Jakarta, mediaperkebunan.id — Universitas Trisakti bersama CECT Sustainability, SPKS dan RSPO menyelenggarakan Thought Leadership Forum bertajuk “Bridging Policy and Practice: Harmonizing Local Regulations with Global Sustainability Standards”. Forum ini digelar di Lantai 12 Gedung Rektorat Universitas Trisakti, Jakarta Barat, pada Selasa (27/5/25), kegiatan ini dihadiri oleh para pemangku kepentingan dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, hingga organisasi petani sawit.
Forum ini menjadi ruang strategis untuk menjembatani praktik di lapangan dengan arah kebijakan nasional dan standar global keberlanjutan, khususnya di sektor kelapa sawit yang menjadi komoditas unggulan Indonesia. Sejumlah isu dibahas, mulai dari regulasi lokal, tata kelola berkelanjutan, hingga peran daerah dalam mendukung transformasi industri sawit yang inklusif dan berdaya saing.
Rektor Universitas Trisakti, Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA, dalam sambutannya menyampaikan bahwa forum ini bukan sekadar diskusi akademik, tetapi bagian dari sistem pengembangan pembelajaran berkelanjutan yang ditanamkan kampus.
“Forum ini kita harapkan menjadi wadah dialog dan pertukaran gagasan untuk menciptakan solusi konkret. Ini bukan sekadar diskusi, tapi bagian dari one step learning development system yang kami bangun di Trisakti,” ujar Kadarsah, Selasa (27/5/25).
Ia menekankan pentingnya peran pendidikan tinggi dalam mendorong pembangunan berkelanjutan yang berbasis ilmu pengetahuan dan kolaborasi multipihak. Dalam hal ini, Universitas Trisakti juga menjalin kemitraan strategis dengan Erasmus Huis sebagai bagian dari upaya internasionalisasi dan penguatan riset keberlanjutan.
“Kami juga berkolaborasi dengan Erasmus Huis, terutama dalam pengembangan sistem dan penguatan peran universitas sebagai katalisator pembangunan yang inklusif dan berkeadilan,” tambahnya.
Rektor juga menyinggung pentingnya menjaga kelestarian bumi dan menjadikan industri sawit sebagai contoh transformasi sektor strategis yang tidak hanya berorientasi ekonomi, tetapi juga pada kelangsungan generasi mendatang. Ia menyebut sawit sebagai komoditas multifungsi yang memiliki nilai ekonomi dan sosial tinggi, dan oleh karena itu memerlukan kerangka regulasi yang terintegrasi antara tingkat lokal dan global.
“Saya sempat sampaikan ke Pak Win dan Pak Sabar, bahwa kita semua harus selalu ingat bahwa planet yang kita huni ini harus bisa berlanjut. Industri sawit itu sangat strategis, karena memiliki fungsi ekonomi sekaligus ekologis yang fundamental,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Kadarsah juga mengapresiasi Bupati Sekadau, Aron S.H., yang hadir langsung untuk berbagi pengalaman daerah dalam menerapkan tata kelola sawit berkelanjutan. Ia menyebut Sekadau sebagai contoh nyata bahwa strategi daerah dapat menjadi pemicu perubahan nasional.
“Langkah strategis Bupati Sekadau menjadi bukti bahwa pendekatan dari daerah bisa menjadi inspirasi. Mudah-mudahan daerah lain bisa menyusul,” ucapnya.
Forum ini diharapkan menghasilkan kerangka kerja yang koheren antara kebijakan lokal dan standar global, mendorong solusi kebijakan yang inovatif, serta memperkuat sinergi lokal untuk menciptakan rantai pasok sawit yang adil, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
“Semoga kegiatan ini menjadi katalis lintas sektor menuju industri sawit Indonesia yang berdaya saing tinggi,” tutup Kadarsah.