DIRJENBUN MINTA PERUSAHAAN PERKEBUNAN SISIHKAN 1% KAPASITAS PEMBIBITAN UNTUK PEREMAJAAN KOMODITAS LAIN

DIRJENBUN MINTA PERUSAHAAN PERKEBUNAN SISIHKAN 1% KAPASITAS PEMBIBITAN UNTUK PEREMAJAAN KOMODITAS LAIN

Jakarta, Mediaperkebunan.id

Perkebunan Indonesia sudah dibangun sejak puluhan tahun lalu dan  merupakan komoditas ekspor. Ekspor pertanian (angka sementara) Desember 2022 Rp658,1 triliun, 94,6% berasal dari perkebunan atau Rp 622,36 triliun, naik 6,89% dibanding Desember 2021 Rp582,23 triliun. Ekspor 73% berasal dari kelapa sawit, 10% dari karet, 5% dari kelapa, 3% dari kopi, 3% dari kakao dan 6% komoditas lainnya.

“Dibalik  kenaikan ekspor majunya perkebunan ada fakta yang meyakitkan kalau tidak segera diantisipasi yaitu  30% tanaman perkebunan rusak/tidak produktif.  Misalnya kelapa hampir 400.000 ha yang harus diremajakan hari ini. Kebutuhan benih  46 juta batang. Kemampuan APBN hanya 2 juta batang/setahun sehingga kalau mengandalkan APBN butuh waktu puluhan tahun untuk peremajaan,” kata Dirjen Perkebunan Andi Nur Alam Syah.

Karena itu Dirjenbun minta perusahaan besar perkebuna kelapa sawit  untuk menyisihkan 1% dari kapasitas pembibitanya untuk komoditas lain yang akan dibagikan pada petani untuk peremajaan. Dasar hukumnya dari kewajiban 20% dari luas areal untuk membangun kebun masyarakat.

“Dengan cara ini perusahaan besar membantu yang lemah. Kapasitas 1% ini disumbangkan ke Bank Benih Perkebunan. Perusahaan bisa melakukan sendiri atau dikontrakkan pada penangkar mandiri,” kata Andi.

Peremajaan harus dilakukan karena kalau tidak maka peningkatan produksi hanya akan jadi mimpi saja. Indonesia pernah berjaya menjadi produsen kakao dan lada nomor satu tetapi sekarang tidak lagi. Andi tidak ingin hal ini terjadi pada komoditas lain terutama sawit.

Pesisir Utara dan Selatan Sulsel akan ditanami kelapa sehingga menjadi negeri nyiur melambai kembali. Demikian juga Sulsel sebagai sentra kakao. Program pengembangan kelapa di Solo Raya disambut antusias karena akses masyarakat kepada benih ungguk kelapa dibuka. Perusahaan yang berpartisipasi dalam penanaman 1 juta ha kelapa sudah berkontribusi terhadap upaya mengurangi dampak perubahan iklim.

Data Dirjenbun, tanaman kelapa sawit yang rusak  662. 324 ha dengan kebutuhan benih 94,17 juta batang dan biaya untuk benih saja Rp3,78 triliun. Dana tidak ada masalah karena ada program PSR sehingga pemerintah tahun ini mentargetkan 180.000 ha harus  tercapai.

Kelapa  tanaman rusak 385.921 ha, kebutuhan benih 46,31 juta batang, kebutuhan pembiayaan benih Rp2,77 triliun. Karet tanaman rusak  226.466 ha, kebutuhan benih 113,23 juta batang, pembiayaan benih Rp1,35 triliun. Kopi  tanaman rusak 120.758 batang, kebutuhan benih 193, 21 juta batang, pembiayaan benih Rp2,704 triliun.

Kakao tanaman rusak  275.730 ha kebutuhan benih 303,302 juta batang, pembiayaan benih Rp4,094 triliun. Teh  tanaman rusak 17.462 ha, kebutuhan benih 210,024 juta batang, pembiayaan benih Rp1,365 triliun.  Jambu mete tanaman rusak  75.493 ha, kebutuhan benih 7,549 juta batang, pembiayan benih Rp64,17 miliar. Sagu tanaman rusak 11.003 ha, kebutuhan benih 1,1 juta. Pembiayaan  benih Rp33,01 miliar.