Jakarta, mediaperkebunan.id – Pemerintah menargetkan penghematan devisa sebagai dampak dari pelaksanaan program mandatori biodiesel 40 (B40) pada tahun 2025 ini lebih tinggi sebanyak Rp 23,22 triliun dibanding tahun 2024.
Target tersebut berdasarkan paparan resmi dari Eniya Listiani Dewi selaku Direktur Jenderal (Dirjen) Energi Baru, Terbarukan, dan Konversi Energi (EBTKE) pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), seperti dikutip mediaperkebunan.id, Minggu (16/3/2025).
Eniya Listiani Dewi mengatakan, pemerintah menargetkan penghematan devisa dari program B40 mencapai USD 9,33 miliar atau Rp 147,5 triliun, sementara melalui program B35 pada 2024 mencapai
USD 7,86 miliar atau Rp 124,28 triliun.
Dengan demikian, berdasarkan paparan Eniya Listiani Dewi, maka diketahui kalau antara penghematan devisa program biodiesel antara tahun 2025 dan 2024 tercipta selisih sebesar Rp 23,22 triliun.
Dia kemudian menguraikan, dalam pelaksanaan program B35 di tahun 2024 berhasil mendistribusikan biodiesel ke seluruh Indonesia dengan volume mencapai 13,15 juta kiloliter (KL), atau 98 persen dari total alokasi sebesar 13,4 juta KL.
Di samping itu, Eniya Listiani Dewi mengklaim bahwa program B35 mampu meningkatkan nilai tambah minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) menjadi biodiesel sebesar Rp 17,68 triliun.
“Di samping itu, terjadi penyerapan tenaga kerja lebih dari 12 ribu orang yang bekerja di luar perkebunan atau off-farm, dan 1,6 juta orang yang bekerja di lingkungan perkebunan kelapa sawit atau on-farm,” ucap Eniya Listiani Dewi lagi.
Di samping itu, Eniya Listiani Dewi mengatakan bahwa pelaksanaan program B35 telah mampu menciptakan pengurangan emisi sebesar 34,93 juta ton CO2e.
Untuk pelaksanaan Program Mandatori B40 di tahun 2025 ini, Eniya Listiani Dewi mengatakan pemerintah menetapkan total alokasi biodiesel sebesar 15,6 juta KL.
“Jumlah itu dibagi dua, yaitu terdiri dari 7,55 juta KL untuk kewajiban pelayanan masyarakat umum atau public service obligation (PSO) dan 8,07 juta KL untuk non-PSO,” ungkap Eniya Listiani Dewi.
Program ini, katanya menambahkan, didukung oleh 24 badan usaha (BU) bahan bakar nabati (BBN) yang akan menyalurkan biodiesel, 2 BU bahan baka4 minyak (BBM) yang akan mendistribusikan B40 untuk PSO dan non-PSO.
“Serta 28 BU BBM yang akan menyalurkan B40 khusus untuk non-PSO,” demikian paparan Eniya Listiani Dewi.
Dengan total alokasi penyaluran biodiesel sebesar 15,6 juta kL, Eniya Listiani Dewi, bilang program mandatori B40 pada tahun 2025 diperkirakan akan meningkatkan nilai tambah CPO menjadi biodiesel sebesar Rp 20,90 triliun.
“Kemudian, diperkirakan tercipta penyerapan tenaga kerja lebih dari 14 ribu orang atau off-farm, dan 1,95 juta orang atau on-farm, serta tercipta pengurangan emisi sebesar 41,46 juta ton CO2e,” tegas Eniya Listiani Dewi selaku Dirjen EBTKE pada Kementerian ESDM.