tebu dengan produksi tinggi sehingga keuntungan juga tinggi. Tidak terlalu memaksa memperluas lahan bila tidak bisa dikelola secara optimal. Karena dikelola optimal maka produkti tinggi dan keuntungan juga lebih tinggi. Kalau lahan yang ada bisa optimal dan mampu maka bisa diperluas.
Irawan merupakan petani mandiri dengan modal sendiri, bukan binaan pabrik gula sehingga tebu dari kebunnya akan dijual pada pihak yang memberi harga tinggi. “Tebu saya ada yang digiling di PG Pesantren Baru, PG Kebun Tebu Mas ada juga yang diolah pengarajin gula merah tebu. Saya tidak pernah berutang pada PG jadi kita bebas menjual tebu ke mana saja,” katanya.