Kopi Arabika di Lereng Temanggung: Komoditas Alternatif Pemutus Ketergantungan Tembakau

Kopi Arabika di Lereng Temanggung: Komoditas Alternatif Pemutus Ketergantungan Tembakau

Temanggung, mediaperkebunan.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Temanggung, Jawa Tengah, gencar menggalakkan diversifikasi sektor pertanian demi memperkokoh ketahanan finansial para petani lokal. Salah satu langkah strategis yang kini tengah diprioritaskan adalah ekspansi budidaya kopi Arabika, komoditas pegunungan yang dinilai memiliki potensi pasar yang sangat cerah.

Dikutip dari mediacenter.temanggungkab.go.id, upaya pengenalan varietas tanaman tahunan ini mulai disambut positif oleh komunitas petani setempat, termasuk mereka yang berada di zona-zona yang selama ini didominasi oleh tanaman tembakau.

Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Temanggung, Sumarno, mengungkapkan bahwa pada tahun lalu, daerahnya mendapatkan kucuran dana dari APBN. Anggaran tersebut dialokasikan untuk memperluas lahan kopi Arabika hingga mencapai 500 hektar.

Fasilitas stimulan ini dialirkan langsung kepada sejumlah kelompok tani yang tersebar di wilayah lereng Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau.

“Kami menyodorkan kopi Arabika ini sebagai opsi tanaman perkebunan tahunan. Lewat dukungan APBN tahun lalu, lahan seluas 500 hektar sukses kami distribusikan di kawasan sentra tembakau Sumbing, Sindoro, dan Prau. Bersyukur, respons para petani sangat terbuka dan tidak ada penolakan,” jelas Sumarno saat memberikan keterangan, dikutip dari mediacenter.temanggungkab.go.id,  jumat (19/6/2026).

Sumarno tidak menampik bahwa beberapa tahun ke belakang, daya tarik kopi sempat dipandang sebelah mata oleh masyarakat setempat karena nilai ekonomisnya dianggap kalah jauh jika dibandingkan dengan hasil panen tembakau. Namun, dinamika pasar saat ini berubah drastis seiring dengan meroketnya pamor dan harga jual kopi Arabika di pasaran.

“Dahulu, komoditas kopi mungkin sempat disepelekan karena keuntungannya tidak sebanding dengan tembakau. Tetapi sekarang situasi berbalik, performa kopi Arabika sangat memukau. Harga jual dalam bentuk cherry (buah ceri kopi) saja saat ini menembus kisaran Rp22.000 per kilogram. Angka ini tentu akan berlipat ganda jika sudah diolah menjadi produk siap saji,” tambahnya.

Selain fokus pada komoditas kopi, DKPPP Temanggung juga mengompensasi tantangan sektor agraria dengan mengembangkan aneka lini hortikultura. Ragam tanaman seperti bawang merah, bawang putih, alpukat, cabai, tomat, hingga kubis terus didorong masuk ke lahan-lahan variatif milik petani.

Meskipun Sumarno mengakui adanya tren penyusutan alokasi anggaran untuk sektor pertanian di tingkat daerah, pemerintah daerah berkomitmen mencari jalan keluar demi mempertahankan program-program kerja unggulan. Tujuannya adalah memastikan masyarakat tani memiliki opsi usaha yang beraneka ragam dan menguntungkan.

“Gerakan menanam komoditas alternatif, baik dari kelompok hortikultura maupun perkebunan jangka panjang, terus kami stimulan. Harapannya, petani memiliki keran pendapatan yang jamak dan tidak menaruh seluruh modal hidupnya pada satu jenis tanaman saja,” tegas Sumarno.

Transformasi dan respons adaptif para petani terhadap kopi Arabika serta produk hortikultura ini menjadi bukti nyata bahwa sektor pertanian Temanggung kian inovatif. Proses diversifikasi ini berjalan beriringan tanpa harus menggerus reputasi legendaris Temanggung sebagai wilayah penghasil tembakau berkualitas tinggi.