Pertanian Regeneratif Pada Kebun Sawit Rakyat Tingkatkan Karbon Organik Tanah

Pertanian Regeneratif Pada Kebun Sawit Rakyat Tingkatkan Karbon Organik Tanah

Bogor, mediaperkebunan.id – Studi yang dilakukan Yanto Rochmayanto, E Panca Pramudya dan Donny Wicaksono tentang pertanian regeneratif ( PR) oleh petani sawit rakyat menunjukkan peningkatan adopsi teknologi, edukasi dan pelatihan teknik pertanian regeneratif termasuk manfaatnya bagi produktivitas tanah dan kelapa sawit sehingga perlu diberikan secara intensif dan rutin dengan menggunakan media yang inovatif.

Hal ini disampaikan pada Workshop dan Sosialisasi Hasil Studi dan Kajian “Bagaimana Petani Swadaya Kelapa Sawit Memimpin Produksi Rendah Emisi Melaui Konservasi Hutan dan Praktik Pertanian Regeneratif “ yang diselenggarakan Fortasbi (Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia).

Dilakukan kajian pada petani yang melakukan pertanian regeneratif dibandingkan dengan yang tidak di Desa Bandar Rejo, Kabupaten Simalungun, Sumut yang menggunakan kompos dan di Desa Mekarsari, Kabupaten Tebo, Jambi yang menggunakan kotoran hewan dan tankos. 

Di Sumut komposnya adalah 40% kotoran sapi, 30% abu boiler, 30% limbah padat, 5 kg setiap pohon, tetap menggunakan NPK 3 kg/pohon/6 bulan, mulsa daun sawit, tidak menggunakan pestisida termasuk herbisida. Di Jambi tankos dan kohe 56 ton/ha dan setiap 2 bulan diberi NPK.

KOT (Karbon Organik Tanah) di PR lebih tinggi daripada kimia murni, naik 6,3% di Sumut dan 2,09% di Jambi. Secara umum, petani kelapa sawit belum sepenuhnya memahami pentingnya dan manfaat PA terhadap tanah, serta implikasinya terhadap kesehatan dan pertumbuhan kelapa sawit.

Petani telah menerapkan PR, mempromosikannya menuju sustainability baru. Pendekatannya lebih pada perbaikan ekologis daripada sekedar mempertahankan tingkat produksi. Pengetahuan dan kesadaran PR untuk keberlanjutan tanah telah menjadi arus utama petani meskipun terdistribusi secara merata. Sudah menghasilkan dampak positif bagi pengembangan perkebunan sawit rakyat yang lebih berkelanjutan.

Tankos dan kohe merupakan sumber daya nutrisi organik yang signifikan, ketika dikembalikan ke kebun dapat menggantikan sebagian pupuk kimia dan meningkatkan stok KOT. Study Corley dan Tinker menunjukkan bahwa aplikasi tankos secara sistematis dapat meningkatkan kandungan bahan organik tanah 20-40% selama 5 tahun meskipun efeknya sangat spesifik menurut lokasi dan manajemen. Penerapannya PR pada sawit dapat memberikan akumulasi terhadap bahan organik tanah, tetapi mengubahnya sangat menantang.

Penggunaan pupuk kimia yang sangat lama mempengaruhi efektivitas perlakuan organik. Pupuk organik dapat meningkatkan KOT dan produksi tetapi manfaatnya bersifat spesifik lokasi dan bergantung pada aplikasi yang tepat. Efektivitas peningkatan KOT tergantung pada faktor-faktor seperti jenis tanah, umur perkebunan dan intensitas pengelolaan. 

Meskipun KOT hanya meningkat 2-6% sudah menunjukkan kontribusi positif terhadap upaya mitigasi iklim. Peningkatan 1,35-2,35 ton KOT/ha berkontribusi terhadap  terhadap pengurangan emisi 4,92 – hingga 8,62 ton CO2/ha  dibanding tanpa PR. Jika diterapkan pada areal luas perkebunan maka akan, pengurangan emisi akan signifikan.

Saat ini program pengurangan emisi pertanian oleh pemerintah masih fokus pada peternakan dan sawah, belum menyasar perkebunan. Hambatan signifikan  adalah kerbatasan modal, teknologi dan pengetahuan.  Perlu peningkatan adopsi teknologi melalui peningkatan kesadaran dan transfer pengetahuan.

Perlu biaya tambahan bagi petani yang akan menerapkan PR sehingga perlu akses kredit. Subsidi dan bantuan selalu pupuk kimia sedang  pupuk organik kurang. Skema sertifikasi seperti ISPO tentang efisiensi penggunaan sumber daya bisa digunakan untuk meningkatkan PR.