HPI Agro Dukung Palm Oil Mill Innovation 2026, Dorong Lahirnya Talenta dan Budaya Inovasi Berkelanjutan di Industri PKS

HPI Agro Dukung Palm Oil Mill Innovation 2026, Dorong Lahirnya Talenta dan Budaya Inovasi Berkelanjutan di Industri PKS

Medan, mediaperkebunan.id – Kompetisi Palm Oil Mill Innovation (POMI) 2026 menjadi wadah bagi praktisi pabrik kelapa sawit (PKS) untuk menampilkan inovasi terbaik sekaligus membangun budaya continuous improvement di industri sawit nasional. Dukungan terhadap ajang ini datang dari berbagai perusahaan perkebunan, salah satunya HPI Agro, yang menilai POMI mampu mendorong lahirnya talenta-talenta unggul di sektor pengolahan kelapa sawit.

Deputy Managing Director HPI Agro, Hosea Dimas Siswanto mengatakan kompetisi seperti POMI memberikan ruang bagi para praktisi untuk terus berinovasi agar industri mampu menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

“Menurut saya sangat positif karena tentunya untuk kita bisa bertahan dan harus selalu bisa melakukan improvement. Jadi dengan adanya wadah POMI ini harapannya bisa memacu rekan-rekan palm oil mill khususnya untuk melakukan improvement lebih baik lagi ke depannya,” ujar Hosea saat diwawancarai Media Perkebunan pada hari Selasa (07/07/2026) di Medan.

Ia menambahkan, POMI tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana berbagi pengalaman antarperusahaan. Melalui pertukaran ide tersebut, berbagai inovasi yang telah berhasil diterapkan di satu perusahaan dapat direplikasi oleh perusahaan lain apabila sesuai dengan kondisi operasional masing-masing.

“Dengan adanya acara POMI ini kita bisa saling sharing dan jika improvement itu dirasa cocok bisa kita implementasi. Tentunya continuous improvement mindset ini menjadi pondasi untuk operational excellence karena kita harus selalu melakukan continuous improvement, walau sedikit-sedikit tapi kita bisa lebih baik,” katanya.

Menurut Hosea, pengembangan talenta menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan industri pengolahan kelapa sawit. Selain menyediakan wadah untuk menampilkan inovasi, perusahaan juga harus membangun sistem pembinaan bagi generasi penerus.

“Di HPI sendiri dengan sharing seperti ini bisa memotivasi tim untuk melakukan improvement. Selain itu kita juga perlu melakukan coaching dan mentoring karena banyak bibit-bibit muda yang harus kita dampingi atau assist supaya mereka bisa berkembang,” ujarnya.

Selama mengikuti sesi presentasi finalis POMI 2026, Hosea juga mengapresiasi berbagai inovasi yang dipresentasikan peserta dari sejumlah perusahaan. Salah satu yang menarik perhatiannya berasal dari SIPEF, yang dipimpin oleh satu-satunya project leader perempuan pada kompetisi tahun ini.

“Salah satunya metodologi yang dipakai oleh satu-satunya project leader wanita dari SIPEF yang sangat terstruktur, bagus, ada aspek ergonomi, PDCA, jadi banyak ide-ide improvement yang harus kita cek dan action sehingga improvement itu semakin sempurna,” ungkapnya.

Ketua Dewan Juri POMI 2026, Ir. Posma Sinurat, menjelaskan bahwa kompetisi ini lahir dari keprihatinan para praktisi senior yang melihat masih besarnya ruang peningkatan produktivitas di pabrik kelapa sawit Indonesia.

“Tujuan kompetisi Palm Oil Mill Innovation (POMI) 2026 adalah karena kita melihat, kami selaku praktisi yang sudah berpengalaman selama 32 tahun secara konsisten di industri ini, banyak gap yang perlu diisi. Lima puluh persen saja diisi maka peningkatan produktivitas di PKS masih begitu luar biasa. Potensi ini ada tapi belum digali secara maksimal khususnya bagi perusahaan menengah ke bawah,” ujar Posma.

Menurutnya, POMI tidak semata-mata mencari inovasi terbesar, tetapi mendorong agar budaya inovasi tumbuh secara konsisten di setiap perusahaan.

“Tujuan POMI yang paling penting adalah memberikan dorongan dan motivasi kepada seluruh praktisi, supaya jangan sampai berinovasi itu hanya sesekali atau sesaat lalu berhenti. Hampir di banyak perusahaan inovasi itu ada, tetapi ada yang terdokumentasi dengan baik, ada yang hanya sedikit terdokumentasi, bahkan ada yang tidak terdokumentasi sama sekali,” katanya.

Selama lebih dari satu dekade menjadi konsultan di berbagai perusahaan, Posma mengaku menemukan bahwa keberlanjutan inovasi masih menjadi tantangan utama di industri.

POMI 2026 menerapkan proses seleksi yang ketat untuk memastikan setiap inovasi dinilai secara objektif. Rangkaian seleksi dimulai sejak pengumpulan data peserta pada Januari 2026, yang kemudian dilanjutkan dengan seleksi administrasi hingga menghasilkan sembilan nominasi terbaik.

Kesembilan finalis tersebut kembali mengikuti presentasi dan penjurian akhir pada Selasa, 7 Juli 2026, di hadapan empat orang dewan juri yang merupakan praktisi profesional senior di bidang Pabrik Kelapa Sawit. Setiap peserta memaparkan latar belakang inovasi, metodologi, implementasi, hingga dampak yang dihasilkan di perusahaan masing-masing.

Posma menegaskan bahwa seluruh peserta yang berhasil mencapai babak final telah menunjukkan kualitas inovasi yang layak diapresiasi. Ia juga mengingatkan agar peserta tidak hanya berfokus pada hasil akhir berupa peringkat.

“Para peserta yang mengikuti presentasi jangan kecewa dengan urutan ranking, tetapi yang terpenting bagaimana proses itu sudah dilakukan, berpresentasi di depan senior-senior, dan diundang pada acara ini. Tetap akan mendapatkan penghargaan. Harapannya inovasi ini menjadi semakin kuat, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk tim di perusahaan masing-masing.”

Ke depan, Posma berharap semakin banyak perusahaan memberikan ruang kepada karyawannya untuk berinovasi dan berpartisipasi dalam POMI.

“Saya mendorong kepada top management perusahaan untuk berinovasi dan mengikutkan para staf supaya semakin berinovasi. Tahun depan kami akan buatkan panduan yang sangat jelas, ada tiga yaitu what, how, dan why. Tahun depan kita fokus pada what sehingga inovasi terlindungi secara internal perusahaan. Tetapi bagi peserta yang mendengarkan dan bisa melakukan seperti itu, jangan kecewa. Inilah pentingnya kita sharing sehingga pengetahuan kita terkontribusi bagi orang lain.”

Melalui kompetisi ini, POMI diharapkan terus menjadi ruang kolaborasi antarpraktisi sekaligus melahirkan talenta-talenta baru yang mampu menghadirkan inovasi berkelanjutan bagi peningkatan produktivitas, efisiensi, dan daya saing industri pabrik kelapa sawit Indonesia.