Produksi Karet Indonesia dan Malaysia Semakin Menurun

Produksi Karet Indonesia dan Malaysia Semakin Menurun

Yogyakarta, Mediaperkebunan.id – Hal yang harus menjadi perhatian dalam perkaretan adalah 2 produsen karet yaitu Malaysia dan Indonesia produksinya semakin menurun. Prof Dato Ahmad Ibrahim dari Tan Sri Omar Centre for STI Policy IISDS, UCSI Univeristy, fellow IRRDB, menyatakan hal ini. Harga rendah dalam waktu lama menjadi penyebabnya. Kurangnya buruh sadap membuat pengutipan lateks berkurang.

Perusahaan perkebunan besar tidak tertarik lagi pada karet, kebun karet yang sudah ada dikonversi. Kondisi ini membuat petani menjadi dominan dengan tantangan utamanya adalah adopsi teknologi.

Dengan produksi yang semakin rendah membuat industri crumb rubber beroperasi dibawah kapasitasnya. Industri pengguna crumb rubber akibatnya mengandalkan pasokan dari impor.

Padahal karet alam adalah produk yang tidak tergantikan untuk berbagai jenis industri, 70% dikonsumsi pabrik ban. Pekebun merupakan produsen utama. Perusahaan perkebunan menghindari menanam karet karena perlu tenaga kerja banyak, terutama untuk menyadap. Penyadapan otomatis masih menjadi tantangan. Harga karet merupakan kunci utama untuk investasi kebun baru, fluktuasi harga adalah hal menjadi perhatian utama.

Perubahan iklim merupakan risiko utama berkebun karet. Kebun karet sering berada di lahan marginal, seperti defisit air, rawan erosi, dan rusak karena angin. Areal ini kurang produktif dan tidak sustainable pada jangka panjang. Harga karet juga sangat fluktuatif, tergantung pada banyak faktor seperti suply demand, situasi ekonomi global dan cuaca.

Tantangan yang dihadapi industri karet meliputi seluruh rantai pasoknya, mulai dari harga rendah, kekurangan tenaga kerja, kualitas menurun, outbreak penyakit dan naiknya biaya produksi. Produksi karet dapat menimbulkan dampak sosial yang buruk, rantai pasok yang tidak transparan bisa berisiko terhadap deforestasi dan keanekaragaman hayati.

Peluang karet adalah permintaan diperkirakan akan tumbuh 5,4%/tahun, tahun 2023-2033, sebab banyak digunakan pada berbagai industri seperti otomotif, konstruksi, tekstil dan farmasi. Karet alam dan menggantikan penggunaan karet sistetis yang berasal dari minyak bumi sehingga berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim.

Karet dapat ditanam secara agroforestry bersama tanaman lain sehingga meningkatkan keanekaragaman hayati dan tutupan tanaman. Semakin meningkatnya penggunaan mobil listrik akan meningkatkan permintaan karet alam, sebab mikroplastik menjadi isu utama disain ban.

Karet memberikan pendapatan USD300 miliar pertahun kepada 40 juta orang. Karet mampu mengurangi kemiskinan secara inklusif. Negara-negara produsen karet dapat berbagai hasil riset dan teknologi terbaru. Jika digunakan untuk biofuel dan jalan maka penggunaan karet akan semakin meningkat.

Upaya untuk mengatasi perubahan iklim adalah dengan pemuliaan membuat tanaman tahan penyakit dan produksi tinggi. Fluktuasi harga diatasi dengan mengurangi ketergantungan pada industri ban misalnya biofuel karet dan jalan sehingga permintaan meningkat.

Tekanan pasar untuk sustainabililty adalah mengadopsi standar internasional dan ketelusuran, beberapa standar dapat dijadikan sebagai promosi karet dan positioning. Sedang menghadi kelangkaan teraga kerja dengan teknologi baru yang mampu mengurangi tenaga kerja yang dibutuhkan.

Produksi karet tahun 2022 mencapai 14 juta ton. Triwulan pertama 2024 produksi karet mencapai 6,5 juta ton, turun 2,8% dibanding periode yang sama 2023. Padahal konsumsi karet kuartal 1 2024 7,01 juta ton atau naik 0,4% dibanding periode yang sama 2023.

Asean memproduksi 85% produksi karet dunia, sedang Afrika 11%. Tiga produsen utama karet adalah Thailand, Indonesia dan Vietnam. Konsumen karet terbesar adalah China, tahun 2022 konsumsinya mencapai 5,7 juta ton, disusul India dan Amerika Serikat. Karet dapat ditanam secara agroforestry bersama tanaman lain sehingga meningkatkan keanekaragaman hayati dan tutupan tanaman.

Semakin meningkatnya penggunaan mobil listrik akan meningkatkan permintaan karet alam, sebab mikroplastik menjadi isu utama disain ban. Karet memberikan pendapatan USD300 miliar pertahun kepada 40 juta orang. Karet mampu mengurangi kemiskinan secara inklusif. Negara-negara produsen karet dapat berbagai hasil riset dan teknologi terbaru. Jika digunakan untuk biofuel dan jalan maka penggunaan karet akan semakin meningkat.