Kediri, mediaperkebunan.id – Salah satu masalah utama yang dihadapi petani tebu adalah kesulitan mencari tenaga kerja buruh tani untuk budidaya sampai panen. Tinggal beberapa orang tua sedang anak muda hanya sedikit yang mau. Hal ini wajar karena buruh tani tentu tidak mau anaknya meneruskan profesi orang tuanya. “Karena itu saat ini mekanisasi tebu sudah keharusan. Masalahnya lahan petani tebu di Jawa Timur ini kecil-kecil. Kami saat ini sudah bisa melakukan mekanisasi sepenuhnya mulai dari luas 0,7 ha,” kata Mohammad Irawan Nusantara, petani tebu, Ketua Kelompok Petani Sri Lestari. Dusun Kemuning, Desa Turi, Kecamatan Gurah, Kedir. Irawan juga pemulia varietas tebu Panjalu 1 dan penangkar dengan nama CV Joyo Rosan.
Uji coba sudah berjalan dan menunjukkan keberhasilan mulai olah tanah, perawatan seperti pemupukan, dan penyemprotan. Ke depan sedang diupayakan penyemprotan menggunakan drone. Dengan penggunaan teknologi maka anak muda tertarik bekerja pada budidaya tebu. Mereka tetap bekerja di kebun tebu tetapi dengan cara dan upah yang berbeda dengan orang tuanya.
Salah satu syarat mekanisasi tebu adalah menggunakan varietas yang tahan penyakit. Traktor roda empat bersama dengan implemennya berpindah-pindah areal. Kalau yang ditanam varietas yang tidak tahan, maka penyakit tebu akan mudah tersebar.
Tanaman juga harus tahan roboh karena mekanisasi dilakukan sepenuhnya mulai dari penanaman sampai panen. Varietas unggul Panjalu 1 memenuhi semua kriteria ini sehingga cocok untuk mekanisasi.
Panjalu 1 ruasnya tidak panjang sehingga tanaman sangat kokoh. Perakarannya juga sangat dalam. Anakannya bagus, setelah panen bisa menggunakan mesin kepras, juga proses klentekan menggunakan alsintan. Jarak tanam antar barisan adalah 180-50.
“Kita terus uji coba full mekanisasi dengan pengawalan dari Universitas Brawijaya sehingga ada formulasi tepat untuk full mekanisasi petani berukuran lahan sempit,” katanya.
Irawan mengusahakan panen, tebang, angkut juga mekanisasi semua, dengan capit mengangkat tebu ke truk, juga timbangan sebelum masuk ke PG. “Sampai saat ini luas minimal yang bisa full mekanisasi adalah 0,7 ha sedang di bawah itu semi mekanisasi,” katanya.
Hal ini dilakukan karena mekanisasi dengan konsep konsolidasi lahan pada masa lalu ternyata di lapangan tidak berjalan. Irawan yakin sampai kapanpun tidak akan bisa berjalan. Petani tetap mempertahankan batas-batas lahannya, tidak mau dikonsolidasikan dalam satu hamparan, sehingga konsep mekanisasinya yang diubah.
Harus dibuat mekanisasi tanpa konsolidasi lahan dengan memodifikasi implement yang ada. Alat dari pabrik dimodifikasi dan disesuaikan dengan kebutuhan lapangan. Dengan PKP (Pusat Ke Pusat), jarak antar barisan 180-50 ternyata masih menguntungkan.
“Kita cari kekurangan dan kelebihannya sambil menyiapkan alat-alatnya. Mekanisasi keharusan tidak bisa ditawar-tawar lagi,” katanya