Selain Hilirisasi, Satu Hal Ini Jadi Kunci bagi Produk Komoditas Perkebunan

Selain Hilirisasi, Satu Hal Ini Jadi Kunci bagi Produk Komoditas Perkebunan

Medan, mediaperkebunan.id – Selain melaksanakan kebijakan hilirisasi, ada satu penting yang mampu membuat berbagai produk turunan dari komoditas perkebunan dapat menguasai market atau pasar, baik di dalam maupun di luar negeri.

“Satu hal yang saya maksud itu adalah trading, perniagaan atau perdagangan,” kata Ikrama Anwar, seorang praktisi perdagangan atau trader untuk berbagai komoditas perkebunan, saat bertemu mediaperkebunan.id, Senin (3/1/2025).

Kata mantan trader di salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit di kota Medan ini, sebuah perusahaan berbasis komoditas, terutama perkebunan, harus mampu memiliki kemampuan untuk melakukan trading.

Atau, sambungnya lagi, memiliki sejumlah tenaga ahli internal untuk melakukan trading, atau membangun kolaborasi dengan para trader profesional, maka bisa dipastikan kalau berbagai produk yang dihasilkan perusahaan perkebunan tersebut bakal bisa diserap pasar.

“Katakanlah pihak perusahaan, entah kopi, kelapa, karet, kakao, atau kelapa sawit, meng-hire (menyewa) para trader yang handal dan cakap, maka besar kemungkinan produk-produk yang dihasilkan akan dipercaya para pelaku pasar dan akhir diserap pasar,” ucap Ikrama Anwar.

Alumni Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini menjelaskan, kemampuan dalam melakukan trading juga harus dimiliki para petani agar kelak tanaman perkebunannya bisa dipanen walau hasilnya membludak.

“Saat dipanen ternyata produk melimpah. Kalau begitu biasanya yang terjadi harga komoditas tersebut akan jatuh. Hal-hal yang begini sering terjadi dan dialami para petani, kan?” kata Ikrama Anwar dengan nada bertanya.

Tetapi jika filosofi dan teknik trading dikuasai, putra asal Aceh ini yakin trader bakal mampu membuat konsumen merasa membutuhkan produk dimaksud dalam jumlah yang memadai sehingga akhirnya pasar tetap akan menyerap produk komoditas perkebunan tersebut.

Proses wawancara dengan Ikrama Anwar sendiri beberapa kali harus tersela atau terinterupsi karena di saat yang sama tekan bisnisnya dari berbagai negara, seperti dari Korea Selatan, Turkiye, atau pun Kenya, menghubunginya melalui telepon selular.

“Ini yang tadi, teman kita, pengusaha. Dari Kenya menanyakan peluang untuk membeli minyak goreng sawit atau pun minyak sawit mentah atau crude palm oil dari Indonesia,” mengatakan salah satu pebisnis luar negeri yang menghubunginya.

Ikrama Anwar mengaku, lebih 20 tahun menjalani tading untuk hilirisasi produk komoditas perkebunan membuat dirinya mendapatkan trust atau kepercayaan dari mitra dagang di dalam dan luar negeri.

Karena itu Ikrama Anwar mengklaim kalau berbagai produk perkebunan yang ia jual mampu bersaing dan diserap pasar. “Kalau ada trust yang terbangun, pasti komoditas perkebunan itu bakal diserap pasar, berapa pun volumenya,” tutur Ikrama Anwar lagi.

Untuk itu, Ikrama Anwar mengaku membuka diri bagi pihak manapun di Indonesia, termasuk bagi pengusaha perkebunan di kota Medan, untuk membangun kolaborasi agar produk perkebunan yang dihasilkan mampu menyasar dengan tepat pasar dalam dan luar negeri.