Harga Karet Tinggi, Apkarindo Minta Petani Rawat Kebun dengan Baik

Harga Karet Tinggi, Apkarindo Minta Petani Rawat Kebun dengan Baik

Jakarta, mediaperkebunan.id – Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Petani Karet Indonesia (DPP Apkarindo) 2025-2030 saat ini terus melakukan konsolidasi ke DPW (Dewan Pengurus Wilayah, tingkat provinsi) dan DPD (Dewan Pengurus Daerah, tingkat kabupaten) sentra-sentra karet di Indonesia. Kepengurusan periode ini adalah babak baru penguatan tujuan mengembalikan kejayaan karet rakyat melalui penguatan kelembagaan petani, peningkatan produktivitas kebun dan hilirisasi berbasis komunitas.

“Kami masih melakukan konsolidasi ke daerah-daerah sentra karet. Sudah dilakukan di Sumsel, Jambi dan terakhir di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Bulan ini akan konsolidasi di Jawa Barat Selatan,” kata Irfan Ahmad Fauzi, Ketua Umum Apkarindo.

Dalam setiap kunjungan Irfan selalu menghimbau petani untuk menjaga dan merawat kebun karetnya, tingkatkan produktivitas, hasilkan karet bersih yang tidak terkontaminasi. Jangan hasilkan karet kotor dan berkualitas rendah. Rawat kebun dengan baik sebab yang akan menikmatinya petani sendiri.

Dalam pelaksanaannya Apkarindo bekerjasama dengan stakeholder lain seperti di Kukar dengan Wakil Menteri Transmigrasi, kemudian dengan Pupuk Indonesia, Kementerian Pertanian, Pusat Penelitian Karet, Gapkindo, Dekarikndo dan lain-lain. Semua stakeholder diminta menggerakkan ekonomi karet sehingga kesejahteraan petani semakin meningkat.

Petani karet diminta fokus memperbaiki budidaya. “Masalah bangsa Indonesia ini sudah banyak. Petani karet jangan menambah masalah tetapi fokus saja di kebun memperbaiki produktivitas. GAPKINDO dan Dekarindo kami ajak untuk sama-sama menjaga hulu,” katanya.

Gangguan di hulu akan membuat hilir terganggu juga. Efek gangguan hulu akan merembet ke mana-mana. Hulu harus diurus dengan baik. Hulu yang baik akan berefek baik bagi ekonomi dan lingkungan.

Harga karet saat ini sedang mencapai momentumnya, karena sudah naik dan menguntungkan bagi petani. Tanggal 18 Juni harga karet SICOM tercatat USD 2, 28/kg, dengan kurs Rp17.644/USD, harga karet Kadar Karet Kering 100% mencapai Rp40.309/kg, sedang KKK 50% Rp20.154/kg. Tanggal 19 Juni, harga SICOM USD2,274/kg dengan kurs Rp17.737/USD maka harga karet KKK 100% Rp40.333, dan KKK 50% Rp20.166/kg.

Sedang Senin 22 Juni, harga USD2,263/kg dengan kurs Rp17.737/USD maka KKK 100% Rp40.139/kg atau turun Rp195/kg dibanding Jumat, 19 Juni. Harga karet di pintu pabrik KKK 70% Rp28.097/kg; KKK 60% Rp24.083/kg; KKK 50% Rp20.070/kg; KKK 40% Rp16.056/kg; KKK 30% Rp12.042/kg.
“Petani karet saat ini sedang gembira setelah selama 10 tahun menghadapi situasi yang berat karena harga rendah. Sekarang petani karet menikmati keuntungan dari budidaya karetnya,” kata Irfan.

Selama ini dengan harga rendah kebun karet petani dibiarkan seadanya, tanpa dirawat dan dipupuk. Sekarang dengan harga tinggi petani mulai bergairah untuk merawat kembali kebunnya. Di beberapa daerah petani mulai memupuk tanamannya sesuai rekomendasi.

“Dengan harga sekarang petani bisa menyisihkan pendapatannya untuk merawat kebun dengan baik. Kemarin ketika harga rendah pendapatan petani hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari sehingga tidak sanggup merawat kebun dengan baik,” kata Irfan.

Diakui beberapa petani karet sudah tidak tahan dengan harga rendah yang berlangsung lama dan mereka beralih komoditas, terutama untuk kelapa sawit. Tetapi masih banyak juga yang tetap mempertahankan tanaman karetnya. Mereka pernah merasakan harga karet tinggi dan berharap kondisi itu akan datang lagi.

Banyaknya yang beralih komoditas dan produktivitas rendah tidak hanya berpengaruh pada petani, juga pabrik. Banyak pabrik karet yang tutup karena bahan baku tidak tersedia. Pabrik beroperasi jauh di bawah kapasitasnya sehingga rugi dan akhirnya tutup.