GAPKI Minta Pemerintah Pertimbangkan untuk Utamakan Ekspor

GAPKI Minta Pemerintah Pertimbangkan untuk Utamakan Ekspor

Jakarta, mediaperkebunan.id – Naiknya konsumsi dalam negeri terutama untuk biodiesel sedang produksi turun membuat ekspor minyak sawit turun. “Tidak mungkin minyak sawit untuk pangan dikurangi sehingga yang dikurangi adalah untuk ekspor,” kata Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono.

Melihat 5 tahun terakhir produksi tahun 2025 tidak mungkin meningkat tinggi sekali. Produksi saat ini tidak mungkin digenjot, PSR juga masih begitu-begitu saja. Masih banyak hambatan dan Eddy berharap tahun ini hambatan semakin berkurang sehingga PSR bisa melaju kencang. “Saya sudah sampaikan pada pemerintah untuk mempertimbangkan mana yang lebih menguntungkan untuk negara.

Kalau negera memang sangat membutuhkan devisa untuk membiayai berbagai program pemerintah kenapa tidak mengutamakan ekspor dulu,” katanya.

Eddy menekankan bahwa ini bukan untuk kepentingan perusahaan tetapi NKRI. Indonesia bisa meniru Brazil. Ketika harga gula dunia sedang tinggi mereka mengolah tebu jadi gula semua dan mengesampingkan untuk sementara program mandatory bioetanol. Saat ini selisih harga minyak bumi dan CPO sangat besar, artinya selisiih pembayaran insentif juga membesar. Karena Indonesia butuh devisa maka minyak sawit diekspor saja.

Produksi minyak sawit tahun 2024 adalah Secara total produksi CPO dan PKO tahun 2024 mencapai 52.762 ribu ton yang lebih rendah 3,80% dari produksi tahun 2023 sebesar 54.844 ribu ton. Konsumsi tahun 2024 sebesar 23.859 ribu ton yang 2,78% lebih tinggi dari konsumsi tahun 2023 sebesar 23.213 ribu ton. Konsumsi untuk pangan mencapai 10.205 ribu ton, lebih rendah 0,90% dari konsumsi tahun 2023 sebesar 10.298 ribu ton, konsumsi oleokimia 2.207 ribu ton, lebih rendah 2,69% dari 2.268 ribu ton pada tahun 2023 sedangkan konsumsi untuk biodiesel 11.447 ribu ton; lebih tinggi 7,51% dari 10.647 ribu ton pada 2023. Konsumsi untuk biodiesel sudah melebihi konsumsi untuk pangan.

Secara tahunan terjadi penurunan ekspor sebesar 2.680 ribu ton yaitu dari 32.215 ribu ton pada tahun 2023 menjadi 29.535 ribu ton. Nilai ekspor yang dicapai pada tahun 2024 adalah US$ 27,76 miliar (Rp 440 triliun), yang lebih rendah 8,44% dari ekspor tahun 2023 sebesar US$ 30,32 miliar (Rp 463 triliun. Tahun 2025 ekspor diperkirakan akan turun lagi menjadi 27,5 juta ton yang lebih rendah dari ekspor tahun 2024 sebesar 29,5 juta ton. Produksi minyak sawit Indonesia diperkirakan mencapai 53,6 juta ton, konsumsi diperkirakan mencapai 26,1 juta ton termasuk untuk biodiesel B40 sebesar 13,6 juta ton.

Harga minyak sawit saat ini sudah lebih tinggi dibanding minyak nabati lainnya. Artinya minyak sawit sudah menjadi minyak premium dan ini mejadi tantangan tersendiri. Kalau terus menerus seperti ini akan berbahaya juga. India contohnya, saat ini karena harga minyak kedelai lebih murah, impornya melonjak sedang impor minyak sawit menurun. Meskipun dalam berbagai konferensi sawit disebutkan bahwa minyak sawit tidak tergantikan tetapi kalau harganya tinggi terus maka negara konsumen akan mencari minyak nabati lain yang lebih murah.

“Saya kuatir kalau suatu negara beralih dari minyak sawit ke minyak nabati lainnya maka untuk kembali lagi ke sawit butuh usaha yang lebih keras lagi. Jadi harga sawit yang terus tinggi juga membuat kita tidak nyaman,” kata Eddy.Saat Indonesia melakukan moratorium penanaman sawit di lahan baru (ekspansi) dan Malaysia tidak mungkin lagi memperluas karena lahannya terbatas, negara produsen minyak nabati lain malah terus melakukan perluasan. Kedelai dalam 5 tahun terakhir terjadi kenaikan sampai 20 juta ha.

“Dorab dalam konferensi sawit di Malaysia beberapa waktu lalu minta supaya moratorium sawit Indonesia harus stop. Harus ada perluasan sawit baru untuk mengejar kenaikan konsumsi dalam negeri. Kebijakan B40 akan mengguncang harga minyak nabati dunia dan ini terjadi sekarang. Kondisi sekarang membahayakan karena suply tidak bertambah tetapi konsumsi naik terus,” katanya.