Bandung, mediaperkebunan.id – Kesulitan utama mencari cara mengendalikan Ganoderma menurut Setiari Marwanto, Kepala Pusat Penelitian Perkebunan, Organisasi Riset Pertanian, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) adalah saat ini mekanisme molekuler enzimatik yang digunakan oleh Ganoderma untuk menginfeksi kelapa sawit masih belum diketahui dengan baik. Hal ini disampaikan pada 2nd ISGANO yang diselenggarakan Media Perkebunan bekerjasama dengan P3PI beberapa waktu lalu di Bandung.
Teknologi deteksi dini implementasinya di lapangan masih mahal dan terbatas pada skala penelitian atau perusahaan besar. Teknologi agen hayati pengaruhnya masih belum stabil akibat kompleksitas faktor lingkungan, kondisi tanah dan metode aplikasi.
Program pemuliaan terkendala oleh siklus hidup kelapa sawit yang panjang sehingga sulit mengevaluasi ketahanan secara cepat. Diversitas genetik kelapa sawit untuk ketahanan terhadap Ganoderma masih perlu dieksplorasi pada wilayah sumber plasma nutfah.
Untuk mengatasi Ganoderma, BRIN melakukan riset pemuliaan sawit tahan Ganoderma. Kegiatan tahun 2024 lalu bekerjasama dengan PT Bumitama Gunajaya Agro adalah adalah ekplorasi dan keragaman Ganoderma sp yang ada di Indonesia, dengan penekanan pada eksplorasi, isolasi dan optimasi karakterisasi morfologi dan molekuler jamur Ganoderma Sp.
Hasilnya adalah satu set koleksi isolat jamur Ganoderma sp hasil eksplorasi dari 7 provinsi di Sumatera dan Jawa Barat. Satu paket metode karakterisasi morfologi dan molekuler untuk mengidentikasi jamur Ganoderma sp hasil eksplorasi. Terdapat 15 koleksi dari Lampung, 4 koleksi dari Kalimantan Tengah dan 39 koleksi dari Sumatera Selatan dan sedang dilakukan analisis molekuler.
Tahun 2025 direncanakan uji virulensi strain Ganoderma dan penyiapan bahan tanaman. Uji patogenitas dan perbanyakan bahan tanaman. Outputnya diharapkan satu set data virulensi strain Ganoderma yang diperoleh dan bahan tanaman yang akan digunakan untuk uji ketahanan secara ex vitro dan in vitro.
Tahun 2026 seleksi in vitro dan ex vitro nomor–nomor plasma nutfah kelapa sawit tahan terhadap Ganoderma sp. Output yang diharapkan satu set data tingkat ketahanan terhadap jamur Ganoderma dan koleksi plasma nutfah kelapa sawit hasil seleksi in vitro dan ex vitro.
Tahun 2027 pemuliaan kelapa sawit toleran Ganoderma dengan menggunakan metode Genome Wide Association Study (GWAS). Output yang diharapkan informasi karakter fenotipik dari nomor-nomor kelapa sawit yang resisten dan peka terhadap penyakit busuk pangkal batang.
Kandidat gen tahan terhadap penyakit BPB yang berasosiasi dengan karakter unggul metode GWAS. Tahun 2028 seleksi galur-galur tahan ganoderma dan output yang diharapkan sati-tiga galur harapan yang tahan terhadap penyakit BPB.Riset kerjasama lain adalah optimisasi simbiosis mikoriza dengan hairy roots; strategi bioproteksi benih kelapa sawit secara in vitro.
“Semua rencana kita bisa berjalan bila ada kerjasama dengan perusahaan perkebunan sawit. Kita masih terus mencari mitra supaya pada akhirnya dapat dihasilkan tanaman sawit yang benar-benar tahan Ganoderma,” katanya.