Jakarta, mediaperkebunan.id – Masalah yang dihadapi industri karet adalah fluktuasi harga yang sudah lama terjadi dan cenderung rendah, perubahan iklim dan cuaca ekstrim akibat El Nino La Nina, ketersediaan benih untuk penanaman di wilayah terpecil , sedikit sekali pengembangan produk jadi (seal mesin, alas kaki, paving blok dan lain-lain.
Prof (riset) Didiek Hadjar Goenadi, peneliti PPKS Bogor, PT Riset Perkebunan Nusantara; Ketua Umum Asosiasi Inventor Indonesia; Anggota Komite Ahli IRRDB (International Rubber Research and Development Board) menyatakan hal ini.
Sedang dari sisi produksi masalahnya adalah penyakit gugur daun akibat Pestalotiopsis yang mengakibatkan produksi turun sampai 40% dan belum ada cara pengendalian yang paling efektif; tanaman tua dan tidak produktif belum diremajakan dalam program yang terencana dan berkesinambungan; harga global yang selalu rendah dalam jangka lama membuat terjadinya konversi lahan, kebun tidak produktif, manajemen kebun jelek, dan penyadapan berkurang.
Ada beberapa produk jadi yang mampu menyerap karet alam kalau industrinya dikembangkan di Indonesia yaitu aspal karet menyerap 122.000 ton karet/tahun; bantalan jembatan 9.000 ton/tahun, bantalan rel kereta api 2,5 ton/tahun, dock fender 3.000 ton/tahun; bendung karet 200 ton/tahun, pintu air karet 1000 ton/tahun, kanal bloking karet 3.900 ton/tahun; ban mobil dan motor 253.000 ton/tahun; ban vulkanisir 92.000 ton/tahun; coveyor belt 25.000 ton/tahun; sarung tangan karet 10.500 ton/tahun; konblok karet 200.000 ton/tahun; matras karet untuk kandang sapi 343 ton/tahun; seal karet untuk tabung gas elpiji 845 ton/tahun; pita karet 6.500 ton/tahun. Total karet yang bisa diserap industri ini adalah 717.000 ton/tahun.
Di Eropa, ban bekas dengan proses thermopirolisis, diproses kembali menjadi carbon black yang digunakan kembali untuk industri ban, minyak yang digunakan untuk bahan bakar boiler, gas untuk pembangkit listrik, baja yang digunakan untuk produk lain dan debu untuk campuran bata. Biofuel dari karet adalah masa depan untuk industri karet apalagi ditengah harga CPO yang melambung tinggi.
Karet dengan dengan teknologi crakcing katalis yang sudah biasa digunakan pada industri petrokimia dan sudah biasa digunakan untuk memproduksi biohidrokarbon dari minyak sawit. Karet dicraking dengan suhu 350-500 0 dengan tekanan atmosifr menggunakan katalis diubah jadi biohidrokarbon menjadi elpiji, bensin dan solar.
Biji karet juga dapat digunakan sebagai biodiesel. Tanaman yang berumur 10 tahun mampu menghasilkan 5 juta ton biji. Kernelnya mencapai 53% dari berat biji. Kandungan minyak 56% dari kernel. Biodiesel yang dihasilkan memenuhi standar nasional dan ASTM. Potensi biodiesel mencapai 4,5 juta ton/tahun, minyak biji karet juga bisa digunakan untuk SAF (Sustainable Aviation Fuel).
Karet juga sangat potensial untuk perdagangan karbon, dengan kemampuan menyerap karbondioksida dalam proses fotosintesis, sehingga mengurangi karbon di atmosfir dan menyimpannya dalam jarigan tanaman dalam beberapa dekade berupa biomasa. Penyimpanan karbon di kebun karet ada di atas permukaan tanah, di bawah tanah dan bahan organik dari tanaman.
Penyimpanan karbon potensial pada perkebunan karet yang ditanam pada hutan yang terdegradasi atau lahan pertanian. Lahan yang sudah jadi ilalang adalah masalah dan merubah jadi kebun karet dapat menyimpan karbon dan dapat digunakan untuk menghasilkan devisa.
Di Xishuangbanna, Cina Baratdaya, mengubah kebun karet menjadi mendekati hutan, dengan luas lahan 198.490 ha dengan total pembayaran USD0,377 juta NPV tahun 2050. Total C yang tersimpan 14,83 juta ton selama periode model.
Tahun 2016 di Thailand 2,95 juta ha kebun karet dengan produksi 4,342 juta ton karet diperkirakan menyimpan 108 juta ton karbondioksida, karbon yang tersimpan dalam lateks mencapai 24,9 kg. Dengan posisi seperti ini bisa juga dijadikan strategi pasar untuk meningkatkan daya saing karet alam.
Perdagangan karbon dapat menjadi pendapatan tambahan dari petani karet yang menurut kajian Rubber Authority of Thailand, rata-rata 100-3.000 bath (sekitar USD 2,73 – 81,8 tiap ton setara karbon. Malaysia sudah mencanangkan ekonomi sirkuler pada juga Indonesia pada pembangunan jangka menengah-panjang (2020-2024).