Medan, mediaPerkebunan.id – Posisi harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) terakhir adalah sebesar Rp15.584. Harga ini naik sebanyak Rp339 per kilogram (Kg) berdasarkan hasil tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) atau Inacom, Jumat (29/11/2024).
KPBN memprediksi harga CPO akan terus mengalami kenaikan sampai akhir tahun ini, menyusul kondisi cuaca yang tidak menentu dan mayoritas berakhir dengan hujan deras dan banjir, termasuk di berbagai sentra perkebunan kelapa sawit.
Sekadar memberitahukan, berdasarkan prediksi yang terlihat di laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, terungkap kalau kondisi cuaca di berbagai sentra sawit nasional, termasuk di Pulau Sumatera, dalam kondisi berawan dan hujan untuk beberapa hari ke depan.
“Indonesia dan Malaysia adalah produsen CPO terbesar pertama dan kedua di dunia. Namun dua negara ini justru sering dilanda hujan lebat beberapa waktu terakhir,” kata ekonom Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, kepada Media Perkebunan, Senin (2/12/2024).
Akademisi di berbagai kampus ternama di kota Medan ini mengatakan, curah hujan yang tinggi memicu kekuatiran akan turunnya produksi CPO, sehingga memicu kenaikan harga CPO itu sendiri.
“Harga CPO yang sempat mencapai titik terendah selama bulan November di level RM 4.628 per ton. Belakangan kembali berbalik dan ditransaksikan di kisaran level RM 5.023 per ton,” ungkap Gunawan Benjamin.
Kata dia, harga CPO bakal tetap menguat seiring dengan memburuknya kondisi cuaca di wilayah produsen CPO seperti Malaysia dan Indonesia.
Gunawan Benjamin mengatakan, jika membandingkan dengan komoditas pesaing seperti kacang kedelai atau soyabean oil, maka harga CPO justru terlihat bergerak berbeda.
Padahal, kata dia, harga CPO sebelumnya kerap bersanding dengan kinerja harga komoditas lainnya seperti kedelai, bunga matahari atau sunflower, hingga harga komoditas lainnya seperti harga minyak mentah dunia.
“Harga CPO bergerak dengan fundamentalnya sendiri, dan tidak begitu terpengaruh dengan fluktuasi harga komoditas lain, melainkan dipengaruhi oleh kondisi cuaca, terutama yang melanda Indonesia dan Malaysia,” tutur Gunawan Benjamin lebih lanjut.
Dia mengaku cemas situasi ini bakal memengaruhi tingkat produksi CPO, sehingga berdampak pada persediaan atau suplai dan berujung pada kenaikan harga CPO itu sendiri hingga menjelang tutup akhir tahun 2024.
“Sejauh ini, curah hujan yang masih sangat tinggi akan memicu kekuatiran penurunan produksi CPO. Sementara dari sisi permintaan atau demand, justru berpeluang naik jelang tahun baru atau hingga Ramadhan mendatang,” ucap Gunawan menambahkan.
Di sisi lain, ia melihat pelaku pasar juga masih menanti kebijakan dagang yang bakal Presiden Amerika Serikat (AS) terpilih luncurkan, Donald Trump, ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada Januari 2025 mendatang.
Dia memprediksi kalau kebijakan AS ke depan, khususnya setelah Januari, akan sangat menentukan pergerakan harga komoditas nantinya.
Dan yang paling menkhawatirkan, sambung Gunawan Benjamin, adalah jika AS kembali memulai perang dagang. Hal ini memunculkan prediksi nantinya secara tidak langsung bisa menekan konsumsi CPO di RRT.
“Padahal kita tahu kalau RRT adalah sebagai konsumen CPO terbesar di dunia sejauh ini. Jika itu terjadi maka harga CPO berpeluang untuk kembali mengalami tekanan lanjutan,” tegas Gunawan Benjamin.