Bandung, mediaperkebunan.id – Pengendalian ganoderma harus dilakukan secara terpadu terutama pada kebun yang akan memasuki masa peremajaan agar pada generasi selanjutnya serangan mematikan ini bisa berkurang. Ike Virdiana dari Verdant Bioscience, PT Timbang Deli Indonesia menyatakan hal ini pada 2nd ISGANO yang diselenggarakan Media Perkebunan dan P3PI.
Pengendalian terpadu dimulai dari identifikasi penyakit Ganoderma; sensus untuk mengetahui tingkat keparahan penyakit; pengurangan sumber penyakit (spora); sanitasi tanaman sakit (pada daerah serangan baru); mengadopsi praktek sanitasi yang bagus pada peremajaan; mengurangi sumber penyakit Ganoderma dalam tanah; mengaplikasikan pengendalian biologi-agen pengendali hayati.
Identifikasi dilakukan untuk mengetahui pokok terserang Ganoderma. Sensus dilakukan untuk mengetahui persen pokok terserang Ganoderma. Pengurangan sumber penyakit (spora) dilakukan dengan pengutipan seluruh badan buah Ganoderma saat sensus dilakukan.
Selain kontak akar, penyebaran busuk pangkal batang Ganoderma juga disebabkan oleh spora. Penangkapan spora pada daerah endemik Ganoderma menunjukkan konsentrasi spora 4.000 spora/ m kubik , mencapai puncaknya jadi 11.000/m kubik pada pukul 12.00 lalu turun ke 4.500 spora/m kubik pada pukul 24.00.
Sanitasi sumber penyakit dilakukan dengan pengangkatan bonggol dan akar pada tanaman lama. Pemusnahan sumber penyakit adalah hal penting dalam manajemen penyakit Ganoderma. Praktek sanitasi yang bagus pada peremajaan adalah dengan pencacahan batang dan tanaman kelapa sawit (chipping). Pada bibit yang terinfeksi setalah 11 tahun pengamatan infeksi terendah yaitu 14% pada batang dan tanaman yang dicacah.
Tanaman baru ditanam jauh dari titik tanaman lama kemudian diberi biopestisida seperti Trichoderma. Trichoderma adalah jamur antagonis yang diaplikasikan di lubang tanam untuk pencegahan terhadap Ganoderma. Isolat ini dapat diidentifikasi secara molekuler dan dicek kualitasnya.
Percobaan pada skala nursery menunjukkan bahwa infeksi Ganoderma tertinggi terjadi pada bibit yang tidak diaplikasi Trichoderma dengan infeksi 95%. Isolat T koningii, T harzianum, T virens adalah jamur dengan antagonis terbaik.
Pelaksanaan peremajaan dengan menggunakan kombinasi metode kultur teknis menunjukkan persentase tanaman terinfeksi setelah 5 tahun 10 bulan pengamatan, infeksi Ganoderma pada blok-blok masih sangat rendah. Rata-rata infeksi hanya <1,3% dengan infeksi perblok berkisar antara 0,8-2,3% pada tanaman yang berumur hampir 6 tahun. Hal ini menunjukkan pengendalian dengan kultur teknis dapat diaplikasikan secara luas dan menekan penyakit Ganoderma.
Gejala umum penyakit Ganoderma adalah luar daun pucat, pelepah patah, tajuk tidak terbuka. Akhirnya tanaman roboh dengan busuk pada bagian bonggol. Penyakit ini berkembang dari kebun ke kebun melalui spora dan dalam kebun dengan kontak akar.
Kerugian akibat Ganoderma di salah satu kebun Sumatera Utara dapat mencapai 87% dari SPH 119 tinggal 35 pokok/ha pada kebun dengan serangan terparah. Di Malaysia pada tanman umur 13 tahun dengan serangan 30% baik di tanah mineral dan gambut. Setelah satu tahun produksi TBS turun sampai 47%.