Kendari, mediaperkebunan.id – Produktivitas kelapa sawit Indonesia dinilai masih jauh dari potensi sebenarnya meskipun Indonesia menjadi negara dengan luas perkebunan sawit terbesar di dunia. Penggunaan benih unggul, penerapan best management practices (BMP), hingga pengelolaan penyerbukan menjadi faktor penting untuk meningkatkan produksi sawit nasional, khususnya di wilayah pengembangan baru seperti Sulawesi Tenggara (Sultra).
Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Yabani, S.P., M.M., dari PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), dalam Workshop & Pasar Benih Sawit bertema “Meningkatkan Perekonomian Daerah 3T dengan Kelapa Sawit”.
Dalam paparannya, Yabani menjelaskan bahwa kelapa sawit merupakan tanaman penghasil minyak nabati paling efisien dibanding komoditas lainnya. Bahkan dari sisi penyerapan karbon dan tutupan lahan, sawit memiliki kemampuan yang sangat besar. “Bunga matahari 0,7 ton, kelapa sawit dengan produktivitas yang rendah saja sudah 3,3 ton. Bayangkan berapa jumlah luasan tutupan yang bisa diimbangi oleh sawit,” ujar Yabani.
Menurutnya, tingginya produktivitas sawit membuat komoditas ini menjadi sangat strategis sekaligus rentan terhadap berbagai isu negatif. “Makanya komoditas sawit menjadi komoditas seksi untuk diberitakan buruk atau baik,” katanya.
Dalam materi yang dipaparkan, luas perkebunan kelapa sawit Indonesia saat ini mencapai 16,83 juta hektar dengan produktivitas rata-rata sekitar 3,18 ton (tahun 2024). Angka tersebut diketahui masih berada di bawah Malaysia yang mencapai sekitar 3,7 ton.
Namun, Yabani menegaskan bahwa angka tersebut belum mencerminkan potensi produktivitas sawit Indonesia yang sebenarnya. Ia menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan besar yang telah menerapkan riset dan teknologi bahkan mampu menghasilkan lebih dari 6 ton CPO per hektare per tahun.
“Secara komersil perusahaan-perusahaan yang punya R&D sudah di atas 6 ton per hektar per tahun CPO. Karena 41 persen lahan dikuasai petani maka produktivitas kita rendah,” jelas Yabani.
Ia juga menyoroti rendahnya produktivitas sawit di Sultra yang hanya sekitar 1,5 ton per hektare per tahun. Menurutnya, kondisi tersebut masih sangat mungkin ditingkatkan karena wilayah Sultra masih relatif baru dalam pengembangan sawit dibanding Sumatera dan Riau yang sudah memasuki generasi tanam kedua hingga keempat.
Dalam paparannya, Yabani menjelaskan bahwa kunci utama peningkatan produktivitas sawit terletak pada penggunaan benih unggul bersertifikat. Ia menilai banyak petani masih menganggap benih hanya faktor kecil dalam biaya produksi, padahal dampaknya sangat menentukan hasil kebun dalam jangka panjang. “Secara komersil kelapa sawit bisa menghasilkan 6-8 ton CPO per hektar per tahun nasional dengan faktor utamanya adalah benih unggul,” kata Yabani.
Dalam materi yang dipaparkan, disebutkan bahwa bahan tanaman unggul sawit mampu menghasilkan potensi produksi TBS hingga 32–39 ton per hektare per tahun dengan rendemen minyak 25–29 persen tergantung varietasnya.
Yabani menjelaskan bahwa setiap pohon induk sawit yang dijadikan sumber benih harus memenuhi standar ketat, salah satunya mampu menghasilkan minimal 175 kilogram tandan per pohon per tahun dengan rendemen minyak di atas 23 persen.
Selain benih unggul, ia juga menekankan pentingnya penerapan best management practices di kebun sawit rakyat. Salah satu yang sering dianggap sepele adalah pengelolaan pelepah dan penunasan tanaman.
“Penunasan jangan dianggap sepele. Kalau menunas terlalu asal efeknya 14-22 bulan ke depan banyak memunculkan bunga jantan walaupun material bapak material unggul,” jelas Yabani.
Menurutnya, tanaman sawit usia kurang dari delapan tahun harus memiliki 48–56 pelepah untuk mendukung proses fotosintesis, sedangkan tanaman usia di atas delapan tahun harus mempertahankan 40–48 pelepah produktif.
Ia juga menjelaskan bahwa pembentukan bunga jantan dan betina sangat dipengaruhi kondisi tanaman 14–22 bulan sebelumnya. Kekurangan air maupun pemupukan yang buruk akan meningkatkan pembentukan bunga jantan dan menurunkan fruit set.
Dalam pemupukan, Yabani menekankan pentingnya prinsip keseimbangan unsur hara. Ia menyebut tidak harus selalu menggunakan pupuk mahal karena kebutuhan tanaman sangat tergantung pada kondisi tanah, umur tanaman, dan target produksi. “Prinsip NPKMg harus ada. Pupuk majemuk atau tunggal silakan,” katanya.
Selain pemupukan, Yabani juga menyoroti pentingnya pengamatan rutin di lapangan. “Pupuk terbaik di lahan kita adalah kaki kita sendiri. Semakin sering kita kunjungi semakin kita tahu kebutuhan di kebun,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa tanaman sawit sebenarnya memiliki kemampuan melakukan abortus alami ketika kekurangan unsur hara. Akibatnya, tanaman lebih banyak menghasilkan bunga jantan dan produktivitas menurun.
Dalam kesempatan tersebut, Yabani juga menyoroti persoalan penyerbukan sawit yang semakin menjadi tantangan di lapangan. Ia menjelaskan bahwa populasi serangga penyerbuk Elaeidobius kamerunicus saat ini mengalami penurunan kualitas akibat inbreeding depression karena terlalu lama berkembang di Indonesia tanpa penambahan genetik baru.
“Dengan kondisi genetik Elaeidobius kita generasi 1000 persilangan jadi inbreeding depression terjadi, karakter terburuk terbentuk,” jelasnya.
Karena itu, menurutnya, baru-baru ini telah didatangkan kembali serangga penyerbuk baru dari Tanzania melalui kerja sama BPDP, GAPKI, dan RPN PPKS untuk memperbaiki kualitas penyerbukan sawit nasional. “Kamerunicus, plagiatus, dan subtitatus didatangkan untuk membantu penyerbukan kelapa sawit supaya fruit set di atas 75 persen,” kata Yabani.
Ia juga mengingatkan petani di daerah pengembangan baru seperti Sultra agar tidak sembarangan melakukan kastrasi bunga jantan pada tanaman muda. Menurutnya, keberadaan bunga jantan sangat penting sebagai sumber makanan dan habitat serangga penyerbuk. “Pesan saya khusus daerah pengembangan, buang saja yang betinanya. Karena kalau dibuang jantannya umpan makanan serangga Elaeidobius tidak ada,” ujarnya.
Melalui kegiatan workshop ini, Yabani berharap petani sawit di daerah 3T semakin memahami pentingnya penggunaan benih unggul dan penerapan praktik budidaya terbaik agar produktivitas sawit rakyat Indonesia dapat meningkat dan mendekati potensi optimalnya.