Jakarta, mediaperkebunan.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu dan mendukung proses riset dan hilirisasi kelapa sawit menjadi berbagai produk turunan, termasuk juga hilirisasi beragam vitamin yang ada di dalamnya.
Adapun dukungan terhadap riset dan Hilirisasi dimaksud adalah terkait sejumlah vitamin yang ada di dalam kelapa sawit tapi selama ini cenderung diabaikan atau malah dihilangkan, yaitu produk Betacarotene (Pro Vitamin A) dan Tocopherol (Vitamin E).
Dukungan tersebut, seperti dikutip mediaperkebunan.id dari laman resmi Kemenperin, Senin (12/5/2025) pagi, disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, di Jakarta.
Putra kelahiran Pulau Bali ini menyampaikan hal tersebut saat berbicara dalam “Rapat Kick Off Kerja Sama Riset Kolaboratif antara Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI) dengan PT Kimia Farma Tbk, Jumat (9/5/2025).
Perlu diketahui bahwa MAKSI dipimpin oleh Dr Ir Darmono Taniwiryono selaku Ketua Umum, sementara PT Kimia Farma Tbk adalah salah satu badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak di bidang produksi obat-obatan atau farmasi.
“Dukungan ini dilakukan Kemenperin dalam rangka mendorong peningkatan nilai tambah komoditas kelapa sawit nasional dan memperkuat ketahanan nutrisi masyarakat,” ucap Putu Juli Ardika dalam acara tersebut.
Karena itu, ujarnya lagi, tidak heran kalau Kementerian Perindustrian berkomitmen untuk terus menjalankan hilirisasi industri kelapa sawit, khususnya pada produk betakaroten (Pro Vitamin A) dan tocopherol (Vitamin E).
Sebagai informasi, adapun kerjasama yang dilakukan MAKSI dan Kimia Farma adalah untuk mengembangkan produk suplemen kesehatan berbasis kelapa sawit sebagai pendukung program makan bergizi gratis (MBG).
“Riset Kolaborasi ini merupakan langkah strategis untuk mendukung kecukupan nutrisi masyarakat melalui produk kesehatan yang berasal dari komoditas andalan nasional, kelapa sawit,” kata Putu Juli Ardika.
“Termasuk dalam rangka menanggulangi atau mencegah terjadinya masalah gizi pada anak, yaitu stunting atau tubuh pendek dan dan wasting atau tubuh kurus pada anak-anak,” tutur Putu Juli Ardika lebih lanjut.
Pihaknya menilai upaya tersebut juga sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto untuk mengoptimalkan peran perkebunan kelapa sawit dalam ketahanan nutrisi nasional.
Sekaligus, kata dia lagi, melengkapi peran kelapa sawit yang saat ini dimanfaatkan sebagai sumber ketahanan energi melalui bahan bakar nabati (BBN) seperti program mandatori biodiesel, pengembangan bioetanol, dan bioavtur atau bahan nakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF).
“Serta bisa juga sebagai sumber ketahanan pangan bagi masyarakat melalui produk sssminyak goreng sawit dan produk lemak padatan pangan lainnya,” tegas Putu Juli Ardika sebagai Dirjen Agro Industri Kemenperin..