Jakarta, mediaperkebunan.id – Perkebunan teh rakyat Indonesia tengah menghadapi berbagai tantangan serius, mulai dari alih fungsi lahan, rendahnya produktivitas, perubahan iklim, hingga lemahnya daya saing industri. Kondisi tersebut mendorong perlunya langkah revitalisasi dan penguatan kemitraan antarpemangku kepentingan guna menjaga keberlanjutan sektor teh nasional.
Hal tersebut mengemuka dalam webinar memperingati Dirgahayu Asosiasi Teh Indonesia (ATI) ke-48 bertema “Revitalisasi dan Penguatan Kemitraan Teh Rakyat Menuju Peningkatan Produktivitas dan Kesejahteraan Petani Berkelanjutan” yang diselenggarakan pada Rabu (17/6/2026). Webinar menghadirkan narasumber Ketua Umum Asosiasi Petani Teh Indonesia (Aptehindo) Nugroho Koesnohadi, Direktur Utama PT Sekarwangi Makmur Indonesia Sukiman Sumarto, serta Peneliti dan Pemulia Tanaman, Heri Syahrian. Pemaparan menyoroti pentingnya penyelamatan perkebunan teh rakyat melalui penguatan kemitraan, adaptasi terhadap perubahan iklim, dan peningkatan produktivitas secara berkelanjutan.
Berdasarkan data yang dipaparkan, luas areal perkebunan teh nasional pada 2026 diperkirakan mencapai 97.773 hektare dengan produktivitas rata-rata 1.552 kg per hektare per tahun. Namun, dalam 25 tahun terakhir, luas areal perkebunan teh mengalami penurunan signifikan akibat konversi lahan menjadi komoditas lain, terutama tanaman hortikultura seperti kentang dan sayuran.
Ketua Umum Aptehindo, Nugroho Koesnohadi, menegaskan bahwa teh bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi juga memiliki fungsi ekologis yang sangat penting. Menurutnya, perkebunan teh berperan sebagai kawasan tangkapan air, pencegah erosi dan longsor, penyerap karbon, serta pendukung keanekaragaman hayati.
“Perkebunan teh memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai penghasil komoditas minuman, tetapi juga berfungsi sebagai penutup lahan, daerah tangkapan air, penyerap karbon, dan pendukung keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, teh seyogyanya dijadikan sebagai komoditas strategis dalam program hilirisasi pemerintah,” ujar Nugroho.
Nugroho juga mendorong pemerintah memasukkan teh sebagai salah satu komoditas strategis dalam program hilirisasi nasional sehingga dapat memperoleh dukungan berupa subsidi pupuk, bantuan bibit unggul, serta peralatan dan mesin pertanian. Menurutnya, dukungan tersebut menjadi krusial mengingat sekitar 1,6 juta jiwa di Indonesia menggantungkan kehidupannya pada sektor pertehan.
Di sisi lain, perubahan iklim menjadi ancaman yang semakin nyata bagi keberlanjutan perkebunan teh. Paparan dari Pusat Penelitian Teh dan Kina menunjukkan bahwa fenomena El Niño yang diperkirakan muncul kembali pada pertengahan hingga akhir 2026 berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan menurunkan produktivitas tanaman teh secara signifikan. Penelitian menunjukkan stres kekeringan yang parah dapat menyebabkan kehilangan hasil produksi hingga 33 persen dan meningkatkan risiko kematian tanaman.
Sebagai langkah adaptasi, Aptehindo berencana mengembangkan penanaman kacang macadamia sebagai tanaman pelindung sekaligus tanaman tumpangsari di perkebunan teh rakyat. Selain membantu mengurangi dampak kekeringan, komoditas tersebut juga diharapkan dapat memberikan sumber pendapatan tambahan bagi petani melalui skema double income.
Sementara itu, Direktur Utama PT Sekarwangi Makmur Indonesia, Sukiman Sumarto, menyoroti kondisi perkebunan teh rakyat yang semakin mengkhawatirkan. Menurutnya, banyak kebun yang tidak lagi terawat akibat keterbatasan modal, sulitnya memperoleh pupuk, serta rendahnya harga jual teh di pasar domestik.
“Keberlanjutan industri teh rakyat hanya dapat dicapai melalui kemitraan yang kuat antara petani, pengumpul, dan pabrik pengolahan. Peningkatan produktivitas, kualitas pucuk, serta efisiensi rantai pasok harus menjadi prioritas bersama agar industri teh rakyat mampu bertahan dan kembali tumbuh,” kata Sukiman.
Ia menjelaskan, pasokan pucuk teh rakyat ke pabrik pengolahan saat ini masih jauh di bawah kapasitas terpasang. Di Kabupaten Tasikmalaya misalnya, pasokan pucuk baru mencapai sekitar 46 persen dari kapasitas pabrik, sementara di sejumlah wilayah di Jawa Tengah bahkan masih berada di bawah 40 persen. Kondisi tersebut menyebabkan banyak pabrik pengolahan memilih menghentikan operasionalnya karena kesulitan memperoleh bahan baku dan menghadapi rendahnya harga jual produk teh.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Sukiman mendorong penerapan strategi bertahan (survival strategy) melalui intensifikasi dan ekstensifikasi lahan, peningkatan mutu pucuk, penggunaan mekanisasi seperti mesin petik, serta pemberian pendampingan teknis dan akses pembiayaan bagi petani.
Lebih lanjut, Peneliti dan Pemulia Tanaman, Heri Syahrian menilai bahwa revitalisasi industri teh rakyat memerlukan transformasi menyeluruh yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, tantangan sektor pertehan tidak dapat diselesaikan secara parsial, misalnya dalam menghadapi tantangan iklim untuk mendukung produktivitas berkelanjutan.
“Penggunaan klon unggul yang adaptif terhadap kekeringan, pembangunan embung air, penambahan bahan organik tanah secara konsisten, serta pengembangan sistem early warning menjadi langkah strategis untuk menjaga produktivitas dan keberlanjutan perkebunan teh di tengah perubahan iklim,” jelas Heri.
Diperlukan integrasi kebijakan mulai dari aspek budidaya, pengolahan, pemasaran, pembiayaan, hingga adaptasi terhadap perubahan iklim agar sektor teh nasional dapat kembali menjadi komoditas unggulan yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga fungsi ekologisnya.
Melalui momentum Dirgahayu ATI ke-48, para pemangku kepentingan berharap revitalisasi perkebunan teh rakyat dan penguatan kemitraan dapat menjadi titik balik kebangkitan industri teh Indonesia. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, peningkatan produktivitas, serta inovasi adaptasi iklim, sektor teh rakyat diyakini masih memiliki peluang besar untuk tumbuh secara berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan petani di masa depan.