Naik Tipis, Ini yang Membuat Harga Kakao Dunia Kembali Menguat

Naik Tipis, Ini yang Membuat Harga Kakao Dunia Kembali Menguat

Jakarta, mediaperkebunan.id – Dilansir dari Barchart.com, harga kakao dunia mengalami kenaikan tipis pada akhir pekan lalu . Kontrak kakao ICE New York Desember (CCZ25) ditutup naik +72 poin (+0,97%), sementara kontrak kakao ICE London Desember #7 (CAZ25) menguat +5 poin (+0,10%) pada perdagangan Jumat (5/9).

Kenaikan ini terjadi setelah sehari sebelumnya harga kakao anjlok tajam. Kakao London bahkan sempat menyentuh level terendah selama enam minggu, dipicu pernyataan produsen cokelat Mondelez International yang optimistis terhadap panen kakao di Afrika Barat. Mondelez menilai jumlah buah kakao di kawasan tersebut 7% di atas rata-rata lima tahun dan jauh lebih tinggi dari tahun lalu.

Penguatan harga kakao pada Jumat lebih dipengaruhi aksi short-covering dan pelemahan indeks dolar AS, yang membuat harga komoditas lebih menarik bagi investor. Namun, penguatan ini dinilai hanya koreksi setelah tren penurunan yang berlangsung selama tiga minggu.

Kekhawatiran lemahnya permintaan cokelat juga masih membayangi. Produsen besar seperti Lindt & Sprüngli AG hingga Barry Callebaut AG telah memangkas proyeksi penjualan akibat tingginya harga bahan baku. Barry Callebaut bahkan melaporkan penurunan volume penjualan -9,5% pada periode Maret–Mei, penurunan kuartalan terbesar dalam satu dekade.

Di sisi lain, faktor pasokan tetap menjadi penahan penurunan harga lebih dalam. Persediaan kakao yang dipantau ICE di pelabuhan AS turun ke level terendah dalam hampir empat bulan, hanya 2,14 juta karung.

Kondisi cuaca di Afrika Barat juga ikut menjadi perhatian. Laporan Commodity Weather Group menyebut 60 hari terakhir merupakan periode terkering sejak 1979, yang berisiko mengurangi hasil panen di Pantai Gading dan Ghana. Penyakit pod hitam juga dilaporkan meluas di Ghana dan Nigeria.

Panen tengah di Pantai Gading diperkirakan turun 9% menjadi 400.000 ton akibat hujan yang datang terlambat. Nigeria, produsen terbesar kelima dunia, juga diprediksi mengalami penurunan produksi 11% pada musim 2025/26.

Meski pasokan ketat, lemahnya permintaan cokelat menjadi tekanan utama. Data menunjukkan penggilingan kakao kuartal II turun di hampir semua kawasan yakni sebanyak -7,2% di Eropa, -16,3% di Asia, dan -2,8% di Amerika Utara.

Organisasi Kakao Internasional (ICCO) memperkirakan defisit kakao global 2023/24 mencapai 494.000 ton, yang menjadi defisit terbesar dalam lebih dari 60 tahun. Namun, pada musim 2024/25 ICCO memprediksi adanya surplus 142.000 ton seiring peningkatan produksi, termasuk di Ghana yang menargetkan kenaikan 8,3% menjadi 650.000 ton.

Dengan kondisi ini, harga kakao ke depan akan ditentukan oleh keseimbangan antara cuaca di Afrika Barat dan pemulihan konsumsi cokelat dunia.