Jakarta, mediaperkebunan.id – International Air Transport Association (IATA) dan International Civil Aviation Organization (ICAO) lewat Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA) sudah menentukan penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) sebagai salah satu solusi pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) industri penerbangan internasional. ICAO/IATA membuat aturan pengurangan emisi GRK pada penerbangan internasional dan 140 negara sudah bergabung.
Targetnya tahun 2050 emisi GRK penerbangan intenasional berkurang 50% dari tahun 2005. Rasio SAF tahun 2030 telah ditentukan yaitu Finlandia 30 %, Norwegia 30%, Swedia 30%, Perancis 5%, Jerman 2%, Belanda 14%, Indonesia 5%, Jepang 5%.
Menurut ICAO 10,9 juta ton atau 13,6 miliar liter SAF harus tersedia tahun 2032. Masalahnya ada ketidakpastian bagaimana kapasitas produksi SAF dibanding bahan bakar lain. Isu utama adalah pasokan bahan baku, biaya dan teknologi.
Rencana produksi SAF Indonesia menurut Kementerian ESDM dan Pertamina adalah tahun 2025 permintaan 320 juta liter/tahun (SAF 5%). Diproduksi dari PKO dan sudah uji coba baik statis maupun terbang. Produksi tahun 2025 direncanakan 258 juta liter.
Untuk memenuhi kebutuhan SAF, beberapa perusahaan Jepang sudah dan akan membangun pabrik baik di dalam negeri maupun di luar negeri, termasuk di Indonesia bekerjasama dengan Indonesia Japan Business Network. Dengan SAF 10% , berbasis pada data tahun 2019 konsumsi bahan bakar pesawat 9 miliar liter maka kebutuhan SAF 9 juta liter/tahun.
ICAO mendefinisikan SAF sebagai bahan bakar alternatif yang harus mampu mengurangi emisi GRK berdasarkan siklus hidupnya; menghormati daerah kenakenaragaman hayati tinggi, konservasi, dan bermanfaat bagi manusia dan lingkungan, menurut aturan nasional dan internasional; berkontribusi pada sosial ekonomi masyarakat dan tidak boleh berkompetisi dengan pangan dan air.
“Menimbang persyaratan itu kami mengajukan kelapa non standar atau kelapa afkir sebagai bahan baku SAF. Pabrik SAF terutama akan dibangun di Jepang dan ada potensi untuk dibangun juga di Indonesia,” kata Suyoto Rais, Ketua Umum Indonesia-Japan Business Network (IJBN).
IJBN sudah membuat studi kelayakan sejak tahun 2020 di beberapa sentra produksi kelapa Indonesia. Sekarang sedang mempersiapkan pabrik percontohan (pilot) di Jepang dan mempersiapkan rantai pasok minyak kelapa mentah (Crude Coconut Oil) dari Indonesia. Atas perjuangan Indonesia dan Jepang, ICAO-CORSIA, pada bulan Maret 2024 mengakui kelapa non standar sebagai bahan baku SAF.
Minyak kelapa diajukan sebagai bahan baku SAF sebab hidrokarbin atau fatty acid minyak kelapa cocok jadi SAF (kerosin) yaitu CCO 81% sedang PKO 77%,. Konsumsi minyak kelapa juga kecil, hanya memenuhi 2,1% kebutuhan minyak nabati dunia , 59% minyak kelapa digunakan untuk kosmetik, hanya 32% untuk industri makanan dan minuman.
Sekitar 50% kelapa Indonesia tidak bisa diekspor dan tidak bisa digunakan menurut data BPS tahun 2020. Survey IJBN sendiri menemukan 30% kelapa afkir karena terlalu kecil, retak, tumbuh tunas, busuk dan terlalu tua. “Kelapa ini yang akan kita gunakan sebagai bahan baku SAF , Target ada 1 juta ton pertahun di setiap sentra produksi,” katanya.
IJBN juga bekerjasama dengan akademisi dan beberapa lembaga di Jepang dan Indonesia akan melakukan peremajaan kelapa dengan menggunakan varietas unggul dan budidaya yang baik akan diproduksi 10 ton kelapa/ha. Dari 100.000 ha kelapa bisa dihasilkan 1 juta ton. IJBN akan mengambil 1 juta ton kelapa dari Sumatera dan 1 juta ton kelapa dari Sulawesi. Masing-masing akan menghasilkan 120.000 ton CC) yang akan diekspor ke Jepang juga diolah jadi SAF di Indonesia.