Jakarta, Mediaperkebunan.id
Indonesia saat ini masih menjadi importir gula terbesar di dunia. Industri gula berbasis tebu Indonesia sama sekali tidak diperhitungkan di dunia. “Beberapa tahun lalu saya pernah dibully karena mengatakan Indonesia bisa swasembada gula dari limbah sawit, Bahkan di IPB sendiri banyak yang tidak percaya. Video saya tentang itu disebar ke mana-mana dengan tambahan narasi yang membully. Sekarang saya berdiri sendiri membawa produk gula dari limbah sawit bermutu tinggi dan dikemas sangat baik,” kata Rektor IPB University, Arif Satria pada National Sugar Summit 2023.
Gula yang berasal dari tebu adalah generasi pertama, yang berasal dari tanaman sejenis tebu dan palma adalah generasi kedua, dari limbah sawit adalah generasi ketiga “Saya sudah sampaikan ini pada Presiden Jokowi. Jangan selalu berpikir swasembada gula dari tebu. Kita punya 16 juta ha sawit yang limbahnya bisa dimanfaatkan. Prosesnya tidak mudah dan menggunakan teknologi canggih, IPB punya teknologinya,” kata Arif lagi.
Karena itu IPB University siap mendampingi Food.id atau siapa saja yang berminat mengembangkan gula dari limbah sawit. Selama ini untuk membut gula dari limbah , proses pemisahan xilosa dari limbah berbiaya tinggi sehingga kelayakan produknya rendah. Proses kimia dengan suhu dan tekanan tinggi biayanya juga tinggi. Proses biologis dengan yeast , pertumbuhan pada xylosa lambat. Penggunana bakteri pendegradasi xylosa bersifat patogen.
IPB University punya teknologi plant growth promoting bacteria buah stroberi dapat mengasimiliasi xilosa untuk akumulasi xylitol yang tidak bersifat patogen. Dengan isolat buah stroberi ini maka proses pemisahan xylosa dari limbah menjadi layak secara ekonomi.
Impor gula Indonesia semakin tinggi karena industri pangan semakin berkembang, bahkan mencapai revolusi dengan gula menjadi salah satu komponen pentingnya. Tahun 1980-1982 ketika industri pangan belum berkembang produksi dan konsumsi masih seimbang, tetapi mulai tahun 1987 ketika industri makanan berkembang maka impor mulai masuk dan semakin besar setiap tahunnya.
Permasalahan swasembada gula adalah ketidaksembangan produksi dan konsumsi, kelembagaan, produktivitas meningkat tetapi belum bisa menekan volume impor gula, pabrik gula kesulitan bahan baku karena kurang tepatnya kebijakan impor, impor gula saat musim panen membuat harga tebu jatuh dan petani tidak berminat meneruskan usaha tani tebu, rantai pasok gula kurang efisien dan tidak transparan.
Masalah ketimpangan penguasaan lahan juga sangat serius untuk diatasi. Produktivitas perkebunan tebu rakyat harus ditingkatkan jadi 10 ton gula/ha disertai dengan perluasan lahan. Pola kemitraan antara pekebun dengan perusahaan harus dibangun atas dasar keadilan.
Sekarang tuntutannya bukan hanya untuk gula saja tetapi setiap komoditas, adalah meningkatkan produksi tetapi lingkungan tetap terjaga. “Ini seperti gas dan rem. Dulu gas terpisah yaitu peningkatan produksi ada di Kementerian Pertanian sedang rem menjaga lingkungan ada di KLHK dan keduanya sering konflik. Sekarang gas dan rem harus disatukan, rasionalitas ekonomi harus berjalan seiring dengan rasionalitas lingkungan,” kata Arif lagi.
Untuk meningkatkan daya saing industri gula maka penggunaan teknologi informasi mutlak. Pertanian tidak bisa diselesaikan oleh orang pertanian sendiri tetapi harus bersama dengan orang teknologi informasi. Karena itu IPB University akan membuat Fakultas Data Sains dan AI, juga Fakultas Teknis jurusan robotik, teknik mesin dan teknik elektro untuk memenuhi kebutuhan industri pertanian masa depan, termasuk industri gula.