Jakarta, mediaperkebunan.id – Sepanjang kuartal I 2025 atau mulai Januari hingga April 2025, dompet alias pendapatan yang diperoleh Holding PTPN III sebagai salah satu badan usaha milik negara (BUMN) yang terkemuka, semakin tebal saja.
Asal-muasal tebalnya dompet Holding tersebut, seperti keterangan resmi yang dikutip Mediaperkebunan.id, Rabu (14/5/2025), diperoleh dari kinerja tiga entitas atau sub holding yang moncer, yakni PTPN I (Supporting Co), PTPN IV (Palm Co), dan PT Sinergi Gula Nusantara (Sugar Co).
“Perusahaan sukses membukukan Laba Bersih di Kuartal I Tahun 2025 sebesar Rp 705 miliar, melonjak 1.032 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ucap Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), Mohammad Abdul Ghani.
“Atau, pencapaian ini lebih tinggi 289 persen bila dibandingkan dengan apa yang telah ditentukan dalam rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP),” sambung Mohammad Abdul Ghani lagi.
Perlu pembaca ketahui, RKAP adalah dokumen perencanaan yang berisi semua rencana kerja operasional, program investasi, dan anggaran yang akan dilakukan oleh suatu perusahaan dalam satu tahun ke depan.
Nah, karena itulah RKAP bisa berfungsi sebagai pedoman bagi tim manajemen dalam menjalankan perusahaan dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Kata Mohammad Abdul Ghani, laba bersih PTPN Group pada kuartal I 2025 meroket tajam, didukung oleh kinerja yang solid dan positif dari ketiga sub holding yang telah disebut sebelumnya.
“Laba laba bersih dari PTPN I atau SupportingCo, PTPN IV atau PalmCo, dan PT Sinergi Gula Nusantara (SugarCo) mencatatkan laba bersih yang positif,” tutur Ghani lebih lanjut.
Lalu, dari komoditas apa saja sumber cuan Holding PTPN III?
Abdul Ghani bilang, semua itu bersumber dari hasil penjualan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan gula yang diproduksi oleh semua anak usaha Holding PTPN.
Ia membeberkan, peningkatan nilai penjualan CPO sebesar 114 persen dari RKAP atau sebesar Rp 8,2 triliun yang antara lain disebabkan oleh peningkatan harga jual CPO sebesar 120 persen dari RKAP atau sebesar Rp 14.500 per kilogram (Kg).
Sementara itu, sambung Ghani, penjualan gula tercatat Rp 1,09 triliun atau 137 persen dari RKAP, yang disebabkan oleh terjadinya peningkatan volume penjualan gula sebesar 69 ribu ton atau 295 persen dari RKAP.
“Juga, di saat yang sama, terjadi peningkatan harga jual gula di pasar yaitu sebanyak Rp 15.559 per Kg atau 107 persen dari RKAP,” ungkap Abdul Ghani lebih lanjut.
”Pengelolaan biaya operasional yang lebih efisien juga turut berkontribusi terhadap perolehan laba dan EBITDA yang lebih baik pada semua komoditi utama,” tegas Mohamad Abdul Ghani.
Sekadar mengingatkan saja, EBITDA sendiri merupakan akronim atau singkatan dari earning before unterest, taxes, depreciation, and amortization.
Artinya adalah pendapatan sebelum bunga, pajak dan amortisasi. Nah, amortisasi bermakna proses alokasi biaya aset tak berwujud secara bertahap selama masa manfaatnya.
Dalam dunia akuntansi, konsep ini bertujuan mencatat penggunaan aset secara akurat agar mencerminkan nilai sebenarnya dalam laporan keuangan perusahaan.