Jakarta, mediaperkebunan.id – Nilam (Pogostemon cablin) merupakan tanaman penghasil minyak atsiri yang memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar global khususnya untuk industri parfum, kosmetik, dan aromaterapi. Namun, memulai usaha nilam tidak sesederhana menanam dan menunggu panen. Diperlukan strategi, pemahaman ekosistem bisnis, serta kesiapan modal yang matang. Hal ini disampaikan oleh Zaenuddin dan Agung, dua praktisi yang telah berpengalaman dalam pengusahaan nilam dari hulu hingga hilir.
Menurut Zaenuddin, langkah pertama dalam memulai usaha nilam adalah menilai daya dukung wilayah. Apakah kondisi alam, iklim, dan tanah cocok untuk budidaya nilam. Selanjutnya, calon pelaku usaha harus menentukan orientasinya, apakah hanya bertani atau masuk ke industri penyulingan.
“Kalau hanya bertani, satu hektar cukup. Tapi kalau ingin masuk industri, harus ada skala usaha yang jelas. Kontinuitas bahan baku menjadi syarat utama,” ujar Zaenuddin. Ia menekankan bahwa perhitungan bisnis bukan hal pertama yang perlu dipikirkan, melainkan justru yang ketiga setelah kesiapan sumber daya alam dan arah usaha.
Ia memberikan gambaran skala usaha industri nilam dengan mencontohkan pengalamannya di sektor sereh wangi. “Kami punya 15 hektar dan menyuling setiap hari kapasitas 1 ton dengan sistem steam. Ini rutin selama lima tahun. Nah, nilam juga harus disiapkan seperti itu kalau ingin ke industri,” tambahnya.
Agung menjelaskan bahwa biaya buka lahan untuk nilam bisa sangat bervariasi, tergantung pada kondisi gulma dan teknik budidaya. Di wilayah seperti Sukabumi, pembukaan lahan bisa menghabiskan Rp6–8 juta per hektar jika gulma mencapai tinggi satu meter. Jika menggunakan sistem mulsa biayanya bisa melonjak hingga Rp50–70 juta per hektar.

Dalam budidaya nilam, pemilihan varietas menjadi salah satu faktor kunci yang menentukan kualitas dan kuantitas hasil minyak. Untuk lahan di dataran rendah, beberapa varietas unggul yang direkomendasikan antara lain Sidikalang, Lhokseumawe, Tapak Tuan serta varietas terbaru yaitu Patchoulina 1 dan Patchoulina 2.
Khusus untuk wilayah Pulau Jawa, varietas Sidikalang terbukti memberikan hasil yang cukup baik di kebun serta memiliki ketahanan terhadap penyakit yang lebih tinggi dibandingkan varietas lain. Uji coba yang telah dilakukan menunjukkan bahwa nilam bisa dibudidayakan dengan baik mulai dari ketinggian 70 meter hingga 1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Namun demikian, kondisi geografis sangat mempengaruhi karakteristik minyak yang dihasilkan. Semakin rendah datarannya, rendemen minyak cenderung lebih tinggi tetapi kadar senyawa patchouli alcohol (PA) akan lebih rendah. Sebaliknya, di dataran yang lebih tinggi, kandungan PA meningkat, namun rendemennya justru menurun. Meski begitu, hasil tersebut umumnya masih berada dalam batas standar SNI (Standar Nasional Indonesia).
Menurut standar SNI, kadar PA minimal berada di angka PA30 dengan kadar asam di bawah angka 6. Jika kadar asam melebihi ambang batas tersebut, maka minyak nilam perlu melalui proses lanjutan untuk menurunkan tingkat keasamannya. Hal ini penting, karena perbedaan kadar asam sangat mempengaruhi harga jual. Selisih harga antara minyak dengan asam sesuai standar dan yang tidak, bisa mencapai Rp200.000 per kilogram.
“Nilam dengan asam lebih dari 6 tidak memenuhi SNI dan harus ada proses lanjutan, ini tentu mempengaruhi harga jual,” jelas Agung.
Total biaya budidaya nilam satu hektar mencapai sekitar Rp52 juta, termasuk pembukaan lahan, pemupukan, perawatan, panen, hingga penyulingan. Namun, potensi pendapatannya cukup menjanjikan.
Sebagai contoh, dengan hasil panen kering sebanyak 2.500 kg dan rendemen 2%, dapat dihasilkan 50 kg minyak. Jika harga jual Rp750.000/kg, maka potensi pendapatan mencapai Rp37,5 juta. Pada skala lebih besar (misalnya hasil kering 10.000 kg dan rendemen 2,5%), maka bisa diperoleh 250 kg minyak dengan pendapatan hingga Rp187,5 juta.
Namun, fluktuasi harga minyak nilam di pasaran yang berkisar antara Rp550.000 – Rp950.000 per kg serta pengaruh iklim dan penyakit membuat sektor ini penuh tantangan. Oleh karena itu, kesiapan modal dan manajemen usaha menjadi kunci penting dalam menjaga kesinambungan bisnis.