Misteri di Balik Menurunnya NTP Perkebunan Rakyat Sumut pada Februari 2025

Misteri di Balik Menurunnya NTP Perkebunan Rakyat Sumut pada Februari 2025

Medan, mediaperkebunan.id – Meski telah diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) di awal Maret lalu, tetapi masih menjadi misteri dan mengundang pertanyaan mengapa nilai tukar petani (NTP), termasuk NTP Perkebunan rakyat atau sering disingkat NTPR, mengalami penurunan pada periode Februari 2025.

“Kalau kita lihat, harga CPO di pasar global dan domestik pada Februari justru terpantau sedikit membaik bila dibandingkan dengan Januari,” ucap pengamat ekonomi asal kota Medan, Gunawan Benjamin, kepada mediaperkebuban.id, Jumat (7/3/2025).

“Menurut saya, situasi di atas semestinya tidak menjadi pemicu melemahnya NTPR, karena saat harga CPO naik biasanya mendongkrak harga pembelian tandan buah segar (TBS) produksi para petani sawit itu sendiri,” tutur Gunawan Benjamin lebih lanjut.

Di samping itu, sambung pengajar di sejumlah kampus ternama di ibukota Provinsi Sumut tersebut, harga bahan olahan karet rakyat (BOKAR) di Sumut juga terpantau stabil naik selama Februari dibandingkan Januari.

Sebelum dilanjutkan, perlu diingatkan kalau berdasarkan hasil survei BPS Sumut, NTP perkebunan Februari 2025 turun tipis menjadi 144.96 dari posisi Januari yang masih berada di angka 144.99. NTP Sumut turun 0.02 persen sejalan dengan deflasi yang terjadi di Sumut sebesar 0.63 persen pada Januari. Gunawan Benjamin mencatat bahwa walaupun minus, namun tidak semua sub sektor pertanian mengalami penurunan.

Untuk NTP sub sektor tanaman pangan justru naik 1.16 persen di level 100.40 pada Februari. Musim panen padi yang terjadi di wilayah Sumut pada Februari tidak memicu terjadinya penurunan harga gabah secara signifikan. “Dari hasil pemantauan di lapangan, harga gabah yang dijaga di level $p 6.500 per Kg terbukti mampu membuat NTP tanaman pangan membaik,” lanjut Gunawan Benjamin.

Namun sayangnya, ia melihat sejumlah sub sektor pertanian lain mengalami koreksi, seperti tanaman hortikultura yang mengalami penurunan NTP sebesar 0.8 persen di level 92.81. Di samping itu, ia melihat penurunan harga cabai dan jeruk mendorong penurunan NTP hortikultura. Dari hasil pengamatan di lapangan, kentang, tomat dan daun sop pre cukup bagus harganya bagi petani.

Demikian juga untuk tanaman perkebunan rakyat yang alami penurunan NTP. Terjadi penurunan sebesar 0.27 persen di level 93.78 pada Februari 2025.

“Disusul kemudian NTP peternakan yang turut mengalami penurunan 0.72 persen di level 93.78,” tutur Gunawan Benjamin menambahkan.Ditambah lagi dengan pelemahan mata uang Rupiah. Jika dibaca dari indeks harga yang diterima petani juga terpantau mengalami penurunan pada Februari.

“Sehingga penurunan NTPR bisa dipicu oleh kemungkinan penurunan pada komoditas perkebunan lainnya, atau juga dipicu harga jual di level petani yang justru mengalami penurunan,” kata Gunawan Benjamin.

Dan untuk NTP peternakan yang turun, Gunawan menilai hal itu pada dasarnya memang terjadi penurunan pada komoditas daging ayam yang mencerminkan penurunan NTP itu sendiri. “Secara keseluruhan NTP petani yang turun menggambarkan realita deflasi yang alami penurunan. Bisa disimpulkan daya beli petani alami pelemahan, di tengah deflasi yang terjadi pada Februari 2025,” tegas Gunawan Benjamin.